Cingciripit ini biasanya dilakukan oleh-anak-anak sebelum memulai permainan untuk menentukan urutan dalam bermain atau menentukan siapa yang menjadi eméng (kucing). Cara melakukan cingciripit: Anak-anak berkumpul membentuk lingkaran, kemudian salah seorang diantara mereka (biasanya) orang yang 'dituakan' dalam kelompok membuka telapak tangan, kemudian satu persatu anak meletakan jarinya di tangan tersebut, mereka akan ngawih (bernyanyi) bersama dengan syair. Lirik Lagu Cingciripit: Cing ciripit satulang sabawang, Saha nu kajepit tunggu lawang. atau .. Cing ciripit Tulang bajing kacapit Kacapit ku bulu paré Bulu paré sesekeutna Jol pa dalang mawa wayang Jrék-jrék nong, Jrék-jrék nong. Ketika lagu hampir berakhir, pemain bersiap-siap untuk mengangkat jarinya, karena bila jari tertangkap oleh tangan si pemimpin tadi maka dia kalah dan menjadi eméng atau kucing.
Permainan tutup botol kaleng ini sudah ada dari jaman dahulu. Tidak diketahui pasti kapan permainan tradisional ini ada atau diciptakan namun yang pasti secara turun temurun permainan ini sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari anak-anak kecil di Jawa Barat, khususnya di daerah Kec. Pameungpeuk Kab. Garut sebagai permainan keseharian. Permainan tutup botol ini sebenarnya sama dengan bermain kelereng, percis sekali. Hanya perbedaan nya terletak pada jenis alat dan tempat yang digunakan. Kelereng menggunakan bulatan kaca padat atau kelereng untuk digunakan sebagai media permainannya sementara permainan tutup botol ini menggunakan media tutup botol kaleng sebagai bahan permainannya. Selain itu, alas yang digunakan atau tempat bermain kelerang yakni menggunakan media pasir atau tanah sebagai alas permainan sementara permainan tutup botol kaleng menggunakan teras rumah atau alas semen sebagai tempat bermainnya. Tatacara permaninan Sama halnya dengan bermain kelereng,...
Berbicara mengenai zaman now, yaitu zaman di era industri 4.0 ini banyak sekali kaulinan barudak (permainan anak) sunda yang sudah tidak dimainkan lagi alias hampir punah. Kalo bukan kita yang melestarikan, ya siapa lagi? kalo bukan sekarang ya kapan lagi?. Ada beberapa permainan anak sunda yang hampir punah ditelan zaman, di antaranya adalah: 1. Bebentengan. Permainan ini mengajarkan kita fokus, kerjasama tim, dan disiplin. 2. Boy-boyan. Permainan tradisional dengan total pemain 5-10 orang 3. Main poces (kelereng) 4. Main Gatrik 5. Oray-Orayan (ular-ularan) 6. Congklak 7. Susumputan (petak umpet) 8. Egrang. Biasanya membutuhkan keseimbangan Demikian beberapa permainan yang sudah jarang dimainkan oleh anak-anak sunda zaman now. Bahan bacaan: https://www.hipwee.com/list/beberapa-kaulinan-barudak-permainan-anak-sunda-yang-sudah-jarang-dimainkan/
Permainan Tradisional Sunda Jawa Barat: Cingciripit Tradisional Oray – Orayan Boy Boyan / Boi-Boian Galah Asin Tradisional Gatrik Bébéntengan Anjang-Anjangan Ucing Sumput Hahayaman Ucing -Ucingan Tradisional Congklak Engklek Ucing Béling Endog – Endogan Ucing Béndrong atau Bancakan Ucang – Ucang Anggé Pérépét Jengkol Sorodot Gaplok Paciwit-Ciwit Lutung Békleh Ningnang Egrang Ucing Kuriling Tokecang Pepeletokan Encrak Sermén Sutén Sasalimpetan Pélak cau Ole-Ole Ogong Ngadu Kaléci Meuncit Reungit Luncat Tali Jajangkungan Ngajajar Tilu / Jarlu Gugunungan Béklén Ayang – Ayang Gung, Maén Bandring dan Maén Panggal, Bolu bogem, Ambil-ambilan Ucing Pengpeun Cingcangkeling Gegelebusan Ucing Pegat Galah Bandung Galah Burulu Sumber: http://permainan-tradisional-nusantara.blogspot.com/2017/08/permainan-tradisional-diseluruh-pulau.html
Jika kita mendengar kata ‘budaya’ maka yang terlintas dalam pikiran kita adalah seperangkat kegiatan dari masyarakat yang dilakukan sejak lampau. Istilah kebudayaan atau budaya berasal dari Bahasa Sanskerta, yaitu Budhayah yang berarti bentuk jamak dari budhi (budi atau akal). Selain itu kebudayaan dalam Bahasa Inggris yaitu culture yang berasal dari kata colere yang memiliki arti mengolah atau mengerjakan. Menurut (Koentjaraningrat, 1993) kebudayaan merupakan suatu sistem gagasan rasa, sebuah tindakan, dan karya yang dihasilkan oleh manusia yang di dalam kehidupannya yang bermasyarakat. Budaya erat kaitannya dengan cara hidup sekelompok masyarakat yang mereka yakini untuk diturunkan dari generasi ke generasi, pada suatu budaya biasanya dipengaruhi oleh beberapa unsur, seperti agama, politik, bahasa, pakaian, adat istiadat, benda, bangunan, karya seni, dan lainnya. Hal tersebut membuat budaya sangat dilindungi keberadaannya karena menyangkut dengan kemajuan peradaban manusia. Seiring...
Mainan gogolekan kembang adalah jenis mainan yang menirukan bentuk dari golek atau wayang. Gogolekan ini berbeda dengan gogolekan sebelumnya yang dibuat lebih rumit. Gogolekan kembang dibuat lebih sederhana dan biasanya diperuntukan bagl anak yang lebih muda usianya jika dibandingkan dengan memainkan gogolekan dari pelepah ketela pohon. Mainan ini dibuat dari "kembang sapatu" yang banyak ditanam dihalaman rumah. Cara membuatnya sangat mudah hanya memakai lidi yang ditusukan dari kembang dan memakai kembang yang masih muda untuk bagian kepalanya. Cara memainkannya berbeda dengan mainan gogolekan sebelumnya, gogolekan ini dimainkan dengan imajinasi seorang anak, dan gerakannya pun sederhana hanya menggerakan leher kekiri dan ke kanan. Dan umumnya dibuat dua buah agar seorang anak dapat berimajinasi seolah-olah sedang berhadap-hadapan dan berbicara atau juga sedang perang, Mainan ini digunakan hanya sekali pakai, karena akan layu, rapuh dan termasuk cepat rusak. Mainan ini be...
Egrang: Warisan Budaya, Uji Nyali, dan Semangat Gotong Royong Identitas dan Asal-Usul Egrang merupakan permainan tradisional yang masuk dalam kategori olahraga ketangkasan dan rekreasi. Secara fisik, alat permainan ini dibuat dari sepasang bambu lurus yang dibentuk menyerupai tongkat, dilengkapi pijakan kaki dari kayu yang dipasang melintang pada bagian bawah [S6], [S6]. Identitas permainan melekat kuat pada aktivitas berjalan menggunakan dua tongkat bambu tersebut sebagai perpanjangan kaki, yang menuntut fokus dan kontrol tubuh dari pemainnya [S6]. Daerah asal yang paling sering dirujuk adalah Jawa Barat. Salah satu sumber menyebut egrang secara spesifik sebagai "permainan anak-anak di Jawa Barat" [S6], sementara sumber lain menyatakan egrang "diyakini berasal dari Jawa" walau klaim tersebut masih memerlukan rujukan lebih lanjut [S6]. Kehadiran ikon patung pemain egrang di persimpangan Jalan Jenderal Sudirman, Purwakarta, menjadi penanda kontemporer yang mem...
Bentengan: Nostalgia Permainan yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Bentengan merupakan permainan tradisional berkelompok yang menuntut strategi, kecepatan, dan kerja sama tim antar pemain [S1][S3]. Permainan ini dimainkan oleh dua regu, masing-masing beranggotakan 4 hingga 8 orang, yang saling berusaha merebut atau mempertahankan “benteng” sebagai markas [S2]. Secara kategori, Bentengan masuk dalam warisan budaya takbenda Indonesia sebagai permainan rakyat, bukan sekadar hiburan anak-anak, melainkan juga media latihan fisik, ketangkasan berpikir taktis, dan pembentukan karakter sosial [S1][S3]. Daerah asal yang paling kuat mengidentifikasi permainan ini adalah Jawa Barat, dengan penyebutan lokal “bebentengan” yang populer di kalangan masyarakat Sunda [S5]. Meski demikian, popularitasnya meluas ke berbagai wilayah Indonesia, terutama pada era 1980–1990-an, saat hampir setiap anak mengenal dan memainkannya di halaman terbuka [S1]. Sumber [S2] turut mempertegas penyebaran ini...
Egrang: Warisan, Keseimbangan, dan Semangat Anak Indonesia Identitas dan Asal-Usul Egrang adalah permainan tradisional Indonesia yang menggunakan dua bilah bambu sebagai alat pijakan untuk berjalan di atasnya. Permainan ini masih dikenal sebagai warisan budaya di berbagai daerah, sekaligus menguji keseimbangan, ketangkasan, dan konsentrasi pemainnya [S1][S3]. Di Jawa Barat, egrang secara spesifik diidentifikasi sebagai permainan anak-anak dengan sepasang bambu sebagai pijakan [S2]. Asal-usul egrang dihubungkan dengan masa kolonial berdasarkan catatan yang menyebut permainan ini tercatat dalam buku Javanese Kinder Spellen pada zaman Belanda [S1]. Namun, sumber tersebut tidak menguraikan kronologi sebelum masa kolonial atau memberikan informasi tentang prosesi ritual awalnya, sehingga narasi asal-muasal pra-kemerdekaan masih bersifat umum. Sentra aktivitas egrang terekam dengan jelas di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Di ruang publik Jalan Jendral Sudirman, Kelurahan Nagrika...