Tradisi ini sengaja dilaksanakan agar masyarakat terhindar akan “murka” dari makhluk gaib penunggu hutan.
Masyarakat percaya apabila mereka mengadakan ritual tradisi nenek moyang ini, penunggu hutan (gaib) itu, akan menjaga kelestarian hutan tersebut, ladang, dan ternak mereka. Namun jika ritual ini tidak digelar, masyarakat percaya bahwa bala akan menimpa mereka, seperti hilangnya ternak mereka, hilangnya beberapa peladang, dan hasil ladangnya menjadi tidak menguntungkan.
Proses berlangsungnya adalah sebagai berikut:
Sebelum prosesi dimulai, para ibu menghidupkan tungku, kemudian memasak kalio dan menu lainnya. Sementara para lelaki membantu tetua kampung menyiapkan segala macam perlengkapan yang akan di bawa ke puncak bukit, dimana dipercaya disitu tempatnya makhluk gaib. Peralatan yang disiapkan berupa bambu yang dirangkai untuk meletakkan sajen, serta mangkok–mangkok yang terbuat dari daun pisang.
Setelah tengah hari dan melaksanakan shalat, para tetua kampung dan sejumlah warga mendaki bukit sambil membawa sajen untuk Inyiak Rajina dan Datuk Rajo Gagau, dua makhluk gaib yang selama ini dipercaya ikut menjaga hutan mereka.
Kabut putih turun saat rombongan sampai di puncak bukit Gantiang Kubang, nuansa magis seakan menyambut kehadiran warga kampung. Semilir angin menyejukkan badan yang telah letih usai mendaki dan melintasi padang ilalang.
Perlengkapan ritual akhirnya diturunkan dan diletakkan di rerumputan. Persis di bawah batang pohon paling besar yang ada di puncak bukit itu. Kemudian mereka membawa orang yang didaulat sebagai pawang yang bisa berkomunikasi dengan makhluk gaib, meletakkan sajen berupa darah, batih, daging kambing, rokok, lemang, telur, dan nasi dalam delapan mangkok daun.
Usai sajen ditata, pawangnya membaca mantra dan doa, serta membakar kemenyan. Bendera putih berukuran 40 X 30 sentimeter dikibarkan di atas sesajian dan diasapi oleh asap kemenyan. Pembacaan mantra dan doa sendiri diikuti oleh seluruh rombongan.
Altar dari bambu untuk meletakkan sesajian lalu diangkat dan diikat ke batang pohon. Butuh beberapa orang untuk mengikat altar sekuat mungkin agar tidak jatuh. Pawang yang telah berada di atas pohon menerima sajen itu dan meletakkannya di atas altar bambu, dan bendera putih dengan tiang kayu juga diikat ke batang pohon.
Ia lalu berdoa ke yang kuasa, kemudian mulai memanggil makhluk gaib penghuni hutan untuk menerima sajen. Suaranya bergema hingga ke lembah yang dijadikan warga sebagai ladang.
Tradisi ini merupakan cara masyarakat setempat terutama peladang untuk bersahabat dengan alam, dengan cara memberi sajen kepada penghuni hutan yang dipercaya ada secara gaib. Mereka berharap hutan tempat mereka mencari nafkah bisa terus terjaga.
Hubungi call center resmi Pinjam Flexi (0857) 58337054 atau CS Pinjam Flexi (0831)69265049 dan melalui email cs@pinjamflexi.id. layanan customer service Pinjam Flexi dapat dihubungi Senin-Minggu pukul 08:00-23:00 WIB.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara