Wangi kemenyan menguar dengan tajam, berpadu dengan aroma sesaji yang diletakkan di tengah Alas Krendhowahono. Usai mendaraskan doa, para abdi dalem lantas mengubur kepala kerbau lengkap dengan kaki dan jeroannya. Upacara Wilujengan Nagari Mahesa Lawung pun ditutup dengan kenduri bersama.
Siang itu, di Alas Krendhowahono yang terletak di Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, sedang dilangsungkan upacara adat Mahesa Lawung. Menurut ceritanya, tradisi yang bertujuan untuk menyelaraskan alam dan nasib manusia ini telah ada sejak Wangsa Syailendra dan Sanjaya. Hal ini berdasarkan pada keberadaan arca Durga Mahesa Suramandini. Lantas prosesi ini terus dijalani secara turun – temurun tanpa henti hingga kini.
Upacara Mahesa Lawung dilaksanakan setiap tahun pada hari ke – 40 setelah acara Grebeg Maulud. Ritual yang menjadi puncak dari upacara Mahesa Lawung adalah mengubur potongan kepala dan kaki kerbau, lengkap dengan jeroannya di Hutan Krendowahono. Hutan tersebut dipilih sebagai tempat berlangsungnya upacara karena dipercayai merupakan tempat bersemayamnya Batari Kalayuwati yang menjadi pelindung gaib Keraton Solo di sisi utara.
Ratusan abdi dalem dan para sentono dalem nampak kompak. Busananya nyaris seragam. Atasan beskap, kain jarik coklat sebagai bawahan, blangkon di kepala, berkalung samir kuning keemasan, lengkap dengan keris di belakang pinggang. Jika sentono memakai beskap putih, maka para abdi dalem mengenakan beskap hitam. Semuanya tidak ada yang mengenakan alas kaki. Hal ini sebagai bentuk penghormatan terhadap tanah sakral ini.
Sebelum tiba di Alas Krendhowahono, prosesi Mahesa Lawung diawali dari keraton. Pada mulanya semua sesaji berupa makanan, hasil bumi, serta kepala kerbau telah dipersiapkan di dapur keraton Gondorasan. Dari dapur sesaji tersebut dibawa ke Sasana Maliki, lantas didoakan di Sitinggil, kemudian dibawa ke lokasi dengan berjalan kaki.
Sesampainya di hutan semua abdi dalem duduk bersila dan membaur menjadi satu. Secara silih berganti para sentono dalem atau kerabat keraton naik ke sebuah pepunden batu yang dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Bathara Durga untuk memanjatkan doa. Kedua telapak tangannya saling menempel, diangkat hingga sejajar dengan wajah. Mulutnya komat-kamit merapal doa. Di depannya berjajar aneka sesaji, mulai dari kembang tujuh rupa, ayam ingkung, kelapa muda, jajanan pasar, dan yang paling utama adalah potongan kepala kerbau.
Potongan kepala kerbau menjadi inti dalam Upacara Mahesa Lawung ini. Tak sembarang kerbau bisa dijadikan sebagai sesajen utama dalam ritual sakral ini. Si kerbau haruslah seekor kerbau jantan yang belum pernah dipekerjakan dan belum pernah kawin. Kerbau bujang ini dalam bahasa jawa diistilahkan dengan sebutan Joko Umbaran. Sesuai dengan arti secara harafiahnya, mahesa yang berarti kerbau dan lawung yang berarti jantan. Usai acara doa selesai, kepala kerbau lantas dikubur di area tak jauh dari pepunden. Acara lantas ditutup dengan menikmati makanan bersama-sama.
Pemilihan kepala kerbau sebagai inti dari acara ini tentu bukan tanpa alasan. Kerbau adalah simbol kebodohan. Seperti pepatah jawa kuno yang berbunyi “bodo longa-longo koyo kebo” yang berarti orang bodoh plonga-plongo seperti kerbau. Dengan mengubur kepala kerbau, secara filosofis menggambarkan upaya untuk memberantas kebodohan dalam kehidupan. Tak hanya kepalanya saja, kaki dan jeroannya pun ikut dikubur.
Selain sebagai simbol pembuang kebodohan, Upacara Mahesa Lawung juga digelar untuk memperingati perpindahan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dari wilayah Kartasura di Sukoharjo menuju ke Desa Sala yang sekarang berkembang menjadi Kota Solo. Dikisahkan bahwa di Alas Krendhowahono inilah tempat yang biasa digunakan raja-raja Mataram zaman dahulu untuk menyepi dan bersemadi guna mendapatkan wangsit atau petunjuk. Oleh sebab itu, wajar saja bila hawa magis di hutan ini terasa begitu kental saat pertama memasukinya.
Dalam kesempatan ini, para abdi dan sentono dalem tak menyia-nyiakan kesempatan untuk memanjatkan doa di hadapan pepunden. Mereka melantunkan doa memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta dijauhkan dari segala bencana dan marabahaya. Pepunden yang berada di bawah sebuah pohon grasak berusia ratusan tahun tersebut dipercaya para penganut kejawen sebagai tempat yang mujarab untuk memohon perlindungan dan keselamatan.
Upacara Mahesa Lawung tak hanya menjadi simbol memberantas kebodohan, namun juga simbol pemberantasan sifat-sifat buruk yang ada dalam diri manusia. Kerbau tak hanya digambarkan sebagai hewan yang bodoh, tetapi juga hewan yang malas dan selalu bersikap acuh tak acuh terhadap sekelilingnya. Diharapkan dengan mengorbankan kepala kerbau yang mewakili sifat-sifat buruk dalam diri manusia tersebut tercipta keseimbangan alam dengan kehidupan manusia
sumber : https://www.maioloo.com/seni-budaya/upacara-mahesa-lawung/
Aunu Senebre: Kelezatan Tersembunyi dari Tanah Papua Identitas Kuliner Aunu Senebre merupakan makanan pendamping tradisional yang berasal dari Papua [S1]. Hidangan ini dikategorikan sebagai kuliner khas Papua yang mulai dikenal dalam percakapan kuliner nasional, meskipun popularitasnya belum menyamai papeda atau ikan bakar Manokwari [S1][S3]. Secara definisi, Aunu Senebre adalah masakan tradisional berbahan dasar nasi atau singkong parut yang dicampur dengan ikan teri goreng, dan terkadang menggunakan ubi jalar sebagai variasi [S2]. Penyebutan "Aunu Senebre" sendiri merupakan istilah lokal yang melekat pada hidangan ini di tanah Papua [S1]. Sayangnya, belum ada sumber yang mengungkap secara spesifik asal-usul etimologis nama tersebut maupun daerah sentra produksi yang lebih terperinci di wilayah Papua. Keberadaan Aunu Senebre sebagai makanan tradisional Papua juga tercatat dalam daftar kuliner khas Indonesia dari 38 provinsi, yang menegaskan statusnya sebagai warisan k...
Aunu Senebre: Kelezatan Tersembunyi dari Tanah Papua Identitas Kuliner Aunu Senebre merupakan makanan pendamping tradisional yang berasal dari Papua [S1]. Hidangan ini dikategorikan sebagai kuliner khas Papua yang mulai dikenal dalam percakapan kuliner nasional, meskipun popularitasnya belum menyamai papeda atau ikan bakar Manokwari [S1][S3]. Secara definisi, Aunu Senebre adalah masakan tradisional berbahan dasar nasi atau singkong parut yang dicampur dengan ikan teri goreng, dan terkadang menggunakan ubi jalar sebagai variasi [S2]. Penyebutan "Aunu Senebre" sendiri merupakan istilah lokal yang melekat pada hidangan ini di tanah Papua [S1]. Sayangnya, belum ada sumber yang mengungkap secara spesifik asal-usul etimologis nama tersebut maupun daerah sentra produksi yang lebih terperinci di wilayah Papua. Keberadaan Aunu Senebre sebagai makanan tradisional Papua juga tercatat dalam daftar kuliner khas Indonesia dari 38 provinsi, yang menegaskan statusnya sebagai warisan k...
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Budaya Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak merupakan permainan tradisional yang dikategorikan sebagai permainan papan dan biji, dikenal dengan beragam nama di berbagai wilayah Nusantara. Di Jawa, permainan ini lazim disebut congklak, dakon, dhakon, atau dhakonan [S1]. Sementara itu, di wilayah Sumatra dan Kalimantan yang berkebudayaan Melayu, nama yang digunakan adalah congkak [S1]. Variasi penamaan juga ditemukan di Lampung sebagai dentuman lamban, serta di Sulawesi dengan sebutan Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang, dan Nogarata [S1]. Keberagaman nama ini menunjukkan luasnya persebaran dan kuatnya akar permainan ini dalam tradisi lisan masyarakat Indonesia. Sejarah permainan congklak memiliki lintasan yang panjang dan tidak sepenuhnya terpusat di satu titik asal. Bukti menunjukkan bahwa permainan ini diduga mulai tersebar dari Afrika sebelum akhirnya masuk dan membudaya di Indonesia [S2]. Pendapat ini diperkuat oleh fakta ba...
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Budaya Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak merupakan permainan tradisional yang dikategorikan sebagai permainan papan dan biji, dikenal dengan beragam nama di berbagai wilayah Nusantara. Di Jawa, permainan ini lazim disebut congklak, dakon, dhakon, atau dhakonan [S1]. Sementara itu, di wilayah Sumatra dan Kalimantan yang berkebudayaan Melayu, nama yang digunakan adalah congkak [S1]. Variasi penamaan juga ditemukan di Lampung sebagai dentuman lamban, serta di Sulawesi dengan sebutan Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang, dan Nogarata [S1]. Keberagaman nama ini menunjukkan luasnya persebaran dan kuatnya akar permainan ini dalam tradisi lisan masyarakat Indonesia. Sejarah permainan congklak memiliki lintasan yang panjang dan tidak sepenuhnya terpusat di satu titik asal. Bukti menunjukkan bahwa permainan ini diduga mulai tersebar dari Afrika sebelum akhirnya masuk dan membudaya di Indonesia [S2]. Pendapat ini diperkuat oleh fakta ba...
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak, juga dikenal sebagai Dakon, adalah permainan tradisional yang memiliki berbagai sebutan di seluruh Indonesia. Permainan ini termasuk dalam kategori permainan papan dan telah ada sejak zaman kuno, menjadikannya salah satu permainan tertua di dunia. Congklak dikenal dengan nama yang berbeda di berbagai daerah, seperti dhakon di Jawa, dentuman lamban di Lampung, dan makaotan di Sulawesi, menunjukkan keberagaman budaya yang ada di Nusantara [S2][S3][S4]. Sejarah Congklak menunjukkan bahwa permainan ini telah dimainkan oleh nenek moyang di Indonesia sejak lama, dengan bukti bahwa istilah dan variasi permainan ini muncul di berbagai daerah, termasuk di Sumatera dan Kalimantan yang memiliki kebudayaan Melayu [S3][S4]. Dalam konteks ini, Congklak tidak hanya menjadi sekadar permainan, tetapi juga mencerminkan warisan budaya yang kaya dan beragam di Indonesia. Bahan yang digunakan dalam permaina...