Makanan Minuman
Makanan Minuman
Makanan Sulawesi Utara Manado
Tinutuan
- 24 September 2017

Tinutuan - Manado

Makanan dengan nama tinutuan atau lebih dikenal dengan bubur manado ini berasal dari Sulawesi Utara, ada yang menyebutnya dari Manado, ada pula yang dari Minahasa. Seperti kebanyakan bubur, tinutuan memiliki bentuk lembek dengan campuran sayuran yang cukup banyak, namun tak menggunakan daging. Makanan yang dikatakan mulai dijual di sudut kota Manado tahun 1970 ini dibuat menggunakan bahan berupa beras, labu kuning (sambiki), bayam, daun gedi, kangkung, singkong, kemangi, dan jagung. Warna khas yang tampak adalah kuning dengan beberapa warna hijau sayur menyembul keluar.

Kebanyakan masyarakat menyajikannya dengan ikan asin, sedangkan untuk orang Manado sendiri lebih sering menambahkan sambal roa, perkedel nike, perkedel jagung, dan tuna asap. Selain itu masih ada banyak pula tambahan yang bisa dimasukkan ke dalam porsi tinutuan tersebut. Bahkan di lain kesempatan, ada pula penambahan mie hingga brenebon alias sup kacang merah khas dari Minahasa. Bagi yang beragama Kristen, ada pula yang menambah kaki babi pada masakan ini, ada pula yang menambahnya dengan tetelan sapi pada sup kacang merah tersebut.

Berdasarkan cerita tempo dulu Tinutuan tercipta karena keadaan ekonomi masyarakat di manado sangat buruk, dan akhirnya menjadikan sayuran - sayuran di sekitar rumah makanan yang dicampurkan dengan sedikit beras, dan terciptalah bubur Manado. Dari benar dan tidaknya penciptaan bubur manado 1 hal yang sangat berarti adalah betapa mudahnya kita membuat makanan yang sederhana tetapi sehat dan bergizi.

Tinutuan juga biasanya di sajikan dengan perkedel nike, sambal roa (rica roa, dabu-dabu roa), ikan cakalang fufu atau tuna asap, perkedel jagung serta tahu. Tinutuan juga bisa disajikan dicampur dengan mie atau dengan sup kacang merah yang disebut brenebon. Tinutuan yang di campur dengan mie disebut Miedal. Tinutuan biasanya di sajikan pada pagi hari atau juga di sajikan pada saat hari raya pengucapan syukur.

 
 
Resepnya :
 
Bahan :
 
  •     200 g beras, cuci bersih, tiriskan
  •     2 L air
  •     1 1/2 sdt garam
  •     100 g  ubi merah, kupas, potong
  •     100 g  labu kuning, kupas, potong
  •     300 g  jagung manis, sisir
  •     50 g daun melinjo muda, cuci bersih
  •     50 g bayam, cuci bersih
  •     50 g daun kangkung, cuci bersih
  •     25 g daun kemangi, cuci bersih
  •     3 batang sereh, memarkan
  •     4 batang daun bawang, iris halus
  •     2 lembar daun kunyit, simpulkan

Pelengkap :
  •     150 g ikan asin jambal, potong dadu ½ cm, cuci, goreng hingga kering

Sambal dabu-dabu, aduk rata :
  •     4 buah cabai rawit merah, iris tipis
  •     6 buah cabai rawit, iris tipis
  •     4 butir bawang merah, potong dadu ½ cm
  •     1 buah tomat merah, potong dadu ½ cm
  •     2 sdm air jeruk nipis
  •     1/2 sdt garam

Cara Membuat :
  •     Masak beras bersama air, garam, daun bawang, sereh, daun kunyit  hingga setengah matang.
  •     Masukkan ubi merah, labu kuning, dan jagung, aduk rata. Masak kembali hingga lunak.
  •     Tambahkan sisa sayuran, sambil aduk perlahan hingga matang dan kental. Angkat.
  •     Sajikan bubur dengan pelengkap dan sambal.

 

Sumber

http://kolomsejarahdunia.blogspot.co.id/2013/12/sejarah-makanan-tinutuan-bubur-manado.html

http://makananoleholeh.com/makanan-khas-sulawesi/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...

avatar
Gulamerah