Seni Pertunjukan
Seni Pertunjukan
Pagelaran Seni Aceh Aceh
Didong
- 30 April 2015

TEMBANG-TEMBANG MERDU, RIBUAN BAIT SYAIR LAHIR DARI KESENIAN DIDONG

Pada ujung utara rangkaian Bukit Barisan di Pulau Sumatera, terletak dataran tinggi Gayo yang merupakan tempat orang Gayo bermukim. Di tempat ini mereka terbagi dalam beberapa kelompok yang disebut dengan orang Gayo Lut, orang Gayo Deret, orang Gayo Lues dan sebagainya. Dari orang Gayo ini muncul kesenian yang dikenal dengan nama kesenian saman. Salah satu kesenian rakyat lainnya adalah Didong, suatu bentuk kesenian yang luwes menyesuaikan diri dengan jaman dan lingkungan.

Sejak kapan kesenian Didong ini dikenal, hingga kini belum diketahui dengan pasti, demikian pula arti kata Didong yang sesungguhnya. Ada orang yang berpendapat bahwa kata "didong" mendekati pengertian kata "dendang" yang artinya" nyanyian sambil bekerja atau untuk menghibur hati atau bersama-sama dengan bunyi-bunyian". Dalam bahasa Gayo dikenal dengan kata "denang" atau "donang" yang artinya mirip dengan hal tersebut.

Menurut legenda Gajah Putih yang dikenal di Gayo atau di Aceh pada umumnya, dikatakan untuk membangkitkan gajah yang enggan bangun dari pembaringannya dilakukan dengan cara berdendang yaitu dengan Didong. Akhirnya Didong menjadi sarana untuk menyalurkan perasaan, pikiran, keinginan dari seseorang kepada pihak lain dalam bentuk kesenian.

Kesenian Didong terwujud dari perpaduan beberapa unsur seni yaitu seni sastra, seni suara dan seni tari. Kesenian ini dapat berjalan searah dengan kebutuhan jaman. Pada suatu periode di masa lalu sering diselenggarakan pertandingan Didong yang berlangsung dengan nyanyian berteka-teki. Tema dari nyanyian teka-teki tersebut sesuai dengan keperluan, misalnya dalam upacara perkawinan, upacara mendirikan rumah, upacara makan bersama setelah panen dan sebagainya.

Grup kesenian didong biasanya terdiri dari para "Ceh" dan anggota lainnya yang disebut dengan "Penunung". Ceh adalah orang yang dituntut memiliki bakat yang komplit dan mempunyai kreativitas yang tinggi. Ia harus mampu menciptakan puisi-puisi dan mampu menyanyi, yang tentunya harus mempunyai suara bagus. Penguasaan terhadap lagu-lagu juga diperlukan karena satu lagu belum tentu cocok dengan karya sastra yang berbeda.

Pagelaran Didong ditandai dengan penampilan dua grup pada suatu arena pertandingan. Setiap grup biasanya terdiri dari kurang lebih 30 orang. Biasanya dipentaskan di tempat terbuka yang kadang-kadang dilengkapi dengan tenda. Selama semalam suntuk grup yang bertanding akan saling mendendangkan teka teki dan menjawabnya secara bergiliran. Benar atau tidaknya jawaban akan dinilai oleh tim juri yang ada.

Penampilan Didong mengalami perubahan setelah Jepang masuk ke, Indonesia. Sikap pemerintah Jepang yang keras telah pemporak-porandakan bentuk kesenian Didong. Dalam keadaan demikian syair-syair Didong berubah menjadi kesan bernada protes terhadap kekuasaan penjajah Jepang. Setelah proklamasi kemerdekaan kesenian Didong mulai berfungsi lagi. Didong mengobarkan semangat kegotong-royongan. Didong dapat digunakan untuk mencari dana pembangunan gedung sekolah, madrasah, mesjid, bahkan juga pembangunan jembatan. Dengan demikian Didong menjadi sarana ampuh untuk pembangunan fisik.

Dalam tahun-tahun pergolakan DI/TU sekitar periode akhir tahun 1950-an kesenian Didong terhenti karena saat itu kesenian Didong dilarang oleh DI/TU. Masyarakat Gayo tidak dapat dipisahkan dengan kesenian didong, maka lalu muncul permainan Saer yaitu suatu permainan yang sifat penampilannya hampir sama dengan Didong. Perbedaan Didong dengan Saer hanya dalam unsur gerak dan tari. Tepukan tangan yang merupakan unsur penting dalam Didong, tidak dibenarkan dalam Saer.

Ternyata teknologi modern juga ikut mempengaruhi perkem-bangan kesenian Didong. Muncul pengeras suara membuat kesenian Didong banyak dipergunakan oleh orang-orang yang mengadakan pesta. Kemudian munculnya kasset membuat para seniman dari berbagai grup bermain-main memasarkan diri lewat kasset. Akhirnya pesta perkawinan tidak lagi mengundang seniman Didong, tetapi cukup mempergunakan pengeras suara dan radio kasset. Akibatnya kesenian Didong pun lesu kembali.

Pihak pemerintah juga pernah menggalakkan Didongbanan yaitu Didong wanita. Pada mulanya memang menarik perhatian, tetapi hambatan utamanya adalah perubahan status dari gadis-gadis pemain Didong. Bila telah menikah sulit diharapkan untuk melanjutkan kegiatannya dalam seni Didong ini. Oleh karena itu hanya Didong yang dimainkan oleh pria yang hambatannya agak kecil, seperti telah hidup secara tradisional dari masa ke masa.

Fungsi Didong

Didong mempunyai fungsi yang majemuk dan selalu mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan masyarakat Gayo sendiri. Didong dapat berfungsi sebagai alat kontrol sosial, penerangan, pendidikan, hiburan, memelihara nilai dan norma adat dan juga penyaluran ketegangan sosial.

Sebagai alat kontrol sosial disampaikan melalui kritik-kritik yang biasanya ditujukan kepada lawan bertanding. Kritik umumnya mengenai kelemahan, kepincangan dan sebagainya yang terjadi dalam masyarakat. Di samping itu Didong juga sangat efektif dipergunakan sebagai alat penerangan, misalnya melalui puisi Didong dapat dijelaskan Pancasila kepada masyarakat pedesaan, yang umumnya tingkat pendidikan mereka masih rendah.

Sejak awal hingga sekarang fungsi Didong sebagai hiburan tidak pernah tergeser. Didong bagi seniman merupakan sarana untuk menyalurkan karya seni yang indah; dan bagi anggota masyarakat Didong dapat mereka nikmati sebagai karya seni yang dapat mengisi kebutuhan akan hiburan yang menimbulkan rasa indah.

Pada masa lalu Didong diadakan sehubungan dengan upacara-upacara perkawinan dan pesta-pesta lainnya. Pada Ceh dalam pertandingan Didong memilih tema karangannya berkisar pada masalah yang sesuai dengan upacara yang diselenggarakan. Pada upacara perkawinan akan disampaikan teka-teki yang berkisar pada aturan adat perkawinan. Dengan demikian berarti seorang Ceh harus menguasai secara mendalam tentang seluk beluk adat perkawinan, disamping seorang Ceh harus selalu berusaha mencari bentuk-bentuk karya yang baru dan lebih indah. Dengan cara demikian pengetahuan masyarakat tentang adat dapat terus terpelihara. Nilai-nilai yang hampir punah akan dicari kembali oleh para penyair untuk keperluan kesenian Didong.

Di tanah Gayo seperti halnya di daerah-daerah lain terdapat kelompok-kelompok yang satu dengan yang lainnya bersaing atau kurang serasi atau berbeda pendapat. Hal ini dapat terjadi misalnya pada perkawinan satu kelompok keluarga dengan kelompok lainnya, karena sesuatu hal dapat terjadi ketegangan sosial, bahkan tidak sedikit yang berakhir dengan ketegangan fisik. Kesenian Didong dapat menjadi sarana untuk menetralisir ketegangan tadi dan terjalin keseimbangan antara kelompok satu dengan kelompok lainnya.

Selain itu yang telah terbukti, Didong dapat dipergunakan sebagai sarana untuk mengumpulkan dana. Misalnya terjadi pada masa awal kemerdekaan. Didong dapat dipergunakan untuk mencari dana pembangunan sekolah, mesjid, madrasah, bahkan untuk pembangunan jembatan.

Berbicara mengenai pelestarian kesenian ini tentu tidak dapat dilepaskan dari tokoh-tokoh yang berjasa dalam pengembangan dan pelestarian kesenian Didong. Beberapa nama yang dianggap berjasa antara lain: Ceh Tjuh Ucak, kemudian ada nama Muhammad Basir Lakkiki yang menguasai perihal lagu-lagu, juga Abd. Rauf, Ecek Bahim, Sali Gobal dan Daman. Nama-nama yang juga tidak mungkin dilupakan adalah Idris Sidang Temas, Sebi, Utih Srasah, Beik, Tabrani, Genincis, S. Kilang, Ibrahim Kadir, Mahlil, Bantacut, Dasa, Ceh Ucak, Suwt, Talep, Aman Cut, Abu Kasim, Syeh Midin, M. Din, Abubakar, Ishak Ali dan lain-lainnya.

Tanpa tokoh-tokoh tersebut dapat diperkirakan bahwa kesenian Didong dalam perjalanannya berkembang lambat bahkan mungkin terhenti. Kalau hal itu terjadi, daerah Gayo akan menjadi sunyi dari tembang-tembang merdu, beribu-ribu bait puisi mungkin tidak akan lahir.

Dalam kesenian Didong sesungguhnya tersimpan suatu daya yang dapat mendorong timbulnya dinamika. Berupaya mencari sesuatu yang menyebabkan timbul sikap kritis dan memacu kreativitas tinggi, sehingga lahir karya-karya seni yang indah dan bermutu tinggi.

Gayo hanyalah salah satu dari ratusan identitas suku di Indonesia. Kita wajib mengenali satu persatu. Keseluruhannya merupakan satu identitas bangsa yang besar. Kita boleh berbangga akan keluhuran nilai-nilai budaya bangsa kita.

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu