Prasasti Hujung Langit, yang dikenal juga dengan nama Prasasti Bawang, adalah sebuah prasasti batu yang ditemukan di desa Haur Kuning, Lampung, Indonesia. Aksara yang digunakan di prasasti ini adalah Pallawa dengan bahasa Melayu Kuno. Tulisan pada prasasti ini sudah sangat aus, namun masih teridentifikasi angka tahunnya 919 Saka atau 997 Masehi. Isi prasasti diperkirakan merupakan pemberian tanah sima. sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Hujung_Langit
Prasasti Cikajang berisi tiga baris tulisan dalam aksara dan bahasa Sunda Kuno, mirip dengan aksara pada prasasti Kawali (Noorduyn l988). Transkripsi dari tulisan tersebut adalah: Bhagi bhagya ka nu ngaliwat J. Noorduyn, seorang ahli Sunda berkebangsaan Belanda, meragukan keaslian prasasti ini. Menurutnya, prasasti ini "sangat mungkin" dibuat oleh K. F. Holle dalam rangka menyambut kedatangan tamunya waktu itu, H.N.van der Tuuk, yang berkunjung ke Perkebunan Teh milik K.F.Holle di kawasan Waspada (Garut) pada tahun 1870-an sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Cikajang
Bukateja adalah salah satu kecamatan di kabupaten Purbalingga Jawa Tengah. Kecamatan Bukateja berbatasan langsung dengan wilayah kabupaten Banjarnegara, di bagian selatan terpisah sungai Serayu antara kecamatan Bukateja dengan kecamatan Purworejo Klampok. Ternyata di Bukateja terdapat temuan arkeologi jaman pararaja klasik berupa prasasti logam emas yang dikenal sebagai Prasasti Bukateja. Yang lebih menarik perhatian, Prasasti Bukateja ini menggunakan bahasa Melayu. Menjadi pertanyaan besar mengapa ada prasasti berbahasa Melayu di daerah Bukateja, Purbalingga, Jawa Tengah. Beberapa sejarawan menafsirkan bahwa keberadaan prasasti berbahasa Melayu di Bukateja menunjukkan bahwa pada suatu ketika kerajaan Sriwijaya pernah menguasai Jawa Tengah dan mendirikan pusat pemerintahan perwakilan di daerah Purbalingga.Ini tentu butuh kajian lebih lanjut. Yang pasti, berdasarkan data sejarah yang ada, pararaja tanah Jawa baik Jawa Timur maupun Jawa Tengah dan Jawa Barat, cenderung...
Prasasti Gandasuli merupakan prasasti peninggalan Kerajaan Mataram Kuno ketika dikuasai oleh Wangsa Syailendra. Prasasti ini ditemukan di reruntuhan Candi Gondosuli, di Desa Gondosuli, Kecamatan Bulu, Temanggung, Jawa Tengah. Yang mengeluarkan adalah anak raja (pangeran) bernama Rakai Rakarayan Patapan Pu Palar, yang juga adik ipar raja Mataram, Rakai Garung. Prasasti Gandasuli terdiri dari dua keping, disebut Gandasuli I (Dang pu Hwang Glis) dan Gandasuli II (Sanghyang Wintang). Ia ditulis menggunakan bahasa Melayu Kuno dengan aksara Kawi (Jawa Kuno), berangka tahun 792M. Teks prasasti Gandasuli II terdiri dari lima baris dan berisi tentang filsafat dan ungkapan kemerdekaan serta kejayaan Syailendra. sumber : http://www.wikiwand.com/id/Prasasti_Gandasuli
Prasasti Karang Brahi adalah sebuah prasasti dari zaman kerajaan Sriwijaya yang ditemukan pada tahun 1904 oleh Kontrolir L.M. Berkhout di tepian Batang Merangin. Prasasti ini terletak pada Dusun Batu Bersurat, Desa Karang Berahi, Kecamatan Pamenang, Kabupaten Merangin, Jambi. Prasasti ini tidak berangka tahun, namun teridentifikasi menggunakan aksara Pallawa dan bahasanya Melayu Kuno. Isinya tentang kutukan bagi orang yang tidak tunduk atau setia kepada raja dan orang-orang yang berbuat jahat. Kutukan pada isi prasasti ini mirip dengan yang terdapat pada Prasasti Kota Kapur dan Prasasti Telaga Batu. https://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Karang_Brahi
Prasasti Kabantenan di Bekasi : Pendidikan, Kenegarawanan dan Leadership Janganlah kita lupakan demi tujuan kita, bahwa para pemimpin berasal dari rakyat dan bukan berada di atas rakyat. [Bung Karno dalam Penyambung Lidah Rakyat, hlm. 69] Melanjutkan tulisan ‘Gemah Ripah loh Jinawi’ : Kemakmuran Negara diukur dari jumlah penduduknya yang banyak. Merupakan tantangan berat Tata Kelola perkotaan yang harus sudah sangat mumpuni, agar kota tersebut tidak berujung menjadi Kota ‘Tryanopolis’, yaitu kota yang banyak gejolak dan serba kekurangan sandang dan pangan. Atau bahkan ‘Nekropolis’, kota yang menuju kehancuran karena terjadi peperangan. Ternyata orang-orang tua Sunda seribuan tahun silam telah mengantisipasi itu dengan mengeluarkan perundang-undangan dan hukum ketat yang mengatur manusia dengan lingkungannya. Diantaranya saja begitu ketatnya aturan RTRW (Rencana Tata Ruang dan Wilayah), dengan tujuan melestarikan su...
Prasasti Raja Sankhara adalah prasasti yang berasal dari abad ke-8 masehi yang ditemukan di Sragen, Jawa Tengah. Prasasti ini kini hilang tidak diketahui di mana keberadaannya.[1] Prasasti ini pernah disimpan oleh museum pribadi, Museum Adam Malik, namun diduga ketika museum ini ditutup dan bangkrut pada tahun 2005 atau 2006, koleksi-koleksi museum ini dijual begitu saja tanpa sepengetahuan pemerintah dan Direktorat Permuseuman, termasuk prasasti ini. Foto prasasti ini ditampilkan di buku Sejarah Nasional jilid 2. ISI PRASASTI Dalam prasasti itu disebutkan seorang tokoh bernama Raja Sankhara berpindah agama karena agama Siwa yang dianut adalah agama yang ditakuti banyak orang. Raja Sankhara pindah agama ke Buddha karena di situ disebutkan sebagai agama yang welas asih. Sebelumnya disebutkan ayah Raja Sankhara, wafat karena sakit selama 8 hari. Karena itulah Sankhara karena takut akan ‘Sang Guru’ yang tidak benar, kemudian meninggalkan agama Siwa, menjadi pemelu...
Prasasti Perjanjian Sunda-Portugal atau Padrão Sunda Kelapa adalah sebuah prasasti berbentuk tugu batu (padrão) yang ditemukan pada tahun 1918 di Batavia, Hindia-Belanda. Prasasti ini menandai perjanjian Kerajaan Sunda–Kerajaan Portugal yang dibuat oleh utusan dagang Portugis dari Malaka yang dipimpin Enrique Leme dan membawa barang-barang untuk "Raja Samian" (maksudnya Sanghyang, yaitu Sang Hyang Surawisesa, pangeran yang menjadi pemimpin utusan raja Sunda). Padrão ini didirikan di atas tanah yang ditunjuk sebagai tempat untuk membangun benteng dan gudang bagi orang Portugis. Prasasti ini ditemukan kembali ketika dilakukan penggalian untuk membangun fondasi gudang di sudut Prinsenstraat (sekarang Jalan Cengkeh) dan Groenestraat (Jalan Kali Besar Timur I), sekarang termasuk wilayah Jakarta Barat. Padrao tersebut sekarang disimpan di Museum Nasional Republik Indonesia, sementara sebuah replikanya dipamerkan di Museum Sejarah Jakarta. Sejarah...
Prasasti Pandak Badung (1071 Masehi) adalah sebuah prasasti yang ditemukan di desa Bebetin, kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali. Prasasti ini berbahasa Bali Kuna. Teks Ingcaka 993, Jyesta masa, tithi titiya Cuklapaksa Wa, Untuk, Wr, Wara gumrg, irika diwaca paduka Haji Anak Wungsu kalih Batari lumah I Burwan, Bhatara lumah I Banu Wka.. Terjemahan Pada tahun Isaka 993 (atau 1071 Masehi), bulan Jyesta (bulan ke-11 sesuai kalender Bali) tanggal 3 paroterang (purnama), Wa, Untuk, Wr, Wara Gumreg, pada saat itulah Raja Anak Wungsu, putra ibu yang telah dicandikan di Burwan, dan ayahnya yang dicandikan di Sungai (Tukad) Pakerisan..[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Pandak_Badung