Ketika berbicara tentang kebudayaan, semua unsur budaya yang dimiliki oleh Indonesia sangat memesona, baik itu mengenai tradisi, keindahan alam, ragam kesenian, rempah-rempah, dan lain sebagainya, di mana setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing. Ragam kebudayaan itulah yang menjadi identitas dalam memberikan citra positif terhadap Indonesia di mata dunia.
Kebudayaan yang dimiliki setiap daerah tentunya berbeda dan mempunyai keunikan tersendiri untuk menunjukkan eksistensi pada daerah tersebut. Salah satunya, pada kota yang berada di pesisir pulau Jawa dan bagian timur Jawa Barat, yaitu kota Cirebon, memiliki segudang kekayaan budaya yang dapat dilihat dari berbagai aspek, seperti sejarah, kekuatan religi, kesenian, cita rasa masakan, kerajinan, termasuk juga sebagai daerah dengan potensi sumber daya laut yang besar. Namun, khasanah kebudayaan Cirebon belum lengkap apabila tidak membahas mengenai salah satu kerajinan tangan yang menjadi icon Cirebon, yaitu kerajinan Batik Cirebon. Batik merupakan sebuah karya seni rupa terapan, yang teknik pembuatannya dengan cara menggambar di atas kain, menggunakan lilin dan canting sebagai alat dan bahan untuk membuatnya, kemudian kain tersebut dapat digunakan untuk membuat pakaian, sarung, dan lain sebagainya.
Peta perbatikan Nusantara telah mencatat Cirebon sebagai salah satu sentra batik, di mana batik megamendung sebagai masterpiece Cirebon yang motifnya memiliki kekhasan tersendiri dan tidak dimiliki oleh daerah lain yang juga penghasil batik. Latar belakang terciptanya motif megamendung tidak terlepas dari sejarah Cirebon, pada saat itu Pelabuhan Muara Jati dijadikan sebagai tempat yang ramai disinggahi oleh pedagang dunia, salah satunya China. Singkat cerita, pada abad ke-16 Sunan Gunung Jati sebagai penyebar agama Islam, menikahi Ratu Ong Tien dari China. Kemudian, ada beberapa benda seni yang dibawa oleh China masuk ke daerah Cirebon, seperti keramik, piring, dan sebuah kain yang bermotif awan. Dari pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Ratu Ong Tien, seakan-akan membukakan pintu masuk kebudayaan China ke keraton Cirebon. Kemudian, para pembuat batik di keraton terinspirasi dengan budaya atau tradisi China dan melukiskannya ke dalam kain batik yang dibuat. Namun, motif tersebut tidak semuanya ditiru, harus memiliki sentuhan khas Cirebon agar terlihat beda antara motif megamendung yang berasal dari China dan dari Cirebon. Misalnya, jika dari China motif megamendung yang berbentuk awan memiliki garis berupa bulatan, sedangkan yang berasal dari Cirebon garis motif awannya terlihat lonjong, lancip dan segitiga.
Motif batik megamendung berbentuk awan yang menggambarkan dunia atas, hal tersebut diambil dari faham taoisme. Artinya, bentuk awan tersebut sebagai hal yang melambangkan dunia luas, bebas dan bermakna transidental (keTuhanan). Hal ini juga berkaitan dengan dunia kesenirupaan Islam yang ada pada abad ke-16, di mana kaum Sufi menggunakan konsep mengenai awan untuk ungkapan dunia besar atau alam bebas. Sekarang, batik megamendung telah menjadi identitas Cirebon yang menambah eksistensi dari segi kebudayaan. Selain itu, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia berniat untuk mendaftarkan motif megamendung ke UNESCO agar diakui sebagai salah satu warisan dunia atau biasa dikenal dengan world heritage.
Kegiatan membatik pada masa itu dilakukan oleh para pekerja keraton sebagai lapangan pekerjaan untuk meningkatkan perekonomian. Para pekerja mayoritas berdomisili di desa Trusmi dan sekitarnya, hingga saat ini Cirebon identik dengan Batik Trusmi. Nama desa Trusmi memiliki arti terus bersemi, saat ini Trusmi telah dimekarkan menjadi dua yaitu Desa Trusmi Wetan dan Desa Trusmi Kulon, yang keduanya termasuk dalam wilayah Kecamatan Weru. Untuk mengunjungi wilayahnya relatif sangat mudah, karena wilayah Cirebon merupakan pintu gerbang dari Jawa Barat, di mana jalur utama untuk arah Jakarta, Bandung, atau Tegal akan selalu menjumpai titik penting yakni wilayah Kecamatan Weru atau dikenal dengan sebutan Plered. Dari jalan raya Plered sudah terlihat hiruk pikuk keramaian pasar, lalu akan disambut dengan tugu besar bertuliskan “Selamat Datang di Kawasan Wisata Belanja Batik Desa Trusmi Kabupaten Cirebon” yang keindahan tugunya dilengkapi hiasan batik. Sepanjang jalan Trusmi akan dihidangkan puluhan toko batik berjajar di sisi kanan dan kiri. Pengunjung yang datang ke Trusmi bukan hanya warga lokal Cirebon saja, tetapi tempat ini sering dikunjungi oleh rombongan dari luar kota bahkan hingga turis asing pun berbondong-bondong mendatangi pusat sentra batik Cirebon alias Trusmi.
Selain sebagai pusat perbelanjaan batik, di dalam Trusmi juga disediakan wisata edukasi untuk mempelajari cara membuat batik, berikut penjelasannya mengenai langkah-langkah pembuatan batik tulis :
Setelah itu, bersihkan kain dan keringkan. Dapat lakukan kembali proses pembatikan dengan penutupan malam atau lilin menggunakan canting untuk menahan warna selanjutnya (kembali seperti proses awal). Apabila banyak warna yang digunakan, lakukan proses di atas dari awal hingga akhir berulang kali sesuai warna yang dibutuhkan.
Naskah Nusantara • Sunda Kuno Kidung Lakbok Kisah Kerajaan Banjarpatroman, Ramalan Abadi, dan Kelahiran Wayang Kila Kidung Lakbok adalah sebuah karya sastra lama berbentuk prosa naratif atau puisi naratif dalam bahasa Sunda yang menceritakan tentang sejarah dan legenda Kerajaan Banjarpatroman. Kerajaan tersebut dipercaya pernah berdiri di wilayah yang kini dikenal sebagai Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Naskah ini sempat nyaris hilang, kemudian ditulis ulang dan dilestarikan kembali pada tahun 2013 melalui publikasi daring. 📜 Sejarah dan asal-usul Menurut naskah Kidung Lakbok, Kerajaan Banjarpatroman mengalami masa kejayaan sebelum akhirnya runtuh akibat perang saudara atau perebutan kekuasaan. Peristiwa tersebut dianggap sebagai dosa besar yang menimbulkan kutukan. Akibat perbuatan tersebut, turunlah azab berupa bencana alam besar, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, dan banjir bandang. Kerajaan yang dahsyat itu akhirnya tenggelam dan berubah menja...
📜 KIDUNG LAKBOK & WAYANG KILA Kidung Lakbok Kidung Lakbok adalah sebuah karya sastra lama berbentuk prosa naratif atau puisi naratif dalam bahasa Sunda yang menceritakan tentang sejarah dan legenda Kerajaan Banjarpatroman. Kerajaan tersebut dipercaya pernah berdiri di wilayah yang kini dikenal sebagai Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Naskah ini sempat nyaris hilang, kemudian ditulis ulang dan dilestarikan kembali pada tahun 2013 melalui publikasi daring. Sejarah dan Asal-Usul Menurut naskah Kidung Lakbok, Kerajaan Banjarpatroman mengalami masa kejayaan sebelum akhirnya runtuh akibat perang saudara atau perebutan kekuasaan. Peristiwa tersebut dianggap sebagai dosa besar yang menimbulkan kutukan. Akibat perbuatan tersebut, turunlah azab berupa bencana alam besar, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, dan banjir bandang. Kerajaan yang dahsyat itu akhirnya tenggelam dan berubah menjadi rawa-rawa luas yang dikenal sebagai Rawa Lakbok hingga saat ini. Rama...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Langkah Awal Hubungi Costumer Service Melalui WhatsApp Di Nomor📲(0813•3056•2323) Atau (0821•1212•730). Siapkan Ktp, Jelaskan Alasan Pembatalan Pinjaman Lalu Ikuti Instruksi Yg Diberikan Oleh Costumer Service Untuk Proses Pembatalan Pinjaman.
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...