Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Babad Jawa Timur Pasuruan
Untung Surapati
- 29 Juli 2015

Hingga kini, asal-usul dan keturunan Untung Surapati belum jelas diketahui, sebab data, fakta dan keterangan-keterangan tentang asal-usulnya tidak tercatat secara pasti. Namun ia selalu dikenang sebagai Pahlawan Bangsa oleh masyarakat, terutama di daerah Pasuruan, Jawa Timur.

Kisah hidupnya mulai dikenal tahun 1667, pada usia 7 (tujuh) tahun. Jadi di­perkirakan ia lahir tahun 1660. Pada usia 7 tahun itu, ia tanpa tahu siapa ayah dan ibunya, dipelihara sebagai budak belian oleh pegawai Kompeni Belanda yang berna­ma Van Baber. Budak yang satu ini, tidak seperti budak-budak lainnya. Roman mu­kanya yang tampan, kelakuan dan sopan-santunnya yang menawan, membuat Van Baber suka padanya.

Sebagai budak belian, tentunya selalu diperdagangkan. Kebetulan ada Pegawai Kompeni lainnya yang bernama Van Moor membutuhkan seorang budak, untuk me­nemani anaknya yang telah ditinggal mati ibunya. Dijuallah ia kepada Van Moor. Setelah memelihara anak ini, Tuan Moot merasakan adanya suatu perubahan, keka yaannya semakin bertambah, kedudukannya pun menanjak dengan cepat. Ia berkeya kinan bahwa keberuntungan tersebut disebabkan oleh anak kecil yang dibelinya dari Van Baber tersebut, sementara itu Moor naik pula pangkatnya menjadi Opperkoop- man dan tidak lama kemudian, ia dipilih dan diangkat sebagai anggota Dewan Hin­dia Belanda yaitu anggota Dewan Penasehat Gubernur Jenderal.

Dengan kedudukan yang baru ini, ia disebut sebagai Edeller atau yang mulia. Semua keberuntungan baik kekayaan maupun pangkat tersebut menyebabkan ia ma kin terpandang di mata masyarakat Belanda di Batavia. Karenanya ia makin sayang kepada budak belian tadi. Oleh Moor sibudak ini diberi nama si Untung.

Pekerjaan Untung dirumah Moor cukup, ringan. Tugasnya sehari-hari hanyalah mengasuh puteri Moor, Suzane yang ditinggal mati oleh ibunya. Tetapi hampir seti ap hari ia menyaksikan perlakuan kasar orang-orang Belanda terhadap budak-budak lain. Dari Kyai Embun, seorang pedagang keliling, iapun mendengar cerita tentang kesengsaraan rakyat akibat pemerasan pegawai Belanda.

Apa yang dilihat dan didengarnya menimbulkan rasa antipati terhadap Belanda. Sementara itu Untung tumbuh dewasa, begitu pula Suzane, antara keduanya terjalin hubungan cinta. Moor yang mengetahui hal itu menjadi marah karena anak nya dari anggota keluarga terhormat, bercintaan dengan seorang budak. Untuk – menghindarkan hal itu, Untung dimasukkan ke penjara.

Selama dalam penjara Untung mendapat pengalaman baru. Ia bergaul dengan orang-orang hukuman yang bersikap kasar. Tetapi berkat kecerdikan dan kepandai­annya berkelahi, akhirnya ia berhasil menguasai semua orang hukuman yang berada di penjara tersebut, bersama-sama dengan mereka Untung merencanakan untuk me loloskan diri dari penjara. Rencana itu berhasil dilaksanakannya, mereka dapat me rampas beberapa pucuk senjata para pengawal.

Untung membawa teman-temannya ke rumah Kyai Embun, di pinggiran Ja – karta. Kepada Kyai Embun diceritakannya niatnya untuk melawan Belanda, kyai Embun membawa Untung dan kawan-kawannya ke Tangerang. Karena dianggap ku­rang aman, mereka pindah ke daerah Priangan.

