Langen Mandra Wanara adalah salah satu bentuk drama tari Jawa yang mempergunakan materi tari tradisi klasik gaya Yogyakarta. Drama tari yang menggambarkan banyak wanara (kera) dan berfungsi sebagai hiburan ini merupakan perkembangan dari drama tari yang telah ada, yaitu Langendriya yang bersumber dari Serat Damarwulan. Keduanya, baik Langendriya maupun Langen Mandra Wanara, disajikan dalam bentuk tari dengan posisi jengkeng atau jongkok1) disertai dengan dialog yang berupa tembang macapat. Bedanya, yang sekaligus merupakan perkembangannya, adalah lakon yang dibawakan. Jika lokan yang dibawakan dalam tari drama Langendriya bersumber dari ceritera yang lain, maka Langen Mandra Wanara bersumber dari cerita Ramayana, seperti: Subali Lena, Senggana Duta, Rahwana Gugur, dan lain sebagainya. Konon, drama tari Langen Mandra Wanara ini telah ada, bahkan mengalami kejayaan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana VI. Pada masa itu setiap malam di istana selalu ada kegiatan "gladen"...
Monumen ini dibangun pada 29 Juni 1985. Ditandai dengan upacara tradisional penanaman kepala kerbau dan peletakan batu pertama oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII. Gagasan untuk mendirikan monumen ini dilontarkan Kolonel Sugiarto. Saat itu beliau Wali kota madya Jogjakarta. Pelontaran gagasan ini bersamaan dalam Peringatan Jogja Kembali yang diselenggarakan Pemerintah Daerah Tingkat II Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1983. Dipilihnya nama Jogja Kembali dengan maksud sebagai tetenger atau penanda peristiwa sejarah. Yaitu ditariknya tentara pendudukan Belanda dari Ibu kota Jogjakarta pada tanggal 29 Juni 1949. Hal ini sebagai tanda awal bebasnya Bangsa Indonesia secara nyata dari kekuasaan pemerintahan Belanda. Pembangunan monument ini membutuhkan waktu kurang lebih 4 tahun. Diresmikan dan dibuka pada tanggal 6 Juli 1989 oleh Presiden RI pada waktu itu, Soeharto. Monumen setinggi kurang lebih 31.8 m ini terletak di Dusun Jongka...
Alat musik ini terbuat dari bambu. Alat musik yang dipakai untuk kesenian tradisional Rinding Gumbeng. Rinding gumbeng merupakan kesenian tradisional dari Desa Duren, Kelurahan Beji, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunung Kidul yang sudah cukup tua. Alat musik utama yang digunakan adalah rinding dan gumbeng. Suara rinding gumbeng yang harmonis dipadukan dengan alunan lagu daerah. Alat musik ini juga dapat dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional. Rinding adalah sejenis genggong (harpa mulut) yang banyak tersebar di pelosok nusantara. A lat ini dapat menghasilkan bunyi bermacam-macam tergantung keahlian pemain, sedangkan gumbeng adalah sejenis sitar tabung yang terbuat dari seruas bambu yang disayat tengahnya dan diganjal salah satu ujungnya yang berfungsi sebagai dawai. Alat musik ini dimainkan dengan cara dipukul yang menghasilkan bunyi yang berbeda tergantung penempatan ganjal pada dawainya. Pada masa lalu, rinding dimainkan oleh para remaja putri dan ibu-ibu saat sel...
Alat musik ini terbuat dari bambu. Alat musik yang dipakai untuk kesenian tradisional Rinding Gumbeng. Rinding gumbeng merupakan kesenian tradisional dari Desa Duren, Kelurahan Beji, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunung Kidul yang sudah cukup tua. Alat musik utama yang digunakan adalah rinding dan gumbeng. Suara rinding gumbeng yang harmonis dipadukan dengan alunan lagu daerah. Alat musik ini juga dapat dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional. Rinding adalah sejenis genggong (harpa mulut) yang banyak tersebar di pelosok nusantara. Alat ini dapat menghasilkan bunyi bermacam-macam tergantung keahlian pemain, sedangkan gumbeng adalah sejenis sitar tabung yang terbuat dari seruas bambu yang disayat tengahnya dan diganjal salah satu ujungnya yang berfungsi sebagai dawai. Alat musik ini dimainkan dengan cara dipukul yang menghasilkan bunyi yang berbeda tergantung penempatan ganjal pada dawainya. Pada masa lalu, rinding dimainkan oleh para remaja putri dan ibu-ibu saat sele...
