Nah udah pada tau belum kalau di Klaten ada candi yang nggak kalah kerennya dari Candi Prambanan. Ini dia Candi Plaosan candi bercorak Budha yang terletak di Desa Bugisan Prambanan Klaten, candi ini terletak nggak jauh dari Candi Prambanan hanya berjarak sekitar 2,6 km saja. Pada awalnya candi ini berfungsi untuk menyimpan teks-teks kanonik milik pendeta-pendeta Budha. Eits walaupun ini merupakan candi bercorak Budha tapi candi ini juga memadukan arsitektur khas candi Hindu melalui ornamen-ornamen yang menghiasi candi.
Situs Candi Plaosan terdiri dari dua kawasan yaitu Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Bedanya Plaosan Lor mempunyai dua candi utama sedangkan Plaosan Kidul belum direkonstruksi candi utamanya. Antara kompleks candi lor dan kidul berada di area yang berbeda. Namun, keduanya disatukan oleh parit buatan. Ukurannya 440m x 270m mengelilingi candi lor dan kidul. Parit ini berfungsi sebagai penyerap air tanah di sekitar candi agar tanah menjadi lebih padat. Berbeda dengan Plaosan Kidul, Kompleks Plaosan Lor punya 2 candi utama yang dikelilingi 6 candi Pato, 58 candi Perwara atau candi kecil, dan 116 stupa Perwara serta sebuah bangunan mendapa.
Ada kisah menarik dibalik Candi Plaosan, kisah romantis antara dua insan manusia yang berbeda agama. Nah berdasarkan penemuan J.G.de Casparis—seorang filolog dari Belanda, Candi Plaosan dibangun oleh Ratu Sri Kahulunan yang dibantu Raja Mataram Kuno pada masa itu yaitu Rakai Pikatan. Hal itu merujuk pada ukiran nama Sri Kahulunan yang berdampingan dengan Sri Maharaja Rakai Pikatan yang terletak di salah satu bagian candi Perwara. Dalam temuan ini De Casparis mengasumsikan Sri Kahulunan adalah istri raja yaitu Pramodawardhani.
Ini menjadi menarik karena seperti yang kita ketahui Pramodawardhani merupakan putri raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra yang menganut agama Budha. Sedangkan Rakai Pikatan berasal dari Dinasti Sanjaya yang menganut agama Hindu. Sehingga Candi Plaosan menjadi persembahan bukti cinta yang walaupun memiliki perbedaan kepercayaan keduanya tidak saling menciptakan perpecahan dan justru membuktikan adanya harmonisasi kehidupan beragama yang hidup saling berdampingan.
Dua candi utama yang berada di Plaosan Lor menjadi daya tarik tersendiri, tahu nggak sih kenapa? Dua candi utama tersebut konon menjadi simbol antara laki-laki dan perempuan. Tapi sebelum itu, sebelum masuk area candi utama akan disambut oleh dua patung penjaga pintu yaitu, Dwarapala. Memasuki area candi utama yaitu sang candi kembar. Candi di sisi selatan yang menggambarkan laki-laki disebut Bhikkhu Monks dan candi di sisi utara yang menggambarkan perempuan disebut Bhikkhuni Nuns. Simbol tersebut juga digambarkan melalui relief laki-laki dan perempuan yang berukuran persis mendekati ukuran manusia pada umumnya, reliefnya menceritakan kekaguman Rakai Pikatan kepada sang permaisuri Pramodawardhani.
Wah! mengetahui kisah cinta Rakai Pikatan dan Pramodawardhani melalui situs Candi Plaosan menjadi pengetahuan baru yang menarik kan. Tapi ternyata sejarawan dan arkeolog lain sempat menentang penemuan De Casparis ini loh. Hingga saat ini latar belakang dibangunnya Candi Plaosan belum dapat diketahui secara pasti, so diharapkan ada penemuan-penemuan baru terkait kisah dibalik Candi Plaosan ini. Kira-kira kamu tertarik nggak sih buat mendatangi dan membuktikan langsung kisah yang ada di Candi Plaosan?
Referensi:
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...