Dahulu kala hiduplah dua raksasa bersaudara yang mana kaka bernama Ujung Dan adik bernama silu. mereka hidup di pesisir sungai barito di bawah gunung buring yang berbatasan antara Kelurahan Tumbang lahung dengan Desa Muara Babuat, awalnya mereka hidup bahagia dengan apa yang mereka punya, sampai di suatu hari si ujung berangkat memancing ikan di dekat kelurahan tumbang lahung yang lumayan jauh dari gunung buring kalau berjalan kaki, tetapi karena ujung ini adalah seorang raksasa dia dengan mudah mencapai tujuanya tersebut, sebelumnya sebelum unung berangkat untuk memancing, dia berpesan kepada silu untuk menjaga nasi yang di masak sembari dia pergi memancing, konon katanya dahulu kala nasi yang mereka masak adalah nasi emas. Tapi sayangnya silu tidak mendengar pesan kakanya karena dia tidak sengaja ketiduran, sampai akhirnya nasi yang di masak ujung pun gosong dan bau gosongnya membaur ke segala penjuru sampai ke arah tempat ujung memancing dan tercium oleh ujung, awalnya ujung masih tidak menyadari kalau bau yang dia cium itu bau nasinya yang dia masak gosong samapai akhirnya dia tersadar kalo bau yang dia cium itu nasi yang dia masak.Akhirnya ujung bergegas pulang dengan melompat dan berlari dan dengan mudah dia sampai ketempatnya dengan cepat, dan dia langsung berteriak "DASAR ADIK YANG TIDAK BERGUNAAAAAAAA", Suara ujung menggelegar di seluruh penjuru dunia sampai-sampai raksasa di benua lain pun mendengar teriakan ujung, setelah itu ujung dengan marah menendang kencenng (sejenis panci orang dayak) dengan kuat sampai terkena gunung buring dan membuat gunung buring lebak atau runtuh sebagian, dan keceng yang di tendang tidak tau entah kemana terbangnya saking kuatnya ujung menendangnya. Setelah melihat kakanya marah sejadi-jadinya silu pun menagis berderai air mata, sampai sungai barito menjadi pasang karena menyesal dengan kelalaianya dan sakit hati karena di permalukan kakanya kepada raksasa yang mendengar teriakan kakanya, dengan sakit hati silu kabur meninggakkan kakanya ke benua selatan dengan berlari sekencang-kencangnya. Di saat utu karena ujung masih marah dengan adiknya karena merasa adiknya tidak ada sopan santun karena bukanya dia meminta maaf malah dia kabur dati rumah, ujung tidak sadar dan tidak tau kalau itu kali terakhir dia melihat silu, bekas tungku kenceng memasak nasi yang awalnya api menyala di sela-selanya kini padam basah karena air mata silu, setelah beberapa hari ujung tidak mendapati silu kembali ke rumah sampai beberapa bulan, ujung pun mencari adiknya tapi sampai akhir hayat ujung tidak pernah lagi bertemu adiknya. Tunggku yang di gunakan sampai sekarang masih ada di daerah perbatasan muara babuat-tumbang lahung dan tunggku itu di namakan tungku dilang yang berarti tunggu di langgar, karena silu yang melanggar janjinya dengan kakanya ujung.
Pesan Moral
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...