Papua ada dua cara memasak dengan bakar batu, kalau masyarakat suku Byak tidak menggali lobang tetap hanya memindahkan arang-arang kayu sisa bakar batu. Hanya mengambil batu merah panas dan meletakan di atas makanan yang ditutupi dengan daun-daun termasuk daun pisang. Kalau di Lembah Baliem masyarakat di sana, Suku Dani membuat lobang dan memakai rumput atau daun-daung. Mereka mengenal dua cara bakar batu pertama melobangi atau membuat lobang dan kedua langsung tanpa membuat lobang.
Sedangkan orang Byak hanya mengenal bakar batu tanpa membuat lobang. Dalam bahasa Byak bakar batu adalah barapen, bar artinya bikin, kerjakan atau buat, sedangkan apen, berasal dari kata apiam yang artinya api,panas, masak; maksudnya bakar batu dan memasak. Barapen bagi orang Byak adalah memasak makanan dengan memakai batu merah yang dipanaskan terlebih dahulu di atas tumpukan kayu bakar. Hal inilah yang disebut orang memasak khas Papua dengan bakar batu.
Pesta-pesta menjelang ritus peralihan Wor K’Bor selalu berlangsung berbulan-bulan terutama pada musim wampasi atau angin timur laut tenang dan banyak hasil ikan serta makanan sehingga tepat untuk melangsung upacara atau Wor K’Bor. Upacara ini biasanya dilakukan saat anak-anak muda masuk usia pubertas atau akil baliq sehingga saat itulah mereka harus menjalani upacara memotong ujung kelamin bagian atas dari anak-anak laki-laki.
Inilah asal muasal orang Byak berpesta menjelang pelaksanaan Wor K’Bor ada saguer (swansrai), ada barapen dan bakar ikan. Hanya saja upacara Wor K’Bor tak pernah dilakukan lagi dan hanya pesta-pesta biasa termasuk pesta rakyat barapen selalu ada. Dalam pesta ini ada upacara berjalan di atas batu panas (fire walking ceremony) atau simbran apen. Begitupula dalam peresmian rumah baru pasti ada barapen dan simbran apen.
Proses barapen, pertama mencari batu-batu yang kuat menahan api dan tidak hancur saat dipanaskan. Setelah mengumpulkan batu-batu dan dicuci bersih, kemudian mencari kayu bakar (ai bram), kayu bram ini sangat bagus untuk memanaskan batu-batu. Tumpukan kayu yang disusun rapi kemudian meletakan batu-batu di atasnya dan menyalakan api.
Kayu yang membakar batu dibiarkan sampai habis dan tinggal arang dan abu, kemudian pindahkan arang-arang dengan memakai kapim atau penjepit yang terbuat dari bambu atau pelepah kelapa untuk mengangkat arang dan batu.
Kapim akan mengangkat batu-batu panas dan memindahkan arang, daun-daun sebagai pengalas makanan, biasanya bagian bawah di letakan keladi (japan), keladi bete, petatas, di tutupi dengan daun-daun. Di atasnya letakan sayuran-sayuran seperti sayur pepaya, daun petatas dan letakan pula daging babi dan ayam. Saat ini mama-mama (awin) memakai panci untuk memasukan sayur dan bumbu sehingga aman saat masuk dalam bakar batu tidak hancur dan hangus. Kalau daging babi bisanya lemak dibiarkan meleleh dan bercampur dengan keladi atau pun petatas.
Setelah semua makanan sudah masuk dan ditutupi dengan daun-daun, agar asap atau uap panas tak boleh keluar dari dalam. Kemudian dibiarkan selama satu atau lebih dan barapen boleh dibuka untuk makan bersama.
Saat ini menu memasak dengan cara barapen sudah bervariasi sehingga ada makanan bersifat umum dan ada ayam yang sudah dibumbui. Tak heran kalau ada istilah ayam bumbu barapen, tepung barapen dan lain-lain.
http://tabloidjubi.com/home/2015/09/11/barapen-bakar-batu-suku-byak-papua/
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa,tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan harimau. Tapi bagi kami, hutan ini seperti halaman belakang rumah sendi...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.