Upacara Tiba Raki, merupakan bentuk upacara komunal. Upacara ini bersifat magis karena menyertakan roh alam gaib atau roh leluhur. Upacara ini memiliki dua tingkatan yakni upacara dalam tingkatan yang lebih sederhana yakni sebatas pada tahapan-tahapan tertentu dan ini tergantung dari biaya maupun tingkat urgensinya. Tingkatan upacara bagi seseorang ditentukan oleh seorang sandro. Sandro sangat berperan dalam ritual ini, dan sekaligus berfungsi sebagai pemimpin yang akan menjalankan semua ritual tersebut, dan dibantu oleh masyarakat khususnya dalam
ingkungan kekerabatan. Sedangkan pada upacara tingkatan yang utama biasanya menggunakan tahapan-tahapan ritual yang lebih panjang dan kompleks. Upacara ini selalu dipimpin oleh seorang Sandro tiba raki. Sandro biasanya memberikan petunjuk kepada kelompok kekerabatan agar mereka tahu pada tahap upacara yang mana harus dilakukan.
Biasanya, bila terjadi sesuatu dalam keluarga besar maka sandroakan menyarankan melakukan upacara tiba rakiyang lebih lengkap dan menjalankan semua tahapan-tahapan ritualnya. Upacara ini tergolong upacara yang cukup besar. Penyelenggara adalah para kerabat keluarga besar di bantu oleh masyarakat yang berada dalam lingkungan setempat. Upacara ini sangat kompleks karena menggunakan berbagai bahan atau perlengkapan yang cukup banyak. Semua bahan dan peralatan yang digunakan dalam upacara tiba raki,pada akhirnya dibuang ke laut. Sesajian ini merupakan sebuah persembahan yang dihaturkan kepenguasa laut. Karena upacara ini tergolong besar maka memakan biaya yang cukup besar pula. Untuk itu dalam penyelenggaraan upacara seperti ini, biasanya para kerabat berhimpun dan saling memberi dukungan baik partisipasi dalam aktivitas penyelenggaraan maupun juga dukungan dalam kaitanya dengan pendanaan atau biaya.
Dalam pelaksanaan upacara tiba raki acap kali juga disertai dengan terjadinya kesurupan oleh roh leluhur. Bila hal ini terjadi maka seorang sandroyang memimpin upacara tersebut, melakukan dialog kepada roh leluhur yang merasuki tubuh salah satu kerabat tersebut. Dalam proses dialog tersebut, sandro akan mendengarkan dan bertanya apa sebenarnya terjadi dan apa yang harus dilakukan. Bila hal ini berkaitan dengan sakit seseorang maka akan dimintakanpengobatan dan apa yang mesti dilakukan setelah upacara tersebut. Untuk lebih memberikan pengertian yang lebih nyata tentang konsep tiba raki maka secara etimologi tiba raki berasal dari kata tiba yang artinya dibuang dan raki adalah anyaman bamboo yang dibuat dalam bentuk persegi empat, sebagai tempat menghaturkan sesajian ke laut. Upacara tiba raki pada masyarakat Bungin, khususnya pada suku Bajo sangat percaya dengan hal hal magis yang mempengaruhi kehidupan manusia. Masyarakat percaya bahwa bila terjadi sesuatu yang dianggap tidak menyenangkan dan sering terjadi musibah maka mereka akamn melaksanakan upacara tiba raki.
Upacara tiba raki juga disertai dengan persembahan berupa beberapa ekor ayam dan juga beberapa ekor sapi sebagai korban dan perlengkapan untuk sesajian yang akan dibuang ke laut sebagai bentuk persembahan kehadapan penguasa laut. Upacara tiba raki juga akan dilakukan karena berbagai alasan yang dianggap penting untuk memenuhi janji yang pernah diucapkan.Seperti misalnya upacara ini akan dilakukan bila ada salah satu anggota
keluarga atau kerabat yang mempunyai janji dan janjinya tersebut telah terpenuhi maka janji yang mereka sebutkan wajib harus dibayarkan, janji tersebut seperti misalnya bertemu jodoh, mendapatkan kesuksesan dalam pekerjaan, dan lainya wajib syaratnya harus mengadakan upacara tiba raki. Dalam bahasa yang umun sering disebut membayar kaul terhadap Tuhan yang telah memberkati apa yang diinginkan oleh seseorang. Upacara ini juga sebagai bentuk penghormatan terhadap penguasa alam dan juga lebih khusus penguasa laut karena akhir dari ritual tersebut dilakukan dilaut dengan membuang sesajian dan perlengkapan yang dibuat dengan ancak.
Ritual tiba raki dianggap sebagai ritual yang bersifat magis religious karena dalam prosesi upacaranya sering menggunakan media roh nenek moyang sebagai penyampaian pesan-pesan yang dianggap perlu dan harus dilaksanakan oleh para kerabat dari keturunan roh nenek moyang tersebut. Seperti misalnya ritual tiba raki yang bertujuan melakukan pengobatan terhadap orang yang sedang sakit, para sandro melakukan pengobatan tersebut dengan suatu prosesi tiba raki yang menghubungkan roh leluhur kepadaorang yang sakit tersebut. Tubuh orang yang sakit itu dimasuki roh leluhur dan pada saat itu pula tubuh orang yang sakit itu bergetar dan kesurupan dengan mengeluarkan kata-kata maupun teriakan yang biasanya memberitahu bahwa orang yang sakit tersebut disebabkan oleh sesuatu yang bisa diakibatkan oleh kesalahan dirinya sendiri atau pun karena tindakan-tindakan seseorang tidak senang pada dirinya. Dalam keadaan kesurupan terkadang pula roh leluhur yang merasuki tersebut memberitahukan agar melakukan upacaraatau semacam tolak bala. Di samping itu roh leluhur juga memberitahukan apa yang mesti digunakan dalam pengobatan orang yang sakit tersebut. Pada akhir dari ritual tersebut maka sandro mengembalikan lagi keadaan di mana roh yang tadinya pada tubuh yang sakit kemudian dilepaskan. Terlepasnya roh leluhur itu kembali keasalnya, orang yang sakit kemudian secara perlahan mulai pulih dan sakit yang diderita selama ini dipercaya akan mengalami penyembuhan.
sumbe r: https://culturalstudiesbali.files.wordpress.com/2017/07/ign-jayanti-i-made-sumerta-pulau-bungin.pdf
GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...
Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...
SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...