Beberapa waktu lamanya Untung tinggal di Depok. Ia menuntut ilmu beladiri dari Syekh Lintung. Sesudah dianggap selesai, Syekh Lintung menyuruh Untung per gi ke Udug-Udug di daerah Kerawang, sebuah pusat perdagangan di tepi Citarum. Mereka tiba di tempat ini dalam bulan Nopember 1 678.

Di daerah Udug-Udug banyak terdapat pelarian dari Jakarta. Mereka hidup berkelompok dan tiap-tiap kelompok dipimpin oleh seorang jagoan. Untung berhasil menyatukan kelompok-kelompok tersebut di bawah pimpinannya setelah para jago­an tersebut berhasil dikalahkannya.

Disebelah Utara Udug-Udug terdapat sebuah benteng VOC. Benteng ini ber fungsi sebagai pengawas lalu-lintas perdagangan dan sekaligus pertahanan terhadap kemungkinan serangan serangan pasukan Banten. Beberapa waktu sebelumnya di – Banten pecah perang antara sultan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa, melawan Be landa. Dalam perang ini Belanda dibantu oleh Sultan haji, putra Sultan Ageng. Se dangkan Sultan Ageng dibantu oleh adiknya yakni Pangeran Purbaya dan oleh Syekh Yusuf, seorang ulama Makasar yang melarikan diri setelah perlawanan Sul­tan Hasanuddin dipatahkan oleh Belanda.

Tahun 1681 Sultan Ageng mundur ke pedalaman. Akhirnya ia terperangkap, tetapi Pangeran Purbaya berhasil menyelamatkan diri dan bersama Syekh Yusuf menyingkir ke daerah Priangan untuk melanjutkan perjuangan melawan Belanda.

Untuk menghadapi ancaman ini Belanda memperkuat pertahanannya di benteng Tan jungpura. .

Setelah berhasil menguasai kelompok-kelompok jagoan di Udug-Udug, Untung mulai menjalankan aksinya. Patroli-patroli pasukan Belanda yang keluar dari ben­teng Tanjungpura dicegat dan dibunuh. Aksi-aksi itu merupakan ancaman baru bagi Belanda. Banyak kerugian yang mereka derita, untuk mengatasinya, Belanda me – ngirim Kapten Ruys ke Tanjungpura, tetapi pasukan Untung sudah pindah ke Cisero, suatu tempat lebih ke Selatan dan cukup terlindung.

Kapten Ruys berusaha membujuk Untung agar ia bersedia menjadi tentara Belanda. Untuk itu Kapten Ruys mengutus Kapten Buleleng, seorang putra Bali – yang mungkin berasal dari Buleleng. Mula-mula Untung Ragu-ragu, tetapi setelah berunding dengan para penasehatnya, tawaran itu diterimanya. Dengan cara demi­kian ia ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk mempelajari cara – cara bertem pur Belanda.

Sebagai tentara Belanda, Untung diberi pangkat Letnan. Ia ditugaskan mene mui Pangeran Purbaya yang ketika itu berada di Cikalong, sebelah utara Cianjur. Pangeran ini sudah bersedia untuk menyerahkan diri. Beberapa waktu sebelumnya Syekh Yusuf sudah pula menyerah.

Perundingan antara Untung dengan Pangeran Purbaya diadakan pada awal ta hun 1684. Hadir dalam perundingan itu antara lain Demang Timbanganten dan Bu­pati Sukapura. Sebelum perundingan selesai, datang Letnan Muda Kuffeler menga caukan suasana. Dengan sikap angkuh ia menuntut agar Pangeran Purbaya menye­rahkan kerisnya sebagai tanda takluk, bahkan ia pun mengatakan mendapat perin – tah untuk menangkap Untung.

Untung yang berpangkat lebih tinggi dari Kuffeler menjadi marah; ia meme rintahkan pasukannya menyerang Kuffeler. Tetapi Kuffeler sendiri berhasil melari kan diri. Sejak saat itu Untung meninggalkan kedinasan tentara Belanda.

