Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Legenda Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Barat
Temba Ndori - Nusa Tenggara Barat - Nusa Tenggara Barat
- 3 April 2018

Di pagi yang cerah dan sejuk, Putri Ndori terlihat sibuk menyiram bunga di halaman gubuknya yang terletak di lembah Desa Keli. Sesekali putri berparas cantik itu tersenyum ramah sambil bercengkerