Indonesia memiliki berbagai adat istiadat yang sangat beragam dan memiliki norma - norma tersendiri sehingga setiap daerah memiliki istilah - istilah berbeda. Namun adat istiadat tersebut memiliki kesamaan nilai - nilai luhur sehingga membuat penganutnya memilik nilai moral yang tinggi. Jadi, adat istiadat di Indonesia menjadi salah satu kekuatan harus dilestarikan dan dijaga dengan baik. Salah satu adat di Palembang yang cukup lestari ialah "Uya Sahang".
Uya Sahang merupakan sebuah istilah yang menyatakan adat istiadat seseorang dengan memberi upah kepada tenaga jasa tertentu (biasanya tenaga jasa tradisional). Istilah ini berasal dari kata "Uya" yang berarti garam; dan "Sahang" yang berarti merica. Dikarenakan garam dan merica menjadi mata uang tradisional pada era kuno terutama di Palembang, maka terciptalah istilah Uya Sahang yang menjadi adat istiadat di Palembang.
Uya Sahang berbeda dengan upah jasa, gaji, ataupun laba yang telah dibanderol harga -dan bukan juga tips. Kebanyakan.tenaga jasa tradisional (cth: jasa pijat dan urut panggilan) di Palembang tidak terlebih dahulu menetapkan harga jasanya sebelum mereka bekerja. Setelah bekerja, sang penerima jasa membayar uang jasa secara sukarela, berbeda dengan upah yang sebelumnya telah di negoisasi. Namun uang ini juga bukan berupa tips yang merupakan tambahan sukarela. Uya Sahang lebih mendekati arti upah sukarela yang diterima biasanya berdasarkan oleh beberapa faktor, yakni kepuasan penerima jasa, kemampuan finansial penerima jasa dan/atau pemberi jasa, dan/atau relasi penerima jasa dengan pemberi jasa.
Uya Sahang menjadi sistem pembayaran jasa yang dterima dengan baik oleh masyarakat Palembang disebabkan oleh sifatnya yang sukarela. Penerima jasa merasa tidak dibebani dengan biaya dan pemberi jasa tidak dibebani dengan perasaan dan kepercayaan pembelinya. Oleh karena itu, banyak daerah lain di Indonesia yang mengadaptasi sistem Uya Sahang menjadi sistem pembyaran tradisional di daerah mereka masing - masing.
Pada era saat ini, Uya Sahang menjadi tidak populer dikarenakan bergantinya usaha jasa tradisional menjadi usaha yang lebih modern dan bahkan berbasis digital. Dengan demikian, adat istiadat serta ritual - ritual daerah yang sudah hampir pudar ini patut kita lestarikan. Dari mengetahuinya dan menceritakannya kepada generasi muda hingga tetap melaksanakan adat istiadat tersebut ialah bentuk pelestarian budaya. Oleh sebab itu, wujud cinta kita terhadap Indonesia salah satunya dengan melestarikan budaya yang dimilikinya.
#OSKMITB2018
GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...
Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...
SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...