Alkisah pada masa silam di Papua, hiduplah seorang laki laki bernama Woiram dan istrinya Bonadebu.
Mereka penghuni kampung Merem. Woiram tak tinggal serumah dengan istrinya. Hal itu dilakukannya karena tujuan Woiram menikahi Bonadebu hanyalah untuk menjaga harga dirinya sebagai seorang lelaki. Woiram sama sekali tak ingin memiliki anak dari perkawinannya.
Rumah tangga yang dilalui Woiram dan Bonadebu yang semula harmonis, lama lama terasa hambar. Sebagai seorang wanita normal, tentu saja Bonadebu ingin memiliki anak.
Hari demi hari berlalu, keinginan Bonadebu tak ditanggapi sedikitpun oleh Woiram. Ia tak tergugah sama sekali untuk memenuhi keinginan istrinya.
Kejenuhan melakukan kegiatan sehari hari membuat Woiram merasa lelah. Ia ingin sekali mencari suasana baru. Tak disangka keinginan memiliki seorang anak mulai terbersit di hati Woiram. Keinginan itu makin lama makin kuat. Namun demikian Woiram malu untuk mengutarakan keinginannya itu pada Bonadebu. Setiap malam ia hanya berdoa agar Dewa berkenan mengabulkan keinginannya.
Sehari hari Woiram mencari nafkah dengan berburu dan berkebun. Pada suatu pagi ketika tengah membuat tali busur untuk panahnya, jari telunjuk Woiram teriris pisau. Woiram segera memasukkan jari telunjuknya yang berdarah ke dalam air tempayan di kamarnya. Darah yang mengucur cukup deras membuat air tempayan itu berwarna merah. Setelah mengobati lukanya, Woiram menutup tempayan itu dan bergegas meninggalkan rumah untuk menjemput Bonadebu. Mereka akan berkebun hari itu. Banyak sekali pekerjaan yang harus mereka lakukan di kebun. Hari sudah gelap ketika Woiram tiba di rumahnya lagi. Karena lelah seharian bekerja, Woirampun langsung tertidur. Tengah malam Woiram terbangun karena mendengar suara anak kecil yang tengah menangis. Ketika terbangun, Woiram mengira dirinya bermimpi. Woirampun memutuskan untuk melanjutkan tidurnya. Baru beberapa saat ia tertidur, Woiram tersentak bangun karena suara tangisan anak kecil yang terdengar semakin keras.
Woiram duduk di atas dipannya. Ia mencari asal suara yang terdengar begitu dekat. Dengan perlahan Woiram berjalan menghampiri tempayan yang terletak di sudut kamarnya. Dugaannya tepat. Ketika Woiram membuka tutupnya, tampaklah olehnya seorang anak lelaki kecil tengah duduk menangis di dalamnya. Woiram segera mengangkat anak itu dan memindahkannya ke dipannya.
Anak kecil itupun tertidur setelah Woiram mengusap usap punggungnya. Sambil memandang anak itu, Woiram bersyukur kepada Dewa yang telah berkenan memberinya seorang anak. Ia yakin, Dewa telah merubah air yang bercampur cucuran darahnya menjadi seorang anak untuknya.
Woiram tak bisa tidur lagi sampai fajar menyingsing. Ia bingung bagaimana memberitahukan keberadaan anak itu kepada Bonadebu. Ia takut Bonadebu tak percaya kalau Dewa yang memberikan anak itu. Ia juga takut jika Bonadebu merasa ditipu karena ternyata ia memiliki anak dari wanita lain. Berbagai pikiran yang mengganggunya itu akhirnya membuat Woiram memutuskan untuk membawa anak itu ke tengah hutan. Woiram berniat membangun sebuah rumah kecil sebagai tempat tinggal anak itu.
Demikianlah anak kecil itu akhirnya tinggal di rumah yang dibangun Woiram di tengah Hutan. Setiap hari Woiram menjenguk anak itu dan memberinya makan. Hari terus berganti. Tak terasa anak kecil itu tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah. Woiram memberinya nama Woiwallytmang.
Sama seperti ayahnya, sehari hari Woiwallytmang berburu dan berkebun. Pada suatu hari nasibnya sedang sial, pemuda itu tak mendapat seekor binatangpun setelah berburu sampai siang. Karena lelah, Woiwallytmang beristirahat dibawah sebuah pohon. Tak sengaja matanya menangkap seekor burung yang tengah bertengger di pohon di dekat tempatnya duduk. Woiwallytmang segera memanah burung itu. Lagi lagi ia tak beruntung, panahnya salah sasaran.
Woiwallytmang mengikuti arah anak panah terakhirnya melesat. Ternyata anak panah itu menancap di batang pohon pisang di sebuah kebun. Pemuda itu berjalan memasuki kebun dan mangambil anak panahnya. Ketika ia selesai mencabut anak panahnya, Woiwallytmang mendengar sebuah suara menegurnya.
“Hai pemuda tampan, siapakah namamu ?”, ujar seorang perempuan dari balik pohon pisang.
