Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur NTT
Bita Nahak No Bikuku
- 28 Januari 2021

Pada suatu hari datanglah Bikuku menemui Bita Nahak dengan maksud mengajaknya untuk pergi melihat tarian tebe chere, tebe kailaku. Mendengar hal ini Bita Nahak bertanya, "Di mana tempatnya yang akan mereka tuju. Dijawab oleh Bikaku, -“Di istana raja Lakuleik”. Bita Nahak bertanya lagi “Apakah di sana akan ada banyak tarian dan lagu yang akan disuguhkanl”. "Banyak’’, jawab Bikuku. Karena di sana sedang lagi mengadakan pesta. “Baiklah”, kata Bita Nahak. “Sekarang marilah kita berangkat”.

Setelah berjalan beberapa saat tibalah mereka di sebuah istana. Tiba-tiba mereka mendengar kokok ayam hutan diikuti dengan bunyi suara yang berkata, “Bita Nahak, nona Bita Nahak engkau akan pergi jauh meninggalkan ibumu dan ayahmu”. Mendengar ini Bita Nahak bersern kepada Bikuku, katanya, “Adakah engkau mendengar kokok ayam hutan dengan diiukti bunyi suara, Bita Nahak - Bita Nahak, engkau akan pergi jauh meninggalkan ibumu dan ayahmu?”. Jawab Bikuku, “Ah tidak usah engkau menghiraukan atau percaya kepada ayam hutan itu. Lebih baik kita berjalan terns saja agar segera · melihat tarian tebe ekere tebe Kailaku”.

Bita Nahak tak dapat berbuat apa-apa selain melanjutkan perjalanan terus bersama Bikuku. Sesudah bebrapa saat berjalan sampai pula mereka berdua di sbuah hutan yang besar. Bita Nahak mendengar kokok ayam hutan diikuti dengan suara yang persis sama seperti yang didengarnya pertama kali. Segera Bita Nahak mengajak Bikuku untuk kembali saja tidak usah menernukan perjalanan. Karena sudah dua kali ayam hutan itu berkokok dengan bunyi suara yang sama. Lagi-lagi Bikuku menolak saran Bita Nahak dengan berkata, “Sebaiknya kita mempercepat langkah kita agar segera tiba di tempat tujuan. Jangan sekali-kali percaya kepada kokok ayam hutan itu”. Bita Nahak tak dapat berbuat apa-apa, selain mengikuti ajakan Bikuku. Kemudian mereka memasuki hutan lagi. Dan terdengar kokok ayam hutan untuk ketiga kali, “Kokoreko, nona Bita Nahak-nona Bita Nahak, engkau akan pergi jauh tinggalkan ibu dan ayahmu”.

Setelah kokok ayam itu selesai ia mengajukan lagi permohonan pada Buikuku. Bikuku kelihatannya mulai marah dan berkata, “Apakah engkau lebih mempercayai ayam hutan dari pada ku?”. Mendengar kata-kata dari Bibuku yang sudah mulai keras itu, Bita Nahak tak berbuat apa-apa lagi. Ia tak dapat mengikuti suara hatinya melainkan kemauan Bikuku yang harus diturutinya.

lstana raja Lakuleik sudah dekat. Bikuku berkata kepada Bita Nahak, "Sekarang kita akan memasuki istana. Jadi engkau harus memberikan kainmu kepada saya dan sebagai gantinya engkau memakai sokal ". Bita Nahak menyetujui permintaan itu dan mereka berdua saling menukarkan pakaian.

Kemudian mereka berdua tetus masuk ke istana raja Lakuleik. Tiba di isatana raja semua orang yang berdiam di sekitarnya, dari hamba sahaya sampai semua bangsawan datang menemui mereka dengan membawa sirih pinang menyuguhkan kepada mereka.

Setiap sajian sirih pinang yang disuguhkan kepada Bikuku oleh para hamba sahaya dan para bangsawan ditelan sekaligus dengan tempat-tempatnya. Demikian pula halnya sewaktu makan. Semua hidangan ditelan habis dengan tempat-tempatnya termasuk piring, senduk dan lain-lain. Namun demikian semua yang hadir masih tetap menganggap Bikuku sebagai bangsawan. Pada hal ia adalah hamba dari Bita Nahak. Selama di istana dalam pelayanan sehari-hari selalu Bikuku yang diutamakan sedang Bita Nahak dikesampingkan begitu saja.

Bikuku kemudian dijadikan isteri oleh raja Lakuleik sedangkan Bita Nahak dijadikan penjaga kebun. Ia menjadi seorang penjaga kebun yang baik. Makanan yang setiap hari dihantarkan untuknya, tid_ak dimakan melainkan diberikannya kepada anjing. Untuk makannya sendiri diambilnya dari laut. Tetapi sebelumnya ia mengucapkan kata-kata sebagai permohonan, "Didi lo, tasi karone nain karone nain, tasi meti nen nain meti ne nain, lai nodi han etu modok sia mai, loi modi hau naan modok sia maiu. Sesudah mengucapkan kata-kata tersebut di atas, laut menjadi pasang dan dihadapannya telah tersedia nasi kuning dan daging kuning.

Selesai bersantap sekali lagi mengucapkan kata-kata seperti semula dan laut menjadi surut kembali dengan membawa serta tempat-tempat makanan dari Bita Nahak ke tengah laut. Setiap kali para hamba laki-laki dan pra hamba perempuan dari raja Lakuleik membawa makanannya untuk Bita Nahak selalu mengalami hal yang sama. Oleh sebab itu mereka melaporkan semua peristiwa pada raja Lakuleik. Mendengar ini raja Lakuleik bertanya, “Apakah benar-benar mereka melihat sendiri.”, jawab hamba-hamba itu bahwa benar-benar mereka melihatnya. Mereka ceritakan dengan sebenarnya, “Kalau tuan raja tidak percaya kami persilakan tuan raja menyaksikan sendiri hal ini”. Keesokan harinya bersama-sama raja Lakuleik mereka pergi menghantarkan makanan untuk Bita Nahak. Raja Lakuleik mengintai dari jauh setelah para hambahamba itu menyodorkan makanan kepada Bita Nahak, maka dengan segera samua makanan itu diberikan kepada anjing-anjing yang ada di situ. Bita Nahak segera menuju ke laut dan dibuatnya sama seperti tiap hari dilakukannya.

Segera raja Lakuleik muncul dan berkata bahwa mulai hari ini ia mau tinggal bersama Bita Nahak. Bita Nahak menolaknya, tetapi sia-sia belaka. Pada pikiran raja Lakuleik dan para hambahambanya bahwa pasti Bita Nahak ini adalah anak bangsawan. Oleh sebab itu maka raja Lakuleik menikah dengan Bita Nahak. Selang beberapa waktu Bita Nahak dibawa ke istana. Hal ini menimbulkan kebencian pada Bikuku. Ia menuduh Bita Nahak merampas suaminya. Untuk menyelesaikan perselisihan mereka berdua, maka atas persetujuan bersama diadakanlah duel antara mereka berdua.

Masing-masing memegang parang dan siapa yang akan memulai dahulu, Bikuku mempersilakan Bita Nahak, tetapi Bita Nahak menolaknya. Dengan alasan nanti kalau Bikuku mati maka tidak ada kesempatan lagi untuk membalasnya. Hal ini diterima baik oleh Bikuku. Parang diangkat dan dipotongnya pada leher Bita Nahak tetapi sia-sia belaka. Leher Bita Nahak tetap seperti biasa. Tidak mengalami Iuka sedikit pun. Kini giliran Bita Nahak. Parang diangkat dan diayunkan ke perut Bikuku. Perutnya terbelah menjadi dua bagian dan semua tempat-tempat sirih yang pemah disajikan para hamba dan bangsawan keluar semua dari perutnya. Termasuk piring-piring dan lain-lain lagi yang pernah dimakannya.

Kebetulan pada duel itu disaksikan oleh para hamba dan bangsawan-bangsawan sehingga Bita Nahak mempersilahkan pergi mengenal akan akan barang-barangnya itu. Kini barulah mereka percaya bahwa Bita Nahak adalah seorang bangsawan sedang Bikuku tidak lain adalah hambanya. Dengan demikian maka Bita Nahak menjadi isteri sah dari raja Lakuleik dan hiduplah mereka berdua dengan aman tenteram dan penuh kebahagiaan.

https://www.dictio.id/t/bita-nahak-no-bikuku-cerita-rakyat-nusa-tenggara-timur/125722

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu