Upacara pernikahan merupakan salah satu hal yang lumrah dan sering diadakan di berbagai daerah. Namun, berbeda dengan upacara pernikahan Cio Tau yang mungkin terdengar asing di telinga kebanyakan orang karena upacara pernikahan Cio Tau ini sudah jarang dilakukan. Upacara pernikahan Cio Tau ini sendiri berasal dari daerah Tangerang, Banten lebih tepatnya upacara pernikahan Cio Tau ini biasa dilakukan oleh suku Tionghoa Benteng yang merupakan masyarakat asli di wilayah Tangerang.
Pada upacara pernikahan Cio Tau ini mula-mula pasangan pengantin diharuskan untuk melakukan sembahyang di meja samkai sebagai simbol penghormatan kepada leluhur. Kemudian, orangtua dari kedua mempelai diharuskan melakukan penyalaan lilin besar yang berada di meja samkai sebagai simbol dari memberi penerangan bagi anak-anaknya sebelum menikah. Setelah itu, pasangan pengantin melakukan sembahyang di tempat penghormatan kepada Thien atau Tuhan yang biasanya terletak di depan rumah dan dilanjutkan dengan melakukan sembahyang di Cap Kun Kong atau dewa dapur. Setelah melakukan sembahyang kepada Thien dan dewa dapur, pasangan pengantin melanjutkannya dengan melakukan sembahyang kepada altar leluhur yang sudah meninggal. Pasangan pengantin diharuskan melakukan pemasangan 4 pasang lilin, 2 pasang lilin besar yang ditujukan kepada leluhur dekat seperti kakek atau nenek sedangkan 2 pasang lilin kecil ditujukan kepada leluhur jauh seperti para nenek moyang. Setelah itu, pasangan pengantin melakukan sembahyang di kursi yang berada tepat di depan altar leluhur. Pada kursi ini terdapat perlengkapan Cio Tau dan sembahyang ini ditujukan untuk melakukan penghormatan terhadap budaya. Perlengkapan Cio Tau ini biasanya berupa Gantang atau tempat beras yang menjadi simbol bahwa kehidupan pernikahan itu segala kebutuhan itu harus tercukupi, Buku Tungsu yang merupakan buku pedoman yang berisi tata cara upacara-upacara yang ada dalam suku Tiong Hoa, sisir yang mengingatkan pengantin bahwa dalam setiap permasalahan pasti akan ada jalan keluar, timbangan yang menjadi simbol keadilan dalam kehidupan rumah tangga, gunting yang menjadi simbol kerjasama dalam pernikahan, cermin untuk mengingatkan pasangan pengantin untuk mengintropeksi diri dan tidak berusaha mencari kesalahan orang lain, pedang yang mengingatkan pasangan pengantin untuk selalu membela kebenaran, meteran untuk mengingatkan pasangan pengantin agar dapat mengukur segala hal yang dilakukan sehingga sesuai dengan keadaan, dan juga sumpit yang memiliki tinggi yang sama sebagai simbol bahwa dalam hubungan pernikahan diperlukan sikap bijaksana yang ditunjukkan satu sama lain.
Selain melakukan sembahyang, pada upacara pernikahan Cio Tau ini dilakukan makan 12 mangkuk. Kegiatan makan 12 mangkuk ini diawali oleh pengantin laki-laki baru diikuti oleh pengantin perempuan. Hal ini menyimbolkan bahwa seorang istri harus menunggu suami pulang terlebih dahulu sebelum makan. Kemudian, 12 mangkuk ini ditata dengan posisi 4 baris ke samping dan 3 baris ke depan. Posisi ini menandakan 4 musim yang setiap musim berlangsung selama 3 bulan. Makanan yang terdapat pada setiap barisnya melambangkan jenis makanan yang terdapat disetiap musim dan hal ini juga menggambarkan bahwa dalam suatu hubungan pernikahan ketika segala kebutuhan di musim apapun dapat tercukupi maka suatu hubungan dapat terjalin dengan baik. Setelah itu, orang tua dari masing-masing pengantin menyuapi pengantin dengan nasi yang dimasukkan ke dalam air gula. Hal ini guna mengingatkan sang pengantin akan jasa orangtuanya yang merawatnya dari kecil hingga dewasa dan juga untuk mengingatkan bahwa jika sesuatu yang masuk ke dalam mulut sang pengantin itu adalah hal yang manis maka segala tutur kata yang keluar dari mulut sang pengantin juga pasti hal yang manis.
Selain itu, diadakan pula prosesi penyisiran rambut sang pengantin oleh adiknya. Prosesi ini dilakukan untuk mengingatkan pengantin bahwa setiap permasalahan serumit apapun itu pasti dapat dipecahkan bersama. Setelah prosesi penyisiran rambut, semua anggota keluarga berkumpul di depan altar leluhur untuk memberikan uang pelita di atas kursi yang berisi perlengkapan Cio Tau. Uang ini dianggap sebagai perbekalan bagi pasangan pengantin dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Hal unik yang ada dalam prosesi pemberian uang pelita ini adalah uang yang diberikan tidak dimasukkan ke dalam amplop terlebih dahulu, hal ini menyimbolkan bahwa dalam kehidupan rumah tangga antara pasangan suami istri harus ada keterbukaan mengenai sumber dari uang yang diperoleh.
Biasanya serangkaian Upacara Pernikahan Cio Tau ini dipimpin oleh tokoh masyarakat setempat yang secara khusus mempelajari rangkaian upacara khas suku Tiong Hoa. Namun, saat ini jumlah tokoh masyarakat tersebut mengalami penurunan yang drastis dikarenakan orang-orang lebih memilih mengadakan pernikahan dengan konsep internasional dan melupakan tradisinya sendiri. Oleh karena itu, mari kita lestarikan Upacara Pernikahan Cio Tau yang sudah hampir punah ini!
#OSKMITB2018
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...