Ia membawa pasukannya dengan senjata lengkap ke daerah Gunung Galung – gung di sini ia mendapat bantuan dari penguasa setempat. Sisa-sisa pasukan Syekh Yusuf menggabungkan diri ke dalam pasukan Untung. Dengan kekuatan itu ia me­lakukan serangan-serangan terhadap pasukan Belanda.

Kegiatan Untung di daerah Periangan ini didengar oleh Raja Mataram, Sunan Amangkurat II. Raja ini sedang menghadapi kesulitan menghadapi VOC, karena di­haruskan membayar ganti rugi yang cukup tinggi atas bantuan yang diterimanya da ri VOC pada waktu memadamkan pemberontakan Trunojoyo. Wakil Kerajaan Mata­ram yang berkedudukan di Cirebon, bernama Martanaya ditugaskan menghubungi Untung dan meminta kesediaannya membantu Mataram. Tawaran itu diterima Un­tung yang memang berniat untuk menghancurkan Belanda.

Sebelum berangkat ke Mataram, pasukan Untung terlibat dalam pertempuran, dengan pasukan Belanda. Pada Tanggal 24 September 1 684 pasukan Belanda di ba­wah pimpinan Jacobus Couper berangkat dari Cirebon menuju Galunggung untuk menangkap Untung pertempuran terjpdi di Rajagopoh. Pasukan Untung terdesak, te tapi mereka berhasil menyelamatkan diri ke arah timur, memasuki daerah Banyu­mas di Jawa Tengah. Di daerah ini pasukan Untung berhasil menundukkan gerom bolan perampok yang dipimpin oleh dua Kakak beradik Surodento dan Surodenti. De ngan demikian nama Untung menjadi lebih terkenal.

Dari Banyumas Untung membawa pasukannya ke Kartasura, Ibukota Kera – jaan Mataram. Ia dan pasukannya diterima oleh penguasa Mataram dengan tangan terbuka dan ditempatkan di Babarong. Sementara itu Belanda mulai cemas. Koman dan benteng Belanda di Kartosuro, Kapten Grevink, melaporkan hal itu ke Jakarta. Belanda segera mengirim pasukan di bawah pimpinan Kapten Tack. Setelah tiba di Semarang, Tack mengirim utusan untuk memberitahukan kepada Grevink, bahwa ia dengan pasukannya akan tiba di Kartosuro tanggal 8 Februari 1 686. Diperintahkan­nya agar penangkapan terhadap Untung dilakukan oleh pasukan Mataram.

Mau tak mau Mataram terpaksa menjalankan perintah VOC. Pada waktu itu di Kartosuro sedang hadir beberapa Orang Bupati, antara lain Bupati Cakraningrat II mengepung Babarong, Untung menggerakkan pasukannya keluar dari pertahanan dengan memakai pakaian serba putih yang menurut kebiasaan Bali siap menjalankan “puputan” artinya berkelahi habis-habisan. Mereka menerobos kepungan pasukan Cakraningrat II. Dan berhasil meloloskan diri. Cakraningrat II memerintahkan pasu kannya agar tidak memberikan perlawanan yang sungguh-sungguh, sebab ia sendiri bersimpati terhadap tindakan Untung. Pasukan Cakraningrat II mengejar pasukan Untung dari belakang sambil melepaskan tembakan ke atas.

Setelah keluar dari Babarong, pasukan Untung menyebar ke berbagai tempat. Sebagian bergerak ke sebelah Timur dan membakar rumah-rumah di sana. Tindakan itu dilakukan Untung sebagai siasat untuk menarik perhatian Belanda. Kapten Tack tidak mengetahui dengan pasti kedudukan pasukan Untung ; mungkin di sebelah Ti­mur, maka Tack mengerahkan pasukannya ke tempat tersebut. Pada waktu pasukan itu sedang dalam perjalanan, di sekitar alun – alun terjadi tembak-menembak. Un­tung memerintahkan pasukannya menyerang Benteng. Dalam serangan ini Kapten Grevink dan sepuluh orang serdadu Belanda tewas.

Tack membawa pasukannya kembali ke alun-alun. Pada waktu Tack tiba di Alun – alun, pasukan lain sedang terlibat dalam pertempuran jarak dekat dengan pasukan Untung. Sementara itu muncul sebuah pasukan lain memakai pakaian serba hitam. Pasukan itu adalah pasukan Mataram yang datang untuk membantu Surapati. Teri­akan “amuk” bergema yang membuat pasukan Belanda kalang-kabut, sebagian pasu kan Belanda sudah mengundurkan diri. Kapten Tack menjadi gugup. Ia bermaksud melarikan diri dengan menggunakan seekor Kuda. Baru saja kakinya menginjak sang gurdi, ia terjatuh dan pada saat itulah secepat kilat Tombak anak buah Untung me nancap di tubuhnya. Tidak kurang dari dua puluh tusukan berat melukai badannya. Tack mati seketika, dua belas anak buahnya tewas pula.

Kematian Tack sangat memalukan Belanda. Ia adalah perwira yang terkenal berani dan sangat diandalkan oleh Belanda. Pertempuran berhenti tengah hari bersamaan dengan turunnya hujan lebat. Pasukan Belanda tertolong karena adanya benteng. Pihak Belanda mengakui bahwa dalam pertempuran di Kartosuro itu semangat pasukan Untung sangat tinggi. Sela­in itu mereka juga memiliki keahlian bertempur yang cukup besar.

Setelah pertempuran selesai, Untung Surapati membawa pasukannya kearah Timur. Ia mendapat restu dari Amangkurat II untuk menduduki daerah Pasuruan. Daerah kekuasaannya meluas sampai ke Probolinggo, Malang dan Blambangan. Ben teng yang kuat didirikannya di Kediri dan Bangil, sebab ia sudah menduga bahwa Belanda pasti akan melancarkan serangan untuk menghancurkannya. Dari pedagang-

pedagang Inggris dibelinya alat-alat senjata seperti Bedil, meriam dan misiu; pasu­kannya terdiri atas berbagai suku bangsa seperti Jawa Madura, Bugis, Makasar dan lain-lain. Kekuasaannya diakui oleh Amangkurat II dan ia diberi gelar Adipati Wi – ranegara.

Pada tahun 1703 Amangkurat II meninggal dunia dan diganti oleh Sunan Mas. Raja baru ini tidak diakui oleh VOC, -karena dianggap sebaggi musuh. VOC meng­angkat Pangeran Puger sebagai Raja Mataram dengan gelar Sunan Pakubuwono I. Dengan bantuan Belanda ia berhasil mengalahkan Sunan Mas. Tetapi sebagai balas jasa, ia terpaksa menyerahkan kepada VOC seluruh daerah Priangan, dan Madura Timur. Sunan Mas kemudian bergabung dengan Untung.

Di kalangan VOC pun terjadi perubahan pada tahun 1704. Johan Van hoorn yang berusia 30 tahun diangkat sebagai Gubernur Jendral. Ia seorang yang bersifat keras. Sebuah pasukan dengan kekuatan yang besar disiapkan dan diperintahkan un­tuk menghancurkan Untung. Pasukan ini dipimpin oleh Jurian Christoffel Roode se dangkan komandan tempur dipegang oleh Govert Knol. Sebagian pasukan diberang­katkan dari Kartasura berjalan kaki melewati Ponorogo, Madiun, Kertosono terus ke Pasuruan. Bagian lainnya diberangkatkan dari Semarang melalui laut dengan – menggunakan tiga buah Kapal menuju Surabaya dan dari sana bergerak ke Pasuruan.

Kekuatan Untung terpusat di Pasuruan. Untuk memasuki daerah ini Belanda harus berhadapan dengan Benteng-benteng yang kuat di Gunung Penanggungan dan Bangil. Untung menyebar pula pasukan-pasukan kecil untuk mencegat pasukan Be­landa di tempat-tempat yang akan mereka lalui.

Untuk merebut Benteng Penanggungan, Pasukan Belanda melancarkan se – rangan dari tiga arah. Pertempuran berlangsung sengit. Banyak serdadu Belanda yang tewas, Belanda menembaki dinding benteng dengan meriam yang menyebabkan dinding-dinding itu runtuh. Akhirnya Benteng Penanggungan jatuh ke tangan Belan­da setelah terlebih dahulu terjadi pertempuran sengit di dalam Benteng.

Pertempuran merebut benteng Derma pun berlangsung dengan sengit. Sebe – lum mendekati benteng pasukan Belanda dihadang oleh pasukan Untung di Daerah persawahan dan di ladang-ladang. Benteng Derma akhirnya jatuh ke tanganBelanda. Sesudah itu mereka bergerak untuk merebut benteng Bangil. Di sini mereka meng­hadapi kesulitan yang lebih hebat lagi; selain benteng itu cukup kuat Untung Sura­pati berada di dalamnya, ditengah-tengah pasukannya dan langsung memimpin per tempuran. Dalam pertempuran mempertahankan benteng Bangil ini Untung menga lami luka-luka yang cukup parah. Ia dibawa oleh anak buahnya ke Pasuruan untuk di rawat, tetapi jiwanya tidak tertolong lagi. Dalam tahun 1706 Untung Surapati, bekas budak yang sempat menggemparkan VOC itu meninggal dunia, jenasahnya di makamkan di Mancilan Pasuruan.

Bagi Belanda, Untung Surapati merupakan musuh besar. Ia telah membuat – malu Belanda dalam pertempuran di Kartasura.

 

 

Sumber: https://jawatimuran.wordpress.com/2012/09/04/untung-surapati/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Keris: Lebih dari Senjata, Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Aceh

Keris: Lebih dari Senjata, Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Identitas dan Asal-Usul Keris Jawa merupakan senjata tikam tradisional yang secara fisik dikenali dari bilah asimetris dengan pola berkelok-kelok atau lurus, serta terbagi menjadi tiga komponen utama yaitu bilah, gagang, dan sarung [S1]. Struktur ini menjadi penanda identitas visual yang membedakannya dari belati atau pisau tikam lainnya di Nusantara [S5]. Material pembuatannya bervariasi, mulai dari logam besi dan baja untuk bilah, hingga kayu, gading, atau logam mulia seperti emas dan perak yang digunakan pada hulu dan warangka [S2]. Pengakuan UNESCO sebagai Karya Agung Warisan Budaya Kemanusiaan Lisan dan Nonbendawi menegaskan posisi keris sebagai warisan budaya yang dilindungi secara internasional [S1]. Secara geografis, keris berakar kuat di Pulau Jawa, dengan sentra produksi dan pengembangan budaya yang terpusat di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur [S5]. Beberapa referensi menekankan bahwa keris merupakan ciri...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Yupa: Jejak Martapura, Pilar Peradaban Purba Kalimantan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Kalimantan Timur

Yupa: Jejak Martapura, Pilar Peradaban Purba Kalimantan? Identitas dan Asal-Usul Kalimantan Timur merupakan provinsi di Indonesia yang memiliki jejak peradaban kuno tercatat sejak masa prasejarah hingga pengaruh kerajaan lokal dan luar [S1]. Secara administratif, wilayah ini mencakup kawasan pesisir timur Kalimantan yang berbatasan dengan Sabah (Malaysia) dan Laut Sulawesi, dengan pusat sejarah utama terletak di kawasan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara [S1]. Peradaban awal di wilayah ini ditandai oleh keberadaan prasasti Yupa, yang menjadi bukti tertulis tertua di Nusantara dan mengungkap keberadaan Kerajaan Martapura (atau Kutai Martapura) pada abad ke-5 Masehi [S1][S2]. Keunikan Kalimantan Timur terletak pada temuan tujuh prasasti Yupa di Muara Kaman, yang ditulis dalam aksara Pallawa berbahasa Sanskerta [C2]. Prasasti ini mencatat silsilah Raja Mulawarman, cucu Kundungga, serta sumbangan emasnya kepada kaum brahmana, yang menjadi bukti awal pengaruh Hindu-Buddha di wi...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Setiap motif yang digunakan dalam ornamen atau peralatan ritual memiliki makna yang berbeda-beda
Ornamen Ornamen
Kalimantan Barat

Setiap motif yang digunakan dalam ornamen atau peralatan ritual memiliki makna yang berbeda-beda Identitas dan Asal-Usul Ragam hias Dayak Kanayatn merupakan identitas visual yang melekat pada masyarakat suku Dayak di Kalimantan Barat, khususnya di Kabupaten Landak [S2]. Penelitian menunjukkan bahwa pusat pengembangan motif ini terdapat di Desa Garu, Kecamatan Mempawah Hulu [S2]. Objek budaya ini berfungsi sebagai simbol yang merepresentasikan kehidupan sosial dan kepercayaan masyarakat setempat [S5]. Keberadaan motif ini tidak terlepas dari konteks kerajinan tangan dan alat ritual yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari [S1]. Terdapat variasi bentuk motif yang memiliki makna simbolik berbeda-beda, seperti oncok rabukng yang melambangkan generasi penerus budaya [S2]. Motif lain seperti mata pune merepresentasikan proses pengambilan keputusan melalui mufakat dalam perundingan [S2]. Selain itu, stilasi burung enggang pada pakaian adat juga menjadi elemen penting yang mengandung...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Jamu Jawa: Warisan Mataram, Ikon Mbok Jamu, dan Pengakuan UNESCO
Makanan Minuman Makanan Minuman
Aceh

Jamu Jawa: Warisan Mataram, Ikon Mbok Jamu, dan Pengakuan UNESCO Identitas dan Asal-Usul Jamu tradisional Jawa merupakan warisan budaya Indonesia yang kaya akan nilai kesehatan dan filosofi kehidupan, dipraktikkan secara turun-temurun sejak era Kerajaan Mataram [S1, S3, S4, S5]. Pengobatan alami ini telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Jawa selama berabad-abad [C2]. Pengakuan UNESCO terhadap budaya kesehatan jamu sebagai "Warisan Budaya Takbenda" pada Desember 2023 menegaskan pentingnya kearifan lokal ini [C3]. Jamu tidak hanya sekadar minuman herbal, melainkan simbol kebijaksanaan lokal yang mengutamakan alam sebagai sumber penyembuhan [C12]. Tradisi herbal ini masih bertahan di pedesaan, di mana masyarakatnya terus menjaga kesehatan melalui obat herbal alami warisan leluhur [S2, C6]. Ramuan yang dikenal sejak zaman nenek moyang ini terbukti memberikan manfaat kesehatan yang diakui ilmu pengetahuan, bukan hanya menyembuhkan gejala tetapi juga memperbaiki fun...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Gamelan: Lebih Tua dari Hindu-Buddha?
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Jawa Tengah

Gamelan: Lebih Tua dari Hindu-Buddha? Identitas dan Asal-Usul Gamelan adalah ansambel musik tradisional yang menjadi ciri khas Indonesia, khususnya Pulau Jawa [S1]. Ansambel ini umumnya menampilkan instrumen metalofon, gendang, dan gong [S3]. Gamelan bukan sekadar kumpulan bunyi, melainkan warisan budaya Nusantara yang kaya, kompleks, dan berpengaruh, serta menjadi simbol kebudayaan yang sarat makna dan nilai spiritual [S5, S4]. Alat musik ini telah menjadi identitas bangsa Indonesia dan dikenal luas di seluruh dunia, bahkan telah dipentaskan secara internasional oleh generasi muda [C10, C7, C9]. Sejarah gamelan di Jawa diperkirakan telah ada jauh sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha [C4]. Beberapa pakar sejarah menduga bahwa gamelan berasal dari kebudayaan asli masyarakat Jawa yang berkembang pada masa prasejarah, sekitar 4000 tahun lalu [C5]. Namun, sumber lain mengaitkan sejarah gamelan di Jawa dengan dominasi budaya Hindu-Buddha di tanah Jawa pada masa lampau [S2, C8]. Ter...

avatar
Kianasarayu