Kepulauan masalembu di kelilingi perairan (laut bebas), berjarak sekitar 112 mil laut dari Pelabuhan Kalianget (Sumenep Daratan). Kondisi ini menyebabkan kepulauan masalembu langsung berbatasan dengan perairan bebas. Di balik keterpencilan ini, kepulauan masalembu memiliki keunikan baik sejarahnya, sukunya maupun kebudayannya. Di pulau ini tak hanya dihuni oleh suku madura, akan tetapi oleh suku lain seperti bugis dan mandar dari pulau Sulawesi. Bahkan tak jarang bisa melihat keturunan suku Dayak.
“Dulu orang-orang Bugis dan Mandar dimotivasi oleh keinginan untuk lepas dari tekanan penjajah Belanda, sehingga jalan satu-satunya adalah mencari daerah baru yang dipandang aman,”cerita Cici (45) putri seorang tokoh spiritual masyarakat Masalembu, Uwak Gani, saat ditanya alasan orang-orang Bugis mukim di pulau ini.
Menurut wanita keturunan suku Mandar, salah satu tokoh yang pertama membabat Masalembu adalah Toan Karaeng, yang memiliki nama asli Yahya. Toan ini disebutkan berasal dari Sulawesi namun lama menuntu ilmu di Makkah. Ia hidup di sekitar abad 19. Toan Karaeng pun salah seorang ulama besar di Masalembu.
Beliau dikenal sebagai Ketua NU pertama di Kecamatan Masalembu. Sebutan Karaeng yang melekat pada dirinya menunjukkan statusnya sebagai keturunan darah biru. Dalam bahasa Makassar, karaeng bermakna raja. Namun di batu nisannya, tertulis Sayyid Yahya As-Sumbul. As-Sumbul merupakan salah satu marga keturunan bangsa Arab Hadhramaut Yaman.
“Saya dengar Toan Karaeng adalah keturunan bangsawan. Beliau menetap di Masalembu hingga akhir hayatnya,”kata Cici.
Isteri Ridwan ini juga menceritakan bagaimana sepak terjang Toan Karaeng di Masalembu, termasuk hubungannya dengan penjajah Belanda yang tidak harmonis.
“Toan menjadi musuh utama Belanda di Masalembu. Beliau sering dicari-cari dan menjadi target pembunuhan utama,” tambahnya.
Pernah suatu saat Belanda meluncurkan serangan melalui meriam yang ditujukan pada masjid dan kediaman Toan Karaeng. Namun anehnya, atas izin Allah SWT, menurut Cici, bom-bom yang dimuntahkan penjajah itu tidak meledak, malah meleleh.
“Bom-bom itu tiba-tiba berubah cair seperti air saat menyentuh bangunan masjid milik Toan,”kata ibu 2 anak perempuan ini.
Toan Karaeng memang dikenal memiliki banyak karomah. Dulu di usia sepuhnya, pernah ada proyek penambangan minyak di Pantai Masalembu. Namun, setelah dideteksi ulang, sumber minyaknya malah hilang dan berpindah tepat di bawah rumah Toan Karaeng.
“Toan memang tidak setuju, karena bisa merusak ekosistem laut,”tambah Ridwan, suami Cici.
Itulah sekelumit kisah Toan Karaeng dan sekilas mendaratnya warga Sulawesi di kepulauan Masalembu yang didapat dari Cici. Sebenarnya, kalau dilihat dari sejarah awalnya yang berasal dari cerita tutur, Masalembu sudah berpenghuni sejak abad 17. Dari keterangan beberapa warga Masalembu, pulau ini pertama kali disinggahi oleh saudagar-saudagar Bugis yang terdampar akibat kurang mendapat cukup angin untuk berlayar.
“Saat itu, pulau yang masih tanpa nama tersebut penuh dengan hewan jenis sapi atau lembu. Oleh karenanya, orang-orang Bugis menyebut pulau tersebut dengan sebutan Nusa (pulau) Lembu. Namun, lama kelamaan berubah menjadi Masalembu.
Masa berarti banyak, jadi Masalembu bermakna banyak lembu. Tanah di pulau itu sangat cocok untuk ditanami pohon kelapa, sehingga orang-orang Bugis itu mulai menanam tunasnya,”kata Darwis, warga desa Masalima Masalembu, yang berdarah campuran Madura-Bugis-Mandar ini.
Lambat laun dari informasi pedagang Bugis, menurut cerita Darwis, pulau ini mulai dikunjungi orang-orang Jawa dan Madura. Di situlah kemudian terjadi asimilasi budaya, melalui hubungan pernikahan. Namun, karena dominasi budaya Bugis yang cukup kuat, maka budaya Madura dan Jawa tergeser.
Sumber :
http://www.lontarmadura.com/toan-karaeng-sosok-tokoh-legendaris-masalembu/
http://www.lontarmadura.com/toan-karaeng-sosok-tokoh-legendaris-masalembu/2/
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...
Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...
Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...