Kerajaan Larantuka semula didirikan oleh seorang tokoh perempuan bernama Watowele bersama suaminya Pati Golo Arakian yang berasal dari keturunan bangsawan dari pulau Timor dari kerajaan Wehale merupakan tokoh peranakan perempuan bangsawan Jawa danjuga bangsawan kerajaan Wehale. erajaan itu semula lebih dikenal dengani kerajaan Ata Jawa sebelum akhirnya bernama Larantuka. Watowele senduru merupakan tokoh keramat yang diyakini dilahirkan dari gunung Ilemandiri dan merupakan cikal bakal keturunan satu – satunya dinasti yang memerintah kerajaan Larantuka dan juga dihormati sebagai keturunan langsung dari gunung / keturunan Ile Jadi. Baru pada pemerintahan keturunan ke – 3, yakni raja Sira Demon Pagu Molang kerajaan Larantuka menemukan bentuk pemerintahan tradisional yang lebih teratur yang tetap dipelihara hingga berakhirnya kerajaan Larantuka.
Cerita rakyat versi lain Watuwele dan Lenurat dikatakan sebagai penduduk asli Larantuka yang di sebut Ile jadi. Pada mulanya penghuni lereng Gunung Ile Mandiri dua orang kakak beradik yakni Lenurat dan adik perempuannya Watuwele. Kedua saudara tersebut seluruh tubuhnya berbulu, mencari makan dengan cara berburu binatang di hutan dengan menggunakan kukunya yang panjang sebagai senjata. Pada suatu ketika kedua saudara itu berpisah, Watuwele pergi kearah timur menetap di Woto dan Lenurat menetap di Likat Lamaboting Awo Lama Bunuk. Sementara itu di pesisir muncul pendatang baru yang dikenal sebagai orang paji. Lenurat kawin dengan gadis paji yang bernama Hadu Boleng Toniba Duli. Keturunan meraka menjadi nenek moyang penduduk Larantuka yang di sebut baipito. Sedangkan Watuwele menika dengan seorang tokoh bernama Pati Golo Arakiang. Riwayat pertemuan mereka di sebutkan : pada waktu Patigolo Arakiang mendarat di Krong di teluk Oka, ia kemudian berjalan melintas di hutan sampai di tempatnya Watuwele.
Ernst Vatter (1984) mengungkapkan Lenurat tidak di lahirkan dari seorang wanita seperti saudara perempuannya Watuwele. Ia timbul dari gunung. Ia muncul sebagai orang liar dan buas berambut dari kaki hingga kepala. Di rambutnya bersarang ular dan kadal. Kakak beradik ini tinggal di hutan di gunung Ile Mandiri. Pada waktu itu di gunung belum ada manusia yang tinggal. Manusia yang ada ialah orang paji yang tinggal di pantai dan daratan. Orang paji awalnya tidak mengetahui tentang Lenurat dan Watuwele.
Pada suatu malam ada seorang anak perempuan bernama Hadubole Teniba Duli yang melihat ada api di puncak gunung. Ia menyiruh saudaranya Pati Golo Arakiang pergi melihat ketempat tersebut. Ia melihat sebuah tunggku api yang telah kosong dan tumpukan abu dan arang. Untuk menghindari bahaya Pati Golo memanjat pohon. Tidak lama kemudian Watuwele kembali dari berburu. Ia mempinyai naluri yang tajam bahwa di tempatnya kedatangan orang asing yang belum menampakan diri.
Akhirnya di lihatnya Pati Golo Arakiang di atas pohon. Watuwele berjanji tidak akan menggangu Pati Golo Arakiang, oleh karena itu ia turun dari pohon. Mereka berdua menyalakan api dan membakar daging binatang buruan. Pati Golo Arakiang kebetulan membawa arak dan diminum berdua. Karena Watuwele minum terlalu banyak sehingga mabuk dan tertidur. Kesempatan itu digunakan oleh Pati Golo Arakiang untuk memotong kuku dan mencukur bulu badan Watuwele. Setelah di cukur barulah ketahuan bahwa Watuwele adalah seorang perempuan. Ia kemudian di beri pakian dan pada akhirnya mereka setuju untuk menjadi pasangan suami istri. Mereka mempunyai keturunan empat orang putra yang menjadi nenek moyang Raja Larantuka dan anggota Pou suku lema. Keturunan mereka di kenal sebagai orang demon atau demon nara. Sedangkan Lenurat yang kawin sama orang paji mempunyai anak lima orang dan menjadi nenek moyang penduduk Ile Mandiri dan nenek moyang orang paji atau Paji nara.
Ada versi cerita lain yang menyebutkan bahwa Raja Larantuka diturunkan oleh burung garuda dari gunang Ile Mandiri. Raja Larantuka ke-9 yang bernama Raja Ola dibaptis sebagai raja Katolik yang pertama dengan nama Don Constantino pada tahun 1645. Dilihat bahwa raja ke-9 yang di baptis pada tahun 1645 berarti dari raja pertama sebagai pendiri kerajaan sampai raja ke-9 terdapat 9 generasi. Dengan asumsi setiap generasi berjarak 25 tahun, maka dapat di perkirakan Kerajaan Larantuka berdiri pada tahun 1420. Pada masa tersebut, di wilayah indonesia bagian barat Kerajaan Majapahit masih berkuasa.
Pada masa lampau Larantuka atau Flores Timur merupakan salah satu wilayah pengaruh Kerajaan Majapahit yang di kenal dengan Jawa Muhan. Cerita bahwa Raja Larantuka di turunkan oleh burung garuda mengindikasikan adanya unsur pengaru Hindu mengingat burung garuda adalah burung mitologis dalam agama Hindu. Oleh karena itu dapat diduga bahwa raja pertama Larantuka diturunkan burung garuda adalah terkait dengan adanya unsur kekuasaan hindu yang meneguhkan raja pertama Larantuka.
Kerajaan Larantuka yang menguasai wilayah Demon membangun struktur kerajaan dengan istilah "Demon Lewo Pulo". Sepuluh wilayah atau lewo tersebut dipimpin oleh Kakang atau dikenal dengan Kakang Lewo Pulo. Kesepuluh wilayah Demon tersebut antara lain yaitu Pamakayo (Lewolein), Lewoingu (Lewolaga), Mudakaputu, Lewo Leba, Tana Boleng, Horowura, Lama Lera, Wolo, Lewo Tobi, Lewotala. Sedangkan orang Paji mendiami 5 daerah dipesisir pantai, oleh karena itu disebut "Paji Watan Lema" yang kemudian dikenal dengan sebutan "Solor Watan Lema". Padamulanya ada 6 kerajaan dilingkungan wilayah pengaruh Paji, antara lain yaitu Lohayong, Lamakera, Adonara, Terong, Lamahala, Serbiti (tetapi kerajaan serbiti hilang sehingga tinggal 5 buah kerajaan).
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...
Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...
Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...