Motif Kain
Motif Kain
Kain Tenun , Motif Kain Kalimantan Selatan Banjarmasin
Tenun Pagatan
- 28 Oktober 2017

Tenun tradisional Bugis Pagatan adalah tenun yang berasal dari daerah Pagatan, Kalimantan. Tenun ini merupakan hasil kerajinan orang-orang Bugis yang tinggal di Pagatan.

1. Asal-usul

Seni tenun telah dikenal masyarakat sejak Nusantara masih menyatu dalam berbagai bentuk kerajaan. Menenun merupakan kegiatan sehari-hari masyarakat terutama kaum perempuan, baik untuk tujuan kormersil atau sekadar untuk mengisi waktu luang.

Di Kalimantan, pekerjaan menenun telah ada sejak zaman kerajaan Negara Dipa di Amuntai. Hal tersebut tertuang dalam naskah Tutur Candi yang berbunyi: Mula-mula kapas digawi urang dan itu tapih pitung warna ada yang menggiling, ada yang mahambat dan ada yang menggantih dan manisi dan yang manyikat dan yang maawiludar dan yang mahani dan mananun, maka tuntung pada sahari itu jua maulah. Artinya: Mulai kapas dikerjakan orang, dan sarung yang tujuh warna itu ada yang menggiling, ada yang memukul-mukul, menggantih, manisi dan yang menenun, maka selesai pada satu hari itu juga membuatnya (Sjarifuddin, 1994/1995: 4).

Kain tenun tradisional Bugis Pagatan atau terkenal dengan sebutan Tenun Pagatan dibuat oleh para pendatang Suku Bugis Wajo ke Pagatan. Perpindahan penduduk, baik yang dilakukan secara sendiri maupun berkelompok, berarti juga perpindahan kebudayaan. Orang-orang Bugis yang datang dan mendiami wilayah Pagatan dan sekitarnya membawa tradisi dan kebudayaan mereka. Begitu pula dengan kemunculan tenun tradisional Bugis Pagatan. Tenun Pagatan muncul bersamaan dengan kedatangan para perantau Bugis pada pertengahan abad ke-18.

Pagatan adalah nama sebuah pulau yang hanya terdiri dari satu desa, yaitu Desa Pagatan. Desa ini masuk wilayah Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Kemunculan masyarakat Bugis yang mendiami Pagatan tak lepas dari peran Puanna Dekke, seorang perantau dari kerajaan Wajo, yang membangun Pagatan menjadi tempat permukiman pada tahun 1750. Pada mulanya, Puanna Dekke hendak merantau ke wilayah Kabupaten Pasir, namun tidak jadi dan berpindah ke Pulau Pagatan. Atas izin Sultan Banjar VII bergelar Susuhunan Nata Alam (1734), Puanna Dekke serta beberapa perantau Bugis yang lain membangun Pulau Pagatan menjadi sebuah kampung (www.wikipedia.org).

Kampung Pagatan kemudian berkembang menjadi kerajaan, yaitu Kerajaan Pagatan (1755-1908). Raja pertama Kerajaan Pagatan adalah La Pangewa (1755-1800) yang diberi gelar Kapitan Laut Pulo oleh Panembahan Batu, sedangkan raja terakhirnya Andi Sallo atau Arung Abdurahman (1893-1908) (www.wikipedia.org). Kerajaan Pagatan menggunakan adat-istiadat, gelar kebangsawanan, dan tradisi Bugis dalam pemerintahannya. Demikian pula dengan pakaian yang mereka kenakan. Mereka memakai kain hasil tenunan sendiri dengan peralatan yang mereka bawa dari daerah asal. Sehingga peralatan dan segala proses menenun menggunakan istilah Bugis dialek Wajo.

Saat ini, perkembangan Tenun Pagatan mengalami perkembangan pesat. Berbagai jenis pakaian muncul kemudian menggunakan tenun jenis ini. Tenun Pagatan tidak hanya digunakan sebagai pakaian tradisional saja. Namun juga berbagai jenis pakaian yang lain.