Alat musik ini terbuat dari bambu. Alat musik yang dipakai untuk kesenian tradisional Rinding Gumbeng. Jumlah Rinding 13 buah. Rinding gumbeng merupakan kesenian tradisional dari Desa Duren, Kelurahan Beji, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunung Kidul yang sudah cukup tua. Alat musik utama yang digunakan adalah rinding dan gumbeng. Suara rinding gumbeng yang harmonis dipadukan dengan alunan lagu daerah. Alat musik ini juga dapat dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional. Rinding adalah sejenis genggong (harpa mulut) yang banyak tersebar di pelosok nusantara. Alat ini dapat menghasilkan bunyi bermacam-macam tergantung keahlian pemain, sedangkan gumbeng adalah sejenis sitar tabung yang terbuat dari seruas bambu yang disayat tengahnya dan diganjal salah satu ujungnya yang berfungsi sebagai dawai. Alat musik ini dimainkan dengan cara dipukul yang menghasilkan bunyi yang berbeda tergantung penempatan ganjal pada dawainya. Pada masa lalu, rinding dimainkan oleh para remaja put...
Alat musik ini terbuat dari bambu. Alat musik yang dipakai untuk kesenian tradisional Rinding Gumbeng. Jumlah Gumbeng Cilik Berdawai Tiga ini adalah 4 buah. Rinding gumbeng merupakan kesenian tradisional dari Desa Duren, Kelurahan Beji, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunung Kidul yang sudah cukup tua. Alat musik utama yang digunakan adalah rinding dan gumbeng. Suara rinding gumbeng yang harmonis dipadukan dengan alunan lagu daerah. Alat musik ini juga dapat dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional. Rinding adalah sejenis genggong (harpa mulut) yang banyak tersebar di pelosok nusantara. Alat ini dapat menghasilkan bunyi bermacam-macam tergantung keahlian pemain, sedangkan gumbeng adalah sejenis sitar tabung yang terbuat dari seruas bambu yang disayat tengahnya dan diganjal salah satu ujungnya yang berfungsi sebagai dawai. Alat musik ini dimainkan dengan cara dipukul yang menghasilkan bunyi yang berbeda tergantung penempatan ganjal pada dawainya. Pada masa lalu, rinding...
Alat musik ini terbuat dari bambu. Alat musik yang dipakai untuk kesenian tradisional Rinding Gumbeng. Gumbeng Cilik Berdawai ini berjumlah 2 buah. Rinding gumbeng merupakan kesenian tradisional dari Desa Duren, Kelurahan Beji, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunung Kidul yang sudah cukup tua. Alat musik utama yang digunakan adalah rinding dan gumbeng. Suara rinding gumbeng yang harmonis dipadukan dengan alunan lagu daerah. Alat musik ini juga dapat dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional. Rinding adalah sejenis genggong (harpa mulut) yang banyak tersebar di pelosok nusantara. Alat ini dapat menghasilkan bunyi bermacam-macam tergantung keahlian pemain, sedangkan gumbeng adalah sejenis sitar tabung yang terbuat dari seruas bambu yang disayat tengahnya dan diganjal salah satu ujungnya yang berfungsi sebagai dawai. Alat musik ini dimainkan dengan cara dipukul yang menghasilkan bunyi yang berbeda tergantung penempatan ganjal pada dawainya. Pada masa lalu, rinding dimainkan...
Kesenian tradisional gejog lesung ini adalah perpaduan irama musik dengan lesung (alu). Pada jaman dulu seni tradisional ini dimainkan setelah penduduk desa setempat menumbuk padi, atau disaat gerhana bulan , tapi seiring perkembangan jaman kesenian ini hanya dimainkan pada saat acara – acara tertentu saja seperti Bersih desa, upacara adat atau penyambutan tamu yang berkunjung ke desa. Gejog Lesung sendiri dimaninkan oleh ibu – ibu secara berkelompok yang berjumlah 12 orang , 5-6 menjadi penabun dan lainya menjadi wiraswara/ penyanyi , para wiraswara bernyanyi berlenggak lenggok sambil menari dan membawa tambir (tempat nasi yang berbentuk bulat )biasanya lagu – lagu yang dibawakan adalah lagu – lagu tradisional seperti lumbung pari , gundul – gundul pacul dll,
Tarian Janggrung di daerah Kecamatan Semanu Gunungkidul merupakan jenis kesenian yang disakralkan. Dalam setiap pelaksanaan acara bersih desa, setiap tahunnya kesenian ini selalu dipentaskan di tempat yang dikeramatkan, yakni di bawah pohon asem dan Kepoh yang berada di Dusun Munggi Desa Munggi Kecamatan Semanu. Konon, tempat tersebut dipercaya sebagai cikal bakal berdirinya daerah setempat. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, Tarian Janggrung dipercaya dapat digunakan sebagai perantaraan penyembuhan berbagai macam penyakit. Oleh seorang penari orang yang terserang penyakit dimintakan kepada yang mbau rekso (penguasa gaib) yang punya tempat untuk diberikan kesembuhan. Oleh seorang penari orang yang sakit diajak menari dengan diiringi musik gamelan dan selanjutnya dicium dan diusap mukanya dengan mengguknakan selendang sang penari. Sepintas diamati tidak sedikit pengunjung yang datang untuk berobat. Dengan kepercayaan yang diyakini dan nilai spiritualitas yang tinggi tak...