Woiwallytmang tertegun memandang perempuan yang berdiri di hadapannya. Ia heran, ternyata ada manusia lain selain laki laki. Memang sejak kecil Woiwallytmang hanya mengenal sosok ayahnya. Walau masih merasa heran, Woiwallytmang menjawab .”Namaku Woiwallytmang”, ujarnya singkat. Perempuan itu masih ingin mengetahui lebih jelas lagi. Ia merasa tidak pernah melihat Woiwallytmang di kampungnya selama ini. “Siapakah orang tuamu ? tanya perempuan itu lagi. “Ayahku Woiram”, jawab Woiwallytmang singkat. Perempuan itu yang ternyata adalah Bonadebu sangat terkejut mendengar jawaban Woiwallytmang. Ia tak menyangka kalau suaminya ternyata memiliki seorang anak yang telah tumbuh menjadi pemuda gagah yang sekarang berdiri di hadapannya. Setelah mencoba menahan rasa amarahnya, Bonadebu berkata kepada Woiwallytmang.
“Mari kuantarkan kau kepada ayahmu “, ajaknya seramah mungkin. Woiwallytmang yang tak dikunjungi ayahnya beberapa hari ini langsung setuju.“Jadi kau tahu dimana ayahku berada ?”, tanyanya antusias.
Bonadebu mengangguk sambil tersenyum.
Sebelum menuju ke rumah Woiram, Bonadebu mengajak Woiwallytmang mampir di Sungai Wasi untuk menangkap udang yang akan diberikan kepada Woiram. Karena asyik menangkap udang, Bonadebu tak melihat ketika Woiwallytmang berjalan memasuki gua yang terletak di pinggir sungai itu. Setelah menunggu lama, Woiwallytmang tak muncul juga.
Bonadebu mengira Woiwallytmang telah pergi meninggalkannya, akhirnya Bonadebu memutuskan untuk pulang.
Kepala adat tempat tinggal Bonadebu dan Woiram memiliki dua orang putri bernama Mesi dan Mesam. Tak lama setelah Bonadebu meninggalkan Sungai Wasi, Mesi dan Mesam mendatangi sungai itu untuk mencari udang buat ayah mereka. Ketika tengah mencari udang, Mesi dan Mesam dikejutkan oleh kedatangan Woiwallytmang yang kebetulan baru keluar dari gua.
Woiwallytmang lagi lagi terpana melihat kedua gadis itu. Akhirnya mereka berkenalan dan bercakap cakap. Woiwallytmang membantu Mesi dan Mesam mencari udang. Ia sangat gembira karena menemukan teman baru hari itu.
Perkenalan Woiwallytmang dengan kedua putri kepala adat rupanya meninggalkan kesan yang mendalam buat pemuda itu. Ia jatuh cinta pada Mesi. Agar punya alasan untuk bertemu Mesi, Woiwallytmang senantiasa mencari udang di Sungai Wasi dan membawanya ke rumah kepala adat.Kepala adat menangkap maksud Woiwallytmang. Setelah beberapa kali mengantar udang, akhirnya kepala adat menanyakan maksud pemuda itu sesungguhnya.
“Saya ingin melamar Mesi menjadi istri saya, Bapa”, kata Woiwallytmang dengan kepala tertunduk malu.
Melihat kesungguhan Woiwallytmang, kepala adat setuju untuk menikahkan putrinya dengan Woiwallytmang.
Pesta meriah dilangsungkan. Selain merayakan pernikahan Mesi dan Woiwallytmang, kepala adat juga menyerahkan jabatannya kepada Woiwallytmang pada pesta itu. Seluruh penduduk Merem diundang, tak terkecuali Woiram dan Bonadebu. Woiram sungguh kaget begitu melihat sang pengantin laki laki adalah anaknya, Woiwallytmang.
Bonadebu yang telah menceritakan perihal Woiwallytmang kepada penduduk, membuat mereka membenci Woiram. Mereka menganggap Woiram telah mengasingkan anaknya sendiri ke tengah hutan. Orang orang itu sungguh tak tahu apa alasannya sesungguhnya dan bagaimana ia memelihara Woiwallytmang dengan baik.
Woiram sungguh kecewa mengapa kepala adat tak menanyakan perihal orang tua menantunya itu dan mengundangnya. Apalagi kini para penduduk setuju untuk menerimanya sebagai kepala adat yang baru. Woiram merasa dirinya tak dihargai sama sekali.
Dengan rasa kecewa yang mendalam, Woiram berdoa kepada Dewa agar memberinya keadilan. Tiba tiba hujan turun dengan derasnya tak henti. Semua makanan yang terhidang dalam pesta itu berubah menjadi batu. Hujan yang tak jua berhenti mengakibatkan banjir besar yang menenggelamkan Kampung Merem. Seluruh penduduk hanyut terbawa derasnya air. Hanya Woiwallytmang, Mesi, dan Woiram yang selamat dari bencana banjir itu. Mereka selamat karena memanjat pohon pinang.
Setelah banjir surut, Woiram mengajak Mesi dan Woiwallytmang ke Sungai Wasi. Ia menasihati mereka agar senantiasa memohon kepada dewa agar diberi banyak keturunan. Setelah itu Woiram menginjakkan kakinya ke atas sebuah batu besar dan tiba tiba menghilang disana. Mesi dan Woiwallytmang mendengarkan kata kata Woiram. Dewapun mendengarkan doa yang senantiasa mereka panjatkan. Keturunan mereka sangat banyak dan berkembang biak menjadi penduduk Merem di Papua saat ini.
https://dongengceritarakyat.com/dongeng-cerita-rakyat-papua-asal-mula-penduduk-merem-papua/
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...
Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...
Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...