2. Jenis Tenun Pagatan

Berdasarkan cara menenun dan cara membuat hiasan pada kain tenun, ada beberapa jenis kain Tenun Pagatan (Sjarifuddin, 1994/1995: 26-30), yaitu:

a. Jenis Songket (sobe)

Tenun Pagatan yang berjenis songket terdapat dua macam, yaitu jenis sobe are dan jenis sobe sumelang. Ornamen pada sobe are dibuat tembus ke sebelah dalam. Caranya adalah menyisipkan benang tenun untuk membuat ornamen tersebut ketika menenunnya. Meskipun begitu, hiasan yang terlihat baik hanya bagian luarnya saja, bagian dalam tidak bagus untuk dipakai karena hanya merupakan tembusan dari benang songket tersebut. Sedangkan ornamen pada sobe sumelang hanya disisipkan pada bagian muka saja, tidak tembus ke dalam.

b. Jenis Tenun Ikat (bebbe)

Jenis tenun ini dibuat dengan cara mengikat benang tenun sebelum dicelupkan ke dalam zat pewarna. Mengikat benang dengan kulit batang pisang ini dalam bahasa Bugis Pagatan disebut membebbe. Karena itulah nama tenun ini adalah tenun bebbe atau tenun ikat. Proses menenun benang dilakukan setelah benang tersebut dicelupkan ke dalam zat pewarna. Proses menenun dilakukan dengan cara mengatur benang tenun sesuai dengan ikatan pada waktu benang dicelupkan ke dalam pewarna. Dan jadilah sebuah ornamen sesuai dengan corak yang diinginkan oleh penenun.

c. Jenis Panji

Hiasan pada tenun Panji tidak dibuat melalui ikat atau songket, tapi dengan motif anyaman langsung melalui benang pakan atau pasulu yang dianyamkan pada benang dirian. Hasilnya adalah ragam khusus sesuai dengan yang diinginkan melalui anyaman benang tenun yang sudah diwarnai. Jadi, motif anyaman tersebut dibuat secara langsung dan diatur sendiri oleh penenun.

d. Sarung Kotak-kotak Biasa

Jenis sarung kotak-kotak pada kain Tenun Pagatan sebenarnya hanya merupakan dasar hiasan saja.  Karena pada perkembangannya kemudian, jenis tenun sarung kotak-kotak digabungkan dengan berbagai motif hiasan yang lain. Bentuk dasar kotak-kotak dapat digabungkan dengan songket, baik sobbe are maupun sobbe sumelang. Bentuk dasar kotak-kotak menggunakan anyaman jenis panji atau jenis bebbe.

Secara umum, sebenarnya Tenun Pagatan mempunyai pola dasar (sujubila) yang kemudian menjadi dasar pola hiasan yang beraneka ragam. Pola-pola hiasan dasar tersebut mereka buat sebagai acuan pada kain-lain tertentu untuk dijadikan acuan dalam mereka menenun. Beberapa pola dasar hiasan Tenun Pagatan, misalnya bentuk burung, kuda, keris pohon kayu yang berada di tengah laut (fujengki), anak panah, burung di pohon, angsa, babi, pohon kayu biasa, rantai, singa, orang bermain panah, naga, kelinci, jambangan bunga, kaligrafi, kembang bakung, dan berbagai motif yang lain.

3. Bahan dan Cara Pembuatan

Pembuatan kerajinan seni Tenun Pagatan tersebut masih berlangsung hingga sekarang. Sjarifuddin (1994/1995:18-26) menjelaskan beberapa bahan untuk membuat Tenun Pagatan dan cara pembuatannya. Bahan dan proses pembuatan Tenun Pagatan adalah sebagai berikut.

a. Bahan

Bahan baku untuk membuat tenun ini adalah benang yang telah siap digunakan, antara lain:

1. Benang Tenun

Terdapat empat macam benang yang dapat digunakan untuk menenun dengan tingkat kualitas yang berbeda-beda, yaitu:  

