Pada suatu hari datanglah Bikuku menemui Bita Nahak dengan maksud mengajaknya untuk pergi melihat tarian tebe chere, tebe kailaku. Mendengar hal ini Bita Nahak bertanya, "Di mana tempatnya yang akan mereka tuju. Dijawab oleh Bikaku, -“Di istana raja Lakuleik”. Bita Nahak bertanya lagi “Apakah di sana akan ada banyak tarian dan lagu yang akan disuguhkanl”. "Banyak’’, jawab Bikuku. Karena di sana sedang lagi mengadakan pesta. “Baiklah”, kata Bita Nahak. “Sekarang marilah kita berangkat”.
Setelah berjalan beberapa saat tibalah mereka di sebuah istana. Tiba-tiba mereka mendengar kokok ayam hutan diikuti dengan bunyi suara yang berkata, “Bita Nahak, nona Bita Nahak engkau akan pergi jauh meninggalkan ibumu dan ayahmu”. Mendengar ini Bita Nahak bersern kepada Bikuku, katanya, “Adakah engkau mendengar kokok ayam hutan dengan diiukti bunyi suara, Bita Nahak - Bita Nahak, engkau akan pergi jauh meninggalkan ibumu dan ayahmu?”. Jawab Bikuku, “Ah tidak usah engkau menghiraukan atau percaya kepada ayam hutan itu. Lebih baik kita berjalan terns saja agar segera · melihat tarian tebe ekere tebe Kailaku”.
Bita Nahak tak dapat berbuat apa-apa selain melanjutkan perjalanan terus bersama Bikuku. Sesudah bebrapa saat berjalan sampai pula mereka berdua di sbuah hutan yang besar. Bita Nahak mendengar kokok ayam hutan diikuti dengan suara yang persis sama seperti yang didengarnya pertama kali. Segera Bita Nahak mengajak Bikuku untuk kembali saja tidak usah menernukan perjalanan. Karena sudah dua kali ayam hutan itu berkokok dengan bunyi suara yang sama. Lagi-lagi Bikuku menolak saran Bita Nahak dengan berkata, “Sebaiknya kita mempercepat langkah kita agar segera tiba di tempat tujuan. Jangan sekali-kali percaya kepada kokok ayam hutan itu”. Bita Nahak tak dapat berbuat apa-apa, selain mengikuti ajakan Bikuku. Kemudian mereka memasuki hutan lagi. Dan terdengar kokok ayam hutan untuk ketiga kali, “Kokoreko, nona Bita Nahak-nona Bita Nahak, engkau akan pergi jauh tinggalkan ibu dan ayahmu”.
Setelah kokok ayam itu selesai ia mengajukan lagi permohonan pada Buikuku. Bikuku kelihatannya mulai marah dan berkata, “Apakah engkau lebih mempercayai ayam hutan dari pada ku?”. Mendengar kata-kata dari Bibuku yang sudah mulai keras itu, Bita Nahak tak berbuat apa-apa lagi. Ia tak dapat mengikuti suara hatinya melainkan kemauan Bikuku yang harus diturutinya.
lstana raja Lakuleik sudah dekat. Bikuku berkata kepada Bita Nahak, "Sekarang kita akan memasuki istana. Jadi engkau harus memberikan kainmu kepada saya dan sebagai gantinya engkau memakai sokal ". Bita Nahak menyetujui permintaan itu dan mereka berdua saling menukarkan pakaian.
Kemudian mereka berdua tetus masuk ke istana raja Lakuleik. Tiba di isatana raja semua orang yang berdiam di sekitarnya, dari hamba sahaya sampai semua bangsawan datang menemui mereka dengan membawa sirih pinang menyuguhkan kepada mereka.
Setiap sajian sirih pinang yang disuguhkan kepada Bikuku oleh para hamba sahaya dan para bangsawan ditelan sekaligus dengan tempat-tempatnya. Demikian pula halnya sewaktu makan. Semua hidangan ditelan habis dengan tempat-tempatnya termasuk piring, senduk dan lain-lain. Namun demikian semua yang hadir masih tetap menganggap Bikuku sebagai bangsawan. Pada hal ia adalah hamba dari Bita Nahak. Selama di istana dalam pelayanan sehari-hari selalu Bikuku yang diutamakan sedang Bita Nahak dikesampingkan begitu saja.
Bikuku kemudian dijadikan isteri oleh raja Lakuleik sedangkan Bita Nahak dijadikan penjaga kebun. Ia menjadi seorang penjaga kebun yang baik. Makanan yang setiap hari dihantarkan untuknya, tid_ak dimakan melainkan diberikannya kepada anjing. Untuk makannya sendiri diambilnya dari laut. Tetapi sebelumnya ia mengucapkan kata-kata sebagai permohonan, "Didi lo, tasi karone nain karone nain, tasi meti nen nain meti ne nain, lai nodi han etu modok sia mai, loi modi hau naan modok sia maiu. Sesudah mengucapkan kata-kata tersebut di atas, laut menjadi pasang dan dihadapannya telah tersedia nasi kuning dan daging kuning.
