Pada masa dahulu kala telah terjadi pertikaian antara warga Teluk Tarakani dan jazirah Wayamoto. Tidak diketahui awal mulanya, tetapi pertikaian itu berlarut-larut dan tidak ada tanda-tanda segera berakhir. Mereka hidup dalam suasana tidak nyaman, penuh curiga dan saling menyalahkan. Anak-anak tumbuh dalam situasi yang mencekam.
Di tengah situasi yang tidak mengenakkan itu, di dekat perbatasan kedua wilayah itu, tersebutlah dua keuarga yang tinggal di wilayah yang bertikai itu. Satu keluarga tingga di wilayah Teluk Tarakani, sedang yang lain tinggal di wilayah Jazirah Wayamoto. Kedua keluarga itu mempunyai anak lelaki yang usianya sebaya. Walaupun dilarang oleh kedua orangtuanya, mereka tetap berteman dan bermain bersama secara sembunyi-sembunyi.
Pada suatu hari anak dari Jazirah Wayamoto menanyakan kepada ayahnya tentang kenapa dia tidak boleh bermain dengan anak dari Tarakani. Ayahnya menyuruh bocah itu untuk mencari teman lain yang berasal dari Jazirah Wayamoto saja. Namun anak itu tidak mengindahkan perkataan ayahnya, dia merasa bahwa mereka tidak memiliki perbedaan. Rambut sama hitam, mata juga dua, kulit juga sama sehingga dia merasa bahwa tidak ada yang perlu dipertikaikan diantara mereka. Mendengar penjelasan anaknya, sang ayah terdiam dan tidak mampu memberi jawaban.
Suatu hari Kapito Horiwo, pemimpin Jazirah Wayamoto, berburu di hutan. Sekian lama berburu, tak juga ditemukan satupun binatang buruan. Makin lama, dia makin melangkah masuk hutan. Sampailah dia di perbatasan wilayah. Ketika hendak berbalik terdengan suara dua orang anak berbicara. Kapito Horiwo segera bersembunyi di balik semak. Tak jauh dari tempat itu, pemimpin dari Teluk Tarakani yang bernama Kolano Sero juga tengah berada di hutan tersebut. Dia melihat kedatangan dua orang anak lelaki dan bersembunyi dibalik hutan.
Ternyata dua orang anak tersebut masing-masing dari daerah yang saling bertikai. Mereka mengeluh tentang pertikaian yang tidak kunjung usai tersebut. Mereka sangat sedih dengan pertikaian yang terjadi dan memimpikan alangkah senangnya jika mereka dapat hidup dengan rukun. Masing-masing daerah memiliki hasil bumi yang berbeda, Jazirah Wayamoto memiliki ikan segar dan Tarakani memiliki sayuran segar. Masing-masing dapat bertukar jika mereka hidup dengan damai. Kemudian kedua anak itu sepakat untuk mengajak teman-teman mereka bermain di hutan tersebut sampai ketua dari masing-masing wilayah itu berbaikan dan tidak lagi saling bertikai.
Di tempat persembunyian masing-masing, Kapito Horiwo dan Kolano Sero tersadar. Anak-anak polos itu tengah mengutarakan isi hatinya. Perkataan mereka benar. Pertikaian yang berlarut-larut itu telah membuat semua orang tidak lagi merasa tenang dan aman. Anak-anak pun merasakan akibatnya. Akhirnya, kedua pemimpin itu kembali dengan pikiran yang berkecamuk. Pertikaian ini harus segera dihentikan. Namun, bagaimana caranya?
Ketika dua pemimpin itu masih sibuk memikirkan cara terbaik untuk perdamaian, di kaki Gunung Mamuya, terjadilah perang sengit antara kedua belah pihak. Banyak korban yang gugur di kedua belah pihak. Apalagi ditambah dengan gempa yang meretakkan tanah tempat mereka berperang. Orang yang selamat hanya kedua panglima dari setiap wilayah.
Melihat keadaan tersebut, keduanya sepakat untuk menyelesaikan persengketaan secara damai dan memandang perang yang telah berlangsung tidak ada yang kalah atau menang. Di sebuah batu besar, mereka menandai perdamaian itu dengan saling menyilangkan kaki mereka dan menusukkannya dengan sebuah pedang hingga memancarkan darah keduanya sebagai tanda perdamaian dengan menyatukan darah mereka.
Mereka membagi wilayah secara adil dan pergi ke suatu tempat bernama Luari serta memandang ke Gunung Mamuya. Di sana terlihat dengan jelas sebuah gunung dengan dua buah pantai yang seakan telah membagi wilayah mereka sehingga di tempat itulah tonggak batas wilayah dan perdamaian ditegakkan. Batu besar tempat perdamaian itu diberi nama Tonamalangi yang berarti batas tanah.
Itulah Dongeng Maluku Utara yang menceritakan tentang pertikaian yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Sesama manusia saling membutuhkan, saling bergantung dan saling mencintai. Kedua anak dari wilayah yang bertikai telah memberikan contoh yang baik tentang arti perdamaian.
sumber: http://www.driau.com/2017/04/dongeng-maluku-utara-tonamalangi.html
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara
Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.