2. Benang sutra yang berasal dari sutra alam

Sutra ulat yang digunakan untuk membuat Tenun Pagatan ini pada zaman dahulu langsung didatangkan dari Sulawesi. Bahan tersebut kemudian diolah di Pagatan. Saat ini, daerah Pagatan sekitarnya sudah tidak ada lagi yang menggunakan sutra alam. Sebagai gantinya, pengrajin menggunakan benang biasa atau benang Samarinda, benang yang digunakan untuk membuat sarung Samarinda. Sutra alam merupakan bahan yang paling baik untuk bahan pembuatan Tenun Pagatan, baik secara kualitas maupun kehalusannya.   

3. Benang Samarinda

Sesuai dengan namanya, benang Samarinda adalah benang yang digunakan untuk membuat sarung Samarinda. Benang ini tidak diolah secara tradisional, namun dibuat oleh pabrik.

4. Benang Singapur

Merupakan benang buatan pabrik yang digunakan untuk membuat Tenun Pagatan. Kualitas benang ini lebih baik daripada benang Samarinda, namun lebih buruk dibanding benang sutra alam.

5. Benang Biasa

Benang biasa yang digunakan untuk membuat seni Tenun Bugis Pagatan ini adalah benang biasa yang telah diwarnai oleh pabrik pengolah dengan berbagai warna. Benang ini biasanya digunakan untuk berbagai keperluan lain selain tenun, misalnya bahan untuk membuat bordir dan menyulam. 

·    Bahan pewarna

Bahan pewarna digunakan untuk mewarnai benang yang siap digunakan untuk menenun. Bahan pewarna ada dua macam, yaitu bahan pewarna tradisional dan buatan pabrik.

Bahan pewarna tradisional ialah kesumba atau nila dan daun kabuau untuk warna hitam. Kabuau adalah sejenis tumbuhan yang buahnya digunakan sebagai kelereng dalam permainan kelereng di wilayah pedesaan Kalimantan Selatan. Cara menggunakan daun kabuau sebagai pewarna, yakni daun kabuau direbus kemudian bahan yang ingin diberi warna dicelupkan ke dalam rebusan daun kabuau. Setelah itu, bahan tadi dibenamkan ke dalam lumpur selama satu malam, lalu dicuci dan dikeringkan.

Bahan pewarna buatan pabrik yang digunakan untuk mewarnai benang tenun adalah wantek. Warna wantek beraneka ragam, sehingga memudahkan pembuat tenun untuk menciptakan corak tenun sesuai yang mereka inginkan. Cara menggunakannya adalah dengan mencelupkan benang ke dalam wantek.

·    Bahan Pengawet Tradisional

Bahan pengawet digunakan untuk menjaga warna agar tidak luntur. Bahan pengawet yang biasa digunakan adalah bahan pengawet tradisional, bukan bahan pengawet buatan pabrik. Bahan pengawet tradisional yakni buah nyiur yang masih sangat muda dan kulit jambu mete. Proses penggunaannya, masing-masing bahan tersebut ditumbuk, dicampur dengan air, kemudian disaring airnya. Selanjutnya, benang yang sudah diwarnai tadi dicelupkan ke dalam air saringan itu.

b. Peralatan

Peralatan yang digunakan untuk membuat Tenun Bugis Pagatan sama dengan yang alat tenun dari daerah asalnya, yaitu Sulawesi Selatan. Namun, peralatan tenun yang digunakan di daerah Pagatan dan sekitarnya dibuat dari kayu yang banyak terdapat di daerah itu. Berikut ini beberapa peralatan yang digunakan untuk membuat kain tenun tradisional Bugis Pagatan (Sjarifuddin, et. al. 1994/1995: 22-24).

·    Roweng atau mesin uluran, yaitu peralatan untuk mengulur atau membuka benang dari gulungannya.

·    Ola. Alat ini digunakan untuk menggulung benang tenun.

·    Unuseng atau papali, digunakan untuk melereng benang pasulu atau benang pakan, yaitu benang yang digunakan untuk menyisipkan benang sau pada saat menenun.

·    Pamedangan. Alat ini digunakan untuk mengikat benang pada tenun ikat sebelum dicelupkan ke dalam bahan pewarna.

·    Saureng, yaitu alat untuk menyusun benang dirian.

·    Patekko. Alat untuk menahan kedua benang dirian atau sau pada waktu mahani.

·    Belebas. Alat untuk memisahkan benang dirian.

·    Penggulung (awereng) dan pucucukkare. Alat untuk membuat sela atau jarak yang memisahkan benang dirian (sau).

·    Are, yaitu alat untuk mengatur dan menyelipkan benang tenun songket pada waktu membuat ornamen pada kain tenun jenis songket.

·    Sisir (jakka). Alat untuk mengatur benang dirian (sau).

·    Pamalu, yaitu alat untuk menggulung benang dirian (sau) yang belum ditenun.

·    Pessa. Alat untuk menggulung kain yang sudah ditenun atau sau yang sudah ditenun dengan pasulu-nya.

·    Simong. Alat untuk menempatkan pamalu.

·    Tamrajeng merupakan alat yang dapat menimbulkan bunyi pada waktu merapatkan benang pasulu atau benang pakan. Fungsinya, agar orang tahu kalau di tempat itu ada orang sedang menenun.

·    Boko-boko adalah alat untuk merentangkan benang dirian pada waktu menenun.

·    Bulang. Alat ini dalam bahasa Banjar disebut tali tampar. Fungsinya menghubungkan boko-boko didorong ke belakang sehingga benang dirian menjadi kencang.

·    Papanenre. Dalam bahasa Banjar disebut papankatinjakan yang berfungsi sebagai tempat kaki berpijak.

·    Walida atau walira dalam bahasa Banjar. Alat ini berfungsi untuk membuat ruang pemisah pada benang sau sehingga memudahkan untuk memasukkan turak atau teropong yang berisi anggaliri/lerengan yang berisi benang pasulu yang digulung.

·    Sakka (dalam bahasa Banjar: sumbi) berfungsi untuk menjaga tepi kain agar tetap lebar.

c. Cara Pembuatan

Di atas telah dijelaskan bahwa terdapat beberapa jenis Tenun Pagatan, dua di antaranya adalah jenis tenun ikat (bebbe) dan tenun songket (sobe). Kedua jenis kain ini dibuat dengan cara yang berbeda. Proses pembuatan kedua jenis Tenun Pagatan ini adalah sebagai berikut.

·    Tenun Songket

Pertama, Langkah pertama adalah mangola, yaitu memasukkan seikat benang tenun ke dalam ruweng, yang kemudian digulung dengan gulungan benang (ola) yang dibuat khusus untuk membuka benang dari gulungan aslinya (gincilan).

Kedua, makajuneng. Yaitu memindahkan benang dari ola ke ajuneng, lalu dihitung berapa yang akan diikat dengan kulit batang pisang (gadang) sebelum dicelupkan ke dalam zat pewarna.

Ketiga, mengikat (mem-bebbe). Mengikat benang yang telah berada di ajuneng sesuai dengan pola yang diinginkan.

Keempat. Ikasumba. Mencelup benang-benang yang telah diikat (di-bebbe) ke dalam zat pewarna.

Kelima, menjemur benang (irakui).

Keenam, membuka ikatan (mabuka bebbe). Setelah benang yang dijemur tersebut kering, langkah selanjutnya adalah membuka ikatannya.

Ketujuh, dipali, yaitu menggulung benang ke anagaliri benang, benang pakan, atau pasulu. Alat yang dipakai adalah onoseng atau lerengan untuk melereng pasulu. Pasulu adalah benang pakan yang dianyamkan ke dalam benang dirian pada waktu menenun. Dipali, yaitu benang tersebut digulung pada papali, sehingga benang tergulung pada anagaliri. Setelah semua peralatan ini siap, barulah proses menenun dilakukan.

·    Tenun Songket

Pertama, memberi warna pada benang tenun yang akan dijadikan bahan tenun tanpa diikat.

Kedua, menganji (ipandre. Mencelupkan benang yang akan digunakan untuk bahan tenun ke dalam tepung beras yang telah dimasak terlebih dahulu. Tepung kanji ini dipergunakan untuk mengeraskan benang.

Ketiga, mangola. Yaitu, menyisipkan benang tenun membentuk sesuai dengan pola yang telah dibuat.   

4. Fungsi Tenun Pagatan

Fungsi Tenun Pagatan senantiasa berkembang dari waktu ke waktu. Pada mulanya Tenun Pagatan cuma dibuat untuk kain sarung. Dan kain sarung itu pun hanya dipakai oleh kaum laki-laki. Pada perkembangan selanjutnya, kain sarung Tenun Pagatan tidak hanya dipakai oleh kaum laki-laki, namun juga para perempuan.

Selain sarung, Tenun Pagatan pada zaman dahulu juga digunakan untuk membuat pakaian para raja, terutama Raja Bugis Pagatan. Pakaian tersebut berupa celana kerja yang disebut Sulara Pajama, baju, dan sarung. Tenun Pagatan untuk pakaian raja biasanya menggunakan motif khusus.

Perkembangan fungsi Tenun Pagatan terus berlangsung hingga sekarang. Saat ini, Tenun Pagatan sudah banyak digunakan untuk berbagai jenis pakaian sesuai dengan selera pemakai atau pemesannya. Beberapa jenis pakaian yang dibuat dari Tenun Pagatan, misalnya sarung, dasi, stagen, selendang, baju biasa, rok, kain panjang, busana muslim, pakaian tari, dan lain-lain.

5. Nilai-nilai

Tenun Pagatan mengandung nilai-nilai sebagai berikut.

a. Nilai Ekonomi

Menenun merupakan salah satu kegiatan yang dapat mendatangkan keuntungan secara ekonomis. Menenun menjadi sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat Pagatan selain mata pencaharian mereka sebagai pelaut. Tenun Pagatan yang pada mulanya merupakan pakaian tradisional yang dipakai orang-orang atau dalam kegiatan tertentu, kini berkembang dalam berbagai bentuk pakaian. Tentunya perkembangan ini menguntungkan pengrajin, yaitu kelangsungan mata pencaharian mereka tetap terjaga dan pengetahuan mereka tentang tenun semakin meningkat dengan berbagai inovasi yang mereka lakukan.   

b. Nilai Budaya

Kain Tenun Pagatan merupakan warisan budaya bernilai tinggi. Masyarakat telah melakukan kegiatan menenun ini selama ratusan tahun. Hampir semua masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia masing-masing mempunyai kerajinan tenun. Dari sekian banyak jenis tenun yang ada dari berbagai daerah itu, tentu saja tak jarang yang mulai punah. Oleh karena itu, Tenun Pagatan yang masih ada hingga saat ini perlu dilestarikan dan dikembangkan sebagai warisan budaya.

c. Nilai Sosial

Tenun Pagatan menjadi ciri khas kebudayaan para perantau Bugis di Kalimantan Selatan. Tenun ini menandakan bahwa kebudayaan yang ada di sebagian besar wilayah Indonesia atau Nusantara pada masa lalu adalah hasil perpaduan satu budaya dengan budaya yang lain. Artinya tidak ada kebudayaan yang berdiri sendiri tanpa ada pengaruh dari budaya yang lain. Seperti halnya akulturasi budaya Melayu yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Ini ditandai dengan kemiripan budaya di antara berbagai masyarakat Melayu, misalnya dari segi bahasa, peralatan, kesenian, pakaian, dan sebagainya.   

6. Penutup

Tenun Pagatan merupakan salah satu kerajinan khas Melayu yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Saat ini, tenun tradisional Pagatan semakin berkembang dalam berbagai jenis pakaian.

 

http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2658/tenun-bugis-pagatan-kalimantan-selatan

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu