1.687 entri ditemukan

Entri per provinsi
Entri per provinsi

Entri Terkait

Gambar Entri
Prasasti Dadak
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Lampung

Prasasti Dadak ditemukan di Dusun Dadak Desa Tebing Kecamatan Perwakilan Melintang Lampung Timur pada tahun 1994. Prasasti ditulis dalam 14 baris tulisan, terdapat pula tulisan-tulisan singkat dari gambar-gambar yang digoreskan memenuhi seluruh permukaan batu. Bentuk seperti balok berukuran 42cm x 11cm x 9cm. Tulisan yang digunakan mirip dengan tulisan Jawa Kuno akhir dari abad ke 15 dengan Bahasa Melayu yang tidak terlalu Kuno (Bahasa Melayu Madya). Prasasti Dadak/Bataran Guru Tuha merupakan peninggalan abad ke-15.   sumber :https://situsbudaya.id/prasasti-dadak-lampung/

avatar
Roro
Gambar Entri
Prasasti Angka Tahun
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Lokasi: Dukuh Dinginan, Desa Kedung Panji, Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan Keadaan Umum: Prasasti Angka Tahun Kedung Panji terletak di halaman Kantor Desa Kedung Panji. Prasasti ini merupakan prasasti jawa kuno yang dipahat pada sebuah lingga semu. Pada lingga semu tersebut terdapat dua baris tulisan. Baris pertama menunjukkan angka tahun “1302 Saka” dan baris kedua memuat kata “pragola”. Lingga semu atau lingga patok tidak berfungsi sebagai sarana pemujaan, tetapi sebagai pembatas tanah simma atau sebagai pembantu diagram pengkotakan tanah tempat mendirikan bangunan suci. Selain prasati berwujud lingga semu, disekitar lokasi dijumpai pula lingga semu lainnya. Sejarah: 1302 Saka = 1380 Masehi Kurun waktu 1380 Masehi termasuk dalam masa pemerintahan Rajasanagara (Hayam Wuruk) dari Majapahit Kegiatan Terkait: – Corak Keagamaan: Hindu   sumber :https://bentengmagetan.wordpress.com/2013/0...

avatar
Roro
Gambar Entri
Prasasti Tanjung Raya I
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Lampung

Prasasti ini ditemukan pada tahun 1970 di Desa Tanjung Raya I, Kecamatan Sukau Lampung Barat. Berbentuk lonjong berukuran panjang 237 cm, lebar di bagian tengah 180 cm dan tebal 45 cm. Prasasti dituliskan pada bagian permukaan batu yang keadaannya sudah aus dan rusak, terdiri dari 8 baris dan sulit dibaca namun masih dapat dikenal sebagai huruf Jawa Kuno dari abad ke 10. Pada bagian atas terdapat sebuah gambar berupa sebuah bejana dengan tepian yang melengkung keluar sehelai daun. Mengingat sulitnya pembacaan prasasti ini maka isinya belum diketahui. sumber : https://situsbudaya.id/prasasti-tanjung-raya-i/

avatar
Roro
Gambar Entri
Prasasti Terengganu
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Aceh

Prasasti Terengganu (kadangkala Trengganu) adalah prasasti tertua yang tertulis dalam huruf Jawi (gundul). Prasasti Terengganu ditemukan di Terengganu, Semenanjung Malaka kurang lebih 30 kilometer dari pantai timur pada awal abad ke 20. Prasasti ini ditemukan oleh seorang saudagar keturunan Arab yang bernama Sayid Husin bin Ghulam al-Bokhari di sungai Teresat dekat Kuala Berang. Menurut penduduk setempat, prasasti yang termaktub di atas batu ini, sudah lama terletak di depan sebuah surau atau langgar yang dipakai sebagai tumpuan kaki saat berwudhu.   sumber : http://prasasti-terengganu.blank.web.id/id3/968-849/Prasasti-Terengganu_25529_prasasti-terengganu-blank.html

avatar
Roro
Gambar Entri
Prasasti Maribong
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Tengah

                   Prasasti Maribong -          Disebut juga sebagai Prasasti Trawuan II angka tahunnya mula-mula dibaca 1170 Saka, kemudian pembacaannya dibetulkan oleh L.C. Damais menjadi 1186 Saka. -          Dikeluarkan oleh raja Wisnuwarddhana di desa Maribong -          sinya diperuntukkan  desa Maribong yang termasuk wilayah Jipang. Tetapi sayang sekali tidak diketahui mengapa daerah itu mandapat prasasti raja karena hanya satu lempengan permulaanya saja yang ditemukan kembali     sumber : http://deeaida88.blogspot.com/2010/12/inventarisasi-prasasti-majapahit.html

avatar
Roro
Gambar Entri
Prasasti Hara-Hara
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Prasasti Hara-Hara -          Berangka tahun 888 Saka atau 966 M, sayangnya prasasti ini tidak lengkap dan hanya ditemukan satu lempeng saja. -          Dikeluarkan oleh Pu Mano -          Tempat dikeluarkannya di daerah Hara-Hara -          Isinya tentang keterangan pemberian tanah Sima oleh Pu Mano yang telah diwariskan kepada nenek moyangnya yang terletak di desa Hara-Hara di sebelah selatan perumahannya kepada Mpungku di Susuk Pager dan Mpungku di Nairanjana yang bernama Mpu Buddhiwala. Pemberian ini digunakan seabgai tempat mendirikan bangunan suci (kuti). Sebagai sumber pembiayaan pemeliharaan dan biaya upacara di dalam bangunan suci tersebut, ditebuslah sawah yang terletak di senelah selatannya seluas 3 tampah yang telah digadai oleh Mpungku Susuk Pager dan Mpungku di Nairanjana....

avatar
Roro
Gambar Entri
Prasasti Sukamerta
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Tengah

Prasasti Sukamerta (Skamerta) -          Berangka tahun 1218 Saka (29 oktober 1296 M). -          Dikeluarkan oleh Raja Kertarajasa Jayawarddhana -          Tempat dikeluarkannya prasasti di daerah Sukanarta -          Prasasti ini memperingati penetapan daerah Sukanarta kembali menjadi daerah swatantra atas permohonan Panji   Patipati Pu Kapat yang hendak menirukan perbuatan ayahnya yaitu Panji Pati-Pati. Permohonan itu dikabulkan oleh raja Kertarajasa Jayawarddhana kerana Panji Pati-Pati telah memperlihatkan kesetiaan dan kebaktiannya yang luar biasa kepada raja dengan ikut mngalami duka nestapa. Disebutkan juga bahwa Wijaya menyebrangi lautan, yang dimaksud adalah kepergiannya ke Madura. ia kemudian diterima oleh Aryya Wiraraja yang kemudian mengusahakan agar Wijaya dapat di...

avatar
Roro
Gambar Entri
Prasasti Tuhanaru
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Tengah

Entah dari mana dan kapan pemakaian nama sejenis ikan hewan laut dipakai sebagai nama orang pada zaman Majapahit. Yang jelas pada zaman Majapahit beberapa nama orang sekelas bangsawan apapun tingkatannya tidak ada yang memakai nama atau gelar yang mengambil nama sejenis ikan. Rata-rata mereka memakai nama hewan darat atau hewan terbang/angkasa. Selebihnya jika dikaitkan dengan nama hewan melata adalah sejenis ular atau buaya. Orang-orang pada zaman Majapahit kebanyakan memakai nama sejenis hewan darat dengan sifat-sifat yang mencitrakan kekuatan, keberanian, kegarangan, dan kelincahan seperti kidang telangkas, kuda sempana, jaran panoleh, sima rodra, singa yudha, mahesa cempaka, lembu sora, kebo kenongo, dan gajah mada. Sedangkan hewan sejenis burung seperti Hayam Wuruk, Sawung Galing, Gagak Seta, dan jenis hewan air seperti Bajul Sengara, Sawer Wulung, atau yang lainnya jarang dipakai. Apalagi hewan air sejenis ikan,tampaknya sulit atau tidak ditemukan pada orang-orang sezaman...

avatar
Roro
Gambar Entri
Naskah Kuno dari Ranah Minangkabau
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Barat

Ketua Jurusan Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand) Padang,  Dr. Pramono, M.Si, yang juga sebagai penerjamah naskah kuno di Sumbar mengungkapkan, naskah kuno Minangkabau yang ada di Sumbar saat ini, terutama yang tersimpan di Perpustakaan Sumbar, ternyata tidak hanya membahas masalah agama. Dari berbagai manuskrip atau Naskah Kuno Minangkabau yang diterjemahkannya, naskah kuno itu ternyata juga membahas beragam ilmu lainnya, seperti pendidikan, sastra, perjuangan melawan penjajah dan yang lainnya. "Bahkan ada juga naskah yang berisi pengobatan hingga magic," ungkapnya saat ditemui KLIKPOSITIF di Kampus Unand, Selasa 9 Mei 2017. Pramono menjelaskan, naskah kuno Minangkabau secara garis besar dicatat oleh para ulama pada akhir abad 18 hingga awal abad 20, dan sebagian besarnya mengulas tentang perjalan Islam di Minangkabau hingga perjuangan ulama Islam itu sendiri. Naskah kuno itu sendiri tertuang dalam tulisan Arab Melayu....

avatar
Roro