Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita rakyat Kalimantan Barat kalbar
Batu Menangis
- 22 Februari 2021

Alkisah di sebuah desa kecil di Kalimantan Barat, hiduplah seorang gadis cantik bersama dengan ibunya yang lembut dan bijaksana. Kecantikan si gadis tidak ada bandingannya. Matanya indah dan bersinar. Rambutnya hitam, panjang, dan berkilau bagai mutiara hitam. Kulitnya putih dan lembut bagaikan sutera. Parasnya cantik menawan. Semua orang mengakui dan mengagumi kecantikan si gadis.

Gadis itu tidak bosan-bosannya memandangi cermin. Dalam hati, gadis itu berkata, "Betapa cantiknya diriku. Semua orang yang melihatku pasti mengagumi kecantikanku. Tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkan kecantikanku."

Mengetahui keangkuhan anaknya, si ibu berulang kali berusaha menasihatinya. "Anakku, wajahmu yang rupawan janganlah menjadikanmu angkuh dan congkak. Jadikan karunia Tuhan itu sebagai sesuatu yang harus disyukuri dengan kerendahan hati."

Tapi, nasihat ibunya dianggap seperti angin lalu. Ia masih tetap angkuh dan sombong. Setiap hari, kerja gadis itu hanya bersolek dan bercermin. Ia tidak pernah membantu ibunya yang dibiarkan bekerja seorang diri. Meskipun begitu, si ibu tidak pernah mengeluh. Ia hanya berdoa dalam hati, "Ya Tuhan, lindungilah anak hamba dan sadarkanlah anak hamba."

Pada suatu pagi, seperti kebiasaan gadis itu sehari-hari, ia tidak pernah lupa untuk bersolek. Ia bercermin selama berjam-jam dan mengurung diri di kamar. Si gadis tidak mau kulitnya yang putih mulus terkena debu ataupun sinar matahari yang dapat merusak kecantikan kulitnya.

Sementara itu, ibunya dijadikan layaknya pembantu. Ketika di gadis merawat kulitnya yang halus, tidak biasanya si ibu lupa menyiapkan lulur dan air hangat untuk anaknya. "Ibu..., kemana air hangat dan lulur untukku? Kamarku juga belum dirapikan," teriak si gadis dari dalam kamarnya.

Dengan tergopoh-gopoh, si ibu lari menuju kamar anak gadisnya. "Maaf. ibu tidak sempat menyiapkan untukmu. Hari ini pekerjaan ibu banyak sekali. Ibu harus mencuci, memasak, dan membersihkan rumah," jawab si ibu dengan lembut.

"Bagaimana sih ibu ini. Aku kan harus membersihkan kulitku agar sehat dan cantik. Tidak seperti kulit ibu yang kusam dan tidak terawat," ucap gadis itu.

"Cobalah sekali-kali kamu siapkan sendiri kebutuhanmu. Jangan hanya mengandalkan ibu saja. Kamu kan sudah dewasa," nasihat si ibu.

"Aku kan sibuk," jawab si gadis dengan ketus.

Si ibu mencoba bersabar. Ia sudah mengetahui tabiat anaknya. Setiap hari yang dilakukan gadis itu hanya mempercantik diri tanpa mempedulikan ibunya. Bahkan pekerjaan yang setidaknya dapat dilakukan gadis itu sendiri masih saja si ibu yang mengerjakannya. Si ibu berulang kali mencoba menasihati anaknya untuk mengubah tabiat buruknya.

"Anakku, jika kamu terus begini, bagaimana kamu bisa mandiri? Dan jika suatu hari nanti ibu sudah tidak ada di dunia ini lagi, bagaimana kamu bisa mengurusi dirimu sendiri? Cobalah kamu melakukan pekerjaan yang setidaknya dapat kamu lakukan sendiri. Jadi, ibu tidak khawatir lagi jika suatu hari nanti harus meninggalkanmu sendiri," kata si ibu.

"Aku tidak pernah meminta ibu untuk melahirkan aku ke dunia. Aku juga tidak pernah meminta ibu menjadi ibuku," jawab si gadis dengan ketus.

Betapa sedih dan teririsnya hati si ibu. Dalam hatinya ia berdoa,"Ya Tuhan, ampunilah dosa anakku dan sadarkanlah anakku."

Hari berganti hari, kebiasaan si gadis yang enggan keluar rumah karena takut kulitnya hitam kini sudah mulai berubah. Ia sudah mau keluar rumah dan mengenali lingkungannya. Setiap ia berjalan, orang selalu menatapnya penuh kekaguman. Kecantikan wajah si gadis membuat orang lain terpana dan berdecak kagum.

Suatu hari, tidak biasanya si gadis mau keluar rumah dengan ibunya. Betapa bahagianya hati si ibu melihat anaknya sudah mau menemaninya berbelanja atau sekedar menemani ibunya pergi ke kota.

Namun, kebahagiaan si ibu tidak berlangsung lama ketika anaknya mengatakan, "Ibu, aku mau sering keluar bersama ibu asalkan tidak mengaku bahwa ibu adalah ibuku. Dan jika aku berjalan, ibu jangan menghalangi pandanganku. Ibu harus berjalan di belakang aku."

Kali ini ucapan sang anak bagaikan sambaran petir untuk ibunya. Hatinya terluka sangat dalam. Si ibu hanya bisa pasrah dengan keinginan anaknya. Ia tidak mampu lagi untuk menasihati anaknya yang angkuh.

"Ya Tuhan, terlalu burukkah aku menjadi ibu untuk anakku? Mengapa anakku sampai malu untuk mengakui bahwa aku adalah ibunya?" tanya si ibu dalam hati.

Benar saja, ketika gadis itu keluar bersama ibunya, banyak yang bertanya kepada si gadis, siapa perempuan setengah baya yang berjalan di belakangnya. Penampilan mereka jauh berbeda. Si ibu berpakaian sederhana dan bersahaja, sedangkan si gadis berpakaian indah dan mewah. Penampilan keduanya bertolak belakang. Si ibu hanya berusaha tersenyum ketika orang-orang bertanya. Ia dilarang oleh gadis itu untuk mengakui bahwa ia adalah ibu kandungnya.

"Hai gadis cantik, apakah beliau ini ibumu?" tanya salah seorang pejalan kaki. "Oh, tentu saja dia bukan ibuku," sangkal si gadis.

"Benarkah? Pantas saja, kalian tampak berbeda. Tapi, jika dilihat-lihat, wajah kalian sebenarnya mirip," ucap pejalan kaki itu. "Ah, bagaimana mungkin aku mirip dengannya? Dia ini adalah seorang pembantu. Ibuku tentu sangat mirip denganku, cantik dan berkelas," ucap si gadis dengan angkuh.

Untuk kesekian kalinya, hati si ibu terluka sangat dalam. Hatinya menangis mendengar ucapan anaknya. Tidak pernah ia mengira bahwa anaknya akan mengatakan dirinya seorang pembantu. Sakit hatinya sudah tidak terbendung lagi.

Si ibu akhirnya berkata dalam hati, "Ya Tuhan, anakku sudah sangat keterlaluan. Hambamu ini tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Dengan cara apa Engkau akan menghukum anak yang angkuh ini Tuhan?"

Tuhan Mahaadil dan mendengar doa hambanya. Segala yang dikehendaki-Nya pastilah sesuatu yang terbaik untuk umatnya. Suatu hari, ketika gadis itu kembali menyakiti hati ibunya, tiba-tiba saja tubuh si gadis tampak kaku dan tidak dapat bergerak.

"Ibu..., apa yang terjadi dengan tubuhku? Aku tidak dapat menggerakkan tubuhku. Apa yang terjadi?" jerit si gadis. "Karena keangkuhan dan kecongkakanmu, Tuhan mungkin menghukummu, anakku," ucap si ibu.

Benar saja, tubuh si gadis semakin lama semakin kaku. Awalnya kakinya mengeras, lalu tubuhnya. Pada kesempatan yang terakhir, gadis itu berteriak minta maaf. Ia baru menyadari kesalahannya. "Ibu, maafkan kesalahanku," jerit si gadis itu sambil menangis menyesali perbuatannya.

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Nasi sudah menjadi bubur, penyesalan gadis itu sudah tidak berguna. Tubuh si gadis berubah menjadi batu. Sekarang, batu itu dikenal dengan sebutan "Batu Menangis".

Pesan Moral:

Surga ada di telapak kaki ibu. Itulah pepatah bijak yang menggambarkan betapa agungnya peran seorang ibu bagi kehidupan anak-anaknya di dunia dan akhirat kelak. Karenanya, berbuat baiklah pada ibu dan jangan menjadi anak durhaka.

Sumber : https://www.daerahkita.com/artikel/239/batu-menangis-cerita-rakyat-kalimantan-barat

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis
Motif Kain Motif Kain
Papua

Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Dendam Rajo sang Manusia Harimau Putih
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...

avatar
Mahlil Azmi
Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...

avatar
Kianasarayu