Prabu Druyudhana ( Suyudhana ) Raja Hastinapura sedang mengadakan siniwakan agung ( rapat paripurna ) yang juga dihadiri guru besar kerajaan, Resi Druna ( Durna ) dan Senapati Agung dari Awangga Narpati Basukarna ( Adipati Karna ), Patih Sengkuni dan para Kurawa, membicarakan tentang wangsit yang diterima Dewa melalui mimpinya akan turun wahyu Makhutarama di Kutharunggu.
Kerajaan yang mendapat wahyu Makhutarama, akan menjadi negara yang adil dan makmur, gemah ripah loh jinawi, rakyatnya tidak akan menderita kekurangan apapun dan memperoleh perlindungan dari Hyang Maha Kuasa, demikianlah petunjuk dari Resi Druna ( Durna ). Sebagai murid dan sekaligus sebagai Raja, Prabu Druyudhana/Suyudhana, setelah mendengar petunjuk dari Guru Besarnya kemudian memerintahkan Senapati Agungnya Narpati Baskarna ( Adipati Karna ) untuk berangkat dan mendapatkan Wahyu Makhutarama di Pertapaan Kutharunggu. Narpati Basukarna ( Adipati Karna ) berangkat ke Pertapaan Kutharunggu disertai Sabregada (sepasukan) prajurit Hastina dengan perlengkapan perangnya.
Syahdan di Pertapaan Kutharunggu, waktu itu Anoman dan kadang bayu sedang berbincang-bincang tentang maksud dan tujuan berguru (nyantrik/ngaji ilmu ) kepada Panembahan Ke sawasidhi. Waktu itu Anoman dan kadang bayunya mendapat tugas dari Panembahan Kesawasidhi untuk menjaga keamanan dan ketentraman pertapaan selama Panembahan Semadhi ( Meditasi ).
Ketika Panembahan Kesawasidhi bersemadhi ( Meditasi ), datanglah Adipati Karna ( Narpati Basukarna ), dengan maksud ingin bertemu dengan Panembahan Kesawasidhi. Maksud dan tujuan Narpati Basukarna ( Adipati Karna ) tersebut di halang-halangi oleh Anoman dan para saudaranya, karena Sang Panembahan masih semadhi ( meditasi ). Terjadi perbedaan persepsi antara Anoman dengan Narpati Basukarna, akhirnya terjadi pertempuran sengit yang berakibat menimbulkan banyak korban, para kurawa tidak mampu menandingi kesaktian Liman Situbandha, Jajagwerka dan Gunung Maenaka, sedangkan Anoman yang bertempur melawan Narpati Basukarna berlangsung dengan sengitnya, keduanya mengeluarkan kesaktiannya masing-masing.
Narpati Basukarna ( Adipati Karna ), karena terdesak akhirnya mengeluarkan senjata pamungkas ( senjata andalan terakhirnya ) yang berupa panah Kunthawijaya. Anoman sangat terkejut, karena Kunthawijaya tidak boleh diremehkan (dipandang enteng) dan tidak seorangpun yang mampu menahan kekuatannya ( sekarang senjata nuklir ).
Merasa dirinya tidak mampu menandingi kekuatan senjata Kunthawijaya, maka Anoman terbang setinggi-tingginya kemudian melesat me nukik kebawah untuk mengambil Kunthawijaya dari tangan Narpati Basukarna. Menyadari senjata andalannya terlepas dari busurnya dan tidak mengenai sasarannya, maka kembalilah Narpati Basukarna dengan lemasnya ke Awangga, ia tidak kembali ke Hastina karena merasa sedih, malu, gagal dalam menjalankan tugasnya dan telah kehilangan pusaka andalannya.
Kita tinggalkan dulu Narpati Basukarna ( Adipati Karna ) yang dalam keadaan sedih dan malu karena kehilangan senjata/pusaka andalannya Kunthawijaya dan kegagalannya dalam menjalankan tugas untuk mendapatkan wahyu Makhutarama. kita beralih keperjalanan Raden Harjuna beserta para punakawan yang selalu menghibur dikala Harjuna dalam kesedihan waktu perjalanan kepertapaan Kutharunggu untuk memperoleh wahyu Makhutarama.
Ketika perjalanan memasuki hutan belantara, Raden Harjuna dihadang dan diganggu perjalanannya oleh para Raksasa, sehingga terjadi pertempuran dan akhir pertempuran dimenangkan oleh Raden Harjuna dan perjalanannya dilanjutkan kepertapaan Kutharunggu.
Kerajaan Amerta yang diselimuti awan hitam bagaikan tidak ada sinar matahari, karena itu seluruh penghuninya duduk termenung diam membisu. Pandangan mata menatap hampa nafas berdesah dan gelisah menyelimuti hati mereka, demikian pula dengan Prabu Puntadewa, Bima, Nakula, Sadewa dan Raden Gatutkaca. Prabu Puntadewa sedang memikirkan Prabu Kresna yang telah lama tidak berkunjung ke Amarta dan Raden Harjuna yang juga sudah la-ma belum kembali dari tugasnya untuk menda-patkan Wahyu Makhutarama di pertapaan Kutharunggu.
Bima diperintah Prabu Puntadewa untuk mencari beritanya Prabu Kresna, sedangkan Raden Gatukaca diperintahkan untuk mencari keberadaan Raden Harjuna dan keduanya segera berangkat meninggalkan Amerta untuk melaksanakan tugasnya.
Belum kembalinya Raden Harjuna, juga me nimbulkan kegelisahan Dewi Wara Subadra dan Dewi Wara Srikandhi istri-istri Raden Harjuna di kasatriyan Madukara.
Kedua istri Raden Harjuna, memohon kepada para dewa untuk mengetahui keberadaan suaminya dengan sungguh-sungguh.
Ketulusan dan keseriusan mereka akhirnya dewa mengabulkan dengan datangnya Batara Naradha. Untuk memberi jalan kepada Dewi Subadra dan Dewi Sri kandhi, keduanya dirubah wujudnya menjadi dua satriya elok rupawan dan diberi nama Shintawaka untuk Dewi Subadra dan Madusubrata untuk Dewi Srikandhi.
Keduanya diperintahkan untuk menuju ke pertapaan Kutharunggu, setelah selesai memberi petunjuk dan arahan kepada Shintawaka dan Madusubrata, Batara Naradha kembali menuju ke-kahyangan sedangkan Shintawaka dan Madusubrata segera berangkat kepertapaan Kutharunggu, menuruti petunjuk Batara Naradha.
Beralih cerita dari kasatriyan Madukara, menuju kepertapaan Kutharunggu, setelah Panembahan Kesawasidhi selesai semadhinya, kemudian Anoman melaporkan tentang kejadian pertempurannya antara ia yang dibantu dengan saudara-saudaranya dengan Narpati Basukarna ( Adipati Karna ) dengan para Kurawa, karena melarang Narpati Basukarna untuk bertemu dengan Panembahan yang sedang semadi/meditasi dan senjata Narpati Basukarna - Kunthawijaya - yang dapat direbutnya, diserahkan kepada Panembahan Kesawasidhi.
Mendengar laporan Anoman tersebut, Panembahan Kesawasidhi kemudian memberi wejangan kepada Anoman yang pada hakekatnya merupakan teguran halus atas kesalahan Anoman.
Panembahan Kesawasidhi, sebagai figur atau tokoh panutan dalam beragama, meskipun ia marah atau tidak berkenan dengan perbuatan Anoman yang salah menurut tatanan, maka cara menegurnyapun dengan menggunakan tutur kata yang halus untuk menjaga perasaan orang yang ditegurnya istilahnya " nDuweni roso rumongso " atau " nDuweni teposeliro ", semuanya dikembalikan pada dirinya sendiri andaikan ia ditegur dengan cara kasar bagaimana perasaannya ? tentunya sakit hati bukan ! .
Sikap Panembahan Kesawasidhi dalam menyalahkan sikap Anoman dengan tutur kata yang halus berupa wejangan itu juga terdapat didalam Al Qur'an sebagai Firmannya Allah sbb. :
Allah tidak menyukai ucapan buruk *) yang diucapkan secara terbuka, kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.( An Nisaa' - QS. 4 - 148 )
Anoman melarang Narpati Basukarna ( Adipati Karna ) menemui atau menghadap Panembahan Kesawasidhi dipersalahkan, karena Anoman dalam menjalankan tugasnya melebihi wewenangnya, apalagi sampai bertempur yang menimbulkan banyak korban, menyusahkan dan membuat malu seorang Senapati Agung karena kehilangan senjata andalannya ( pusaka andalannya ).
Anoman hanya diberi wewenang untuk menjaga keamanan dan ketentraman Pertapaan Kutharunggu saja. Panembahan Kesawasidhi tidak pernah memberi wewenang Anoman dan saudara-saudaranya untuk menolak orang yang akan bertemu atau menghadap Panembahan.
Anoman sungguh sangat terkejut mendengar sabda Panembahan Kesawasidhi, menurut Anoman ia telah berbuat benar, ternyata sebaliknya justru tanpa disadari Anoman telah berbuat kesalahan.
Menyadari kesalahannya, Anoman memohon petunjuk Panembahan Kesawasidhi untuk menebus kesalahannya, Anoman diperintahkan kembali kepertapaan Kendhalisada agar bersemadhi/meditasi mohon petunjuk para dewa dan mohon pengampunannya.
Anoman segera meninggalkan pertapaan Kutharunggu, kembali kepertapaan Kendhalisada untuk melaksanakan perintah Panembahan Kesawasidhi.
Kejadian tersebut sama dengan Anoman telah melebihi Perintah Panembahan Kesawasidhi, melebihi perintah samahalnya menambah atau mengurangi perintah artinya sama dengan mendustakan perintah.
Sepeninggal Anoman, datanglah Raden Harjuna dan menghadap Panembahan Kesawasidhi, mengutarakan maksud dan tujuan kedatangannya kepertapaan Kutharunggu untuk mendapatkan wahyu Makhutarama.
Mendengar keinginan Raden Harjuna untuk mendapatkan wahyu Makutharama, kemudian Panembahan Kesawasidhi memberikan wejangan kepada Raden Harjuna dan mengatakan bahwa wahyuMakutharama itu tidak lain dari pada Ilmu yang dipakai oleh Prabu Rama ketika menjadi raja di Pancawatidhendha.
Prabu Rama sangat dihormati dan dikasihi oleh para kawulanya dan keberhasilan pemerintahannya karena Prabu Rama berpegang pada ajaran yang disebut dengan "HASTA BRATA"
Seorang pemimpin atau raja yang memegang teguh "HASTA BRATA" ketika menduduki tahta singgasananya, ia akan tetap jaya, sentosa, adil dan dapat memakmurkan rakyatnya atau kawulanya serta akan dihormati dan dikasihi oleh rakyatnya.
Setelah mendengarkan panjang lebar we-jangan Panembahan Kesawasidhi tentang wah-yu "Makutharama" yang tidak lain merupakan ilmu pemerintahan yang harus dimiliki oleh rajanya atau pemimpinnya ketika memimpin, agar rakyat mengalami hidup tata tentrem tur raharja (aman tentram dan damai serta berkecukupan) yang disebut dengan "HASTA BRATA" (delapan laku/watak). Lalu Raden Harjuna mohon undur diri, sebelumnya Panembahan Kesawasidhi menitipkan Kunthawijaya senjata pusaka Narpati Basukarna (Adipati Karna) yang dirampas Anoman, untuk diserahkan kembali pada pemiliknya.
Dengan selesainya tugas menjabarkan "HASTA BRATA" maka Panembahan Kesawasidhi berubah wujudnya kembali menjadi Prabu Kresna dari Dwarawati, kemudian menyusul perjalanan Raden Harjuna yang kembali ke Kerajaan Amarta.
Kembali ke-kisah Shintawaka jilmaan Dewi Wara Subadra dan Madusubrata jilmaan Dewi Wara Srikandi, dalam perjalanannya selalu meneriakkan tantangannya kepada Raden Harjuna.
Suara tantangan yang lantang itu terdengar oleh Raden Gatutkaca yang sedang berada diangkasa dalam perjalanan untuk mencari Raden Harjuna. Tidak menerimakan kesombongan Shintawaka dan Madusubrata yang merendahkan Raden Harjuna, terjadilah pertempuran yang berakhir dengan kekalahan Raden Gatutkaca, tetapi kemudian Raden Gatutkaca diangkat anak oleh mereka dan diajak untuk bersama-sama mencari Raden Harjuna. Kisah perjalanan Narpati Basukarna (Adipati Karna) yang sedih dan malu, setelah kehilangan senjata pusakanya Kunthawijaya dan kegagalannya untuk memperoleh "Wahyu Makhutarama", bertemulah dengan Raden Harjuna, keduanya saling melepaskan rindunya karena lama tidak bertemu, Raden Harjuna kemudian menyerahkan senjata pusaka Kunthawijaya kepada Narpati Basukarna (Adipati Karna), kembalinya senjata pusaka andalannya, hati Narpati Basukarna (Adipati Karna) tak terhingga senangnya dan mengucapkan rasa terima kasih kepada Raden Harjuna yang telah mengembalikan Kunthawijayanya.
Narpati Basukarna (Adipati Karna) dalam berbincang-bincang menanyakan asal mulanya Kunthawijaya dapat berada ditangan Raden Harjuna, Raden Harjunapun berterus terang bahwa senjata pusaka Kunthawijaya ia peroleh dari Panembahan Kesawasidhi ketika bermaksud mencari wahyu Makutharama. Mendengar cerita itu Narpati Basukarna (Adipati Karna) memaksa ingin tahu tentang wahyu Makutharama, tetapi Raden Harjuna menolak memberitahukan, akhirnya terjadi pertempuran, tetapi Narpati Basukarna (Adipati Karna) kalah bertanding dan melarikan diri dari pertempuran dengan Raden Harjuna.
Pelarian Narpati Basukarna (Adipati Karna) ditengah perjalanan bertemu dengan Shintawaka dan Madusubrata yang sedang mencari Raden Harjuna, pucuk dicinta ulam tiba. Untuk itu Narpati Basukarna (Adipati Karna), memberitahukan bahwa Raden Harjuna berada dibelakang sedang mengejarnya.
Raden Harjuna yang tengah mengejar Narpati Basukarna (Adipati Karna), dihalang-halangi oleh Shintawaka dan Madusubrata hingga terjadi pertempuran akhirnya Raden Harjuna kalah dan menghindari Shintawaka dan Madusubrata.
Ketika Raden Harjuna mundur untuk menghindari dari Shitawaka dan Madusubrata, ia betemu dengan Bimasena yang sedang mencari keberadaan Prabu Kresna.
Raden Harjuna menceritakan bahwa ia kalah dalam bertanding melawan Shintawaka dan Madusubrata, Raden Harjuna kemudian mengharapkan bantuan Bimasena untuk melawan Shitawaka dan Madusubrata, Bimasena heran adiknya dapat dikalahkan oleh dua satriya yang tidak terkenal, tetapi ia tetap bersedia membantu Raden Harjuna untuk menghadapi Shintawaka dan Madusubrata.
Dalam pertempuran dengan Shintawaka dan Madusubrata, Bimasena juga dapat dikalahkan, karena Shintawaka dan Madusubrata dibantu oleh Gatutkaca yang mengetahui kelemahan ayahnya.
Pada waktu Bimasena dan Raden Harjuna mundur menghindari pertempuran dengan Shintawaka dan Madusubrata, mereka bertemu dengan Prabu Kresna, keduanya menceritakan bahwa baru saja bertempur dengan Shintawaka dan Madusubrata yang sangat sakti dan sulit untuk ditundukkan.
Prabu Kresna melihat dengan mata kedewataannya dan mengetahui siapa jati dirinya, kemudian ia memerintahkan Raden Harjuna kembali untuk menghadapi Shintawaka dan Madusubrata dengan menggunakan ilmu/aji Asmaratantra berupa sair/tembang asmara yang dapat meluluhkan hati Shintawaka dan Madusubrata, kemudian berubah kembali wujudnya kewujud aslinya yakni Shintawaka berubah kembali menjadi Dewi Wara Subadra dan Madusubrata berubah kembali wujudnya menjadi Dewi Wara Srikandi.
Prabu Kresna dan Bimasena, menanyakan kepada Dewi Wara Subadra mengapa ia menyamar sebagai seorang satriya. Dewi Wara Subadrapun menceritakan perihal kesedihannya karena lama ditinggal Raden Harjuna dengan tanpa kabar beritanya. Setelah mendengar penuturan Dewi Wara Subadra demikian, maka Prabu Kresna terasa lega dan bersyukur atas bantuan Batara Naradha dapat mempertemukan kembali Dewi Wara Subadra dengan suaminya Raden Harjuna.
Sumber : Ibu Triwik Damarjati, Guru Bahasa Jawa SMA N 1 Yogyakarta
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...