Selesai bersantap sekali lagi mengucapkan kata-kata seperti semula dan laut menjadi surut kembali dengan membawa serta tempat-tempat makanan dari Bita Nahak ke tengah laut. Setiap kali para hamba laki-laki dan pra hamba perempuan dari raja Lakuleik membawa makanannya untuk Bita Nahak selalu mengalami hal yang sama. Oleh sebab itu mereka melaporkan semua peristiwa pada raja Lakuleik. Mendengar ini raja Lakuleik bertanya, “Apakah benar-benar mereka melihat sendiri.”, jawab hamba-hamba itu bahwa benar-benar mereka melihatnya. Mereka ceritakan dengan sebenarnya, “Kalau tuan raja tidak percaya kami persilakan tuan raja menyaksikan sendiri hal ini”. Keesokan harinya bersama-sama raja Lakuleik mereka pergi menghantarkan makanan untuk Bita Nahak. Raja Lakuleik mengintai dari jauh setelah para hambahamba itu menyodorkan makanan kepada Bita Nahak, maka dengan segera samua makanan itu diberikan kepada anjing-anjing yang ada di situ. Bita Nahak segera menuju ke laut dan dibuatnya sama seperti tiap hari dilakukannya.
Segera raja Lakuleik muncul dan berkata bahwa mulai hari ini ia mau tinggal bersama Bita Nahak. Bita Nahak menolaknya, tetapi sia-sia belaka. Pada pikiran raja Lakuleik dan para hambahambanya bahwa pasti Bita Nahak ini adalah anak bangsawan. Oleh sebab itu maka raja Lakuleik menikah dengan Bita Nahak. Selang beberapa waktu Bita Nahak dibawa ke istana. Hal ini menimbulkan kebencian pada Bikuku. Ia menuduh Bita Nahak merampas suaminya. Untuk menyelesaikan perselisihan mereka berdua, maka atas persetujuan bersama diadakanlah duel antara mereka berdua.
Masing-masing memegang parang dan siapa yang akan memulai dahulu, Bikuku mempersilakan Bita Nahak, tetapi Bita Nahak menolaknya. Dengan alasan nanti kalau Bikuku mati maka tidak ada kesempatan lagi untuk membalasnya. Hal ini diterima baik oleh Bikuku. Parang diangkat dan dipotongnya pada leher Bita Nahak tetapi sia-sia belaka. Leher Bita Nahak tetap seperti biasa. Tidak mengalami Iuka sedikit pun. Kini giliran Bita Nahak. Parang diangkat dan diayunkan ke perut Bikuku. Perutnya terbelah menjadi dua bagian dan semua tempat-tempat sirih yang pemah disajikan para hamba dan bangsawan keluar semua dari perutnya. Termasuk piring-piring dan lain-lain lagi yang pernah dimakannya.
Kebetulan pada duel itu disaksikan oleh para hamba dan bangsawan-bangsawan sehingga Bita Nahak mempersilahkan pergi mengenal akan akan barang-barangnya itu. Kini barulah mereka percaya bahwa Bita Nahak adalah seorang bangsawan sedang Bikuku tidak lain adalah hambanya. Dengan demikian maka Bita Nahak menjadi isteri sah dari raja Lakuleik dan hiduplah mereka berdua dengan aman tenteram dan penuh kebahagiaan.
https://www.dictio.id/t/bita-nahak-no-bikuku-cerita-rakyat-nusa-tenggara-timur/125722
Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.
Cara membatalkan pinjaman ayopinjam Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.
Cara membatalkan pinjaman ayopinjam: Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...
Naskah Nusantara • Sunda Kuno Kidung Lakbok Kisah Kerajaan Banjarpatroman, Ramalan Abadi, dan Kelahiran Wayang Kila Kidung Lakbok adalah sebuah karya sastra lama berbentuk prosa naratif atau puisi naratif dalam bahasa Sunda yang menceritakan tentang sejarah dan legenda Kerajaan Banjarpatroman. Kerajaan tersebut dipercaya pernah berdiri di wilayah yang kini dikenal sebagai Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Naskah ini sempat nyaris hilang, kemudian ditulis ulang dan dilestarikan kembali pada tahun 2013 melalui publikasi daring. 📜 Sejarah dan asal-usul Menurut naskah Kidung Lakbok, Kerajaan Banjarpatroman mengalami masa kejayaan sebelum akhirnya runtuh akibat perang saudara atau perebutan kekuasaan. Peristiwa tersebut dianggap sebagai dosa besar yang menimbulkan kutukan. Akibat perbuatan tersebut, turunlah azab berupa bencana alam besar, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, dan banjir bandang. Kerajaan yang dahsyat itu akhirnya tenggelam dan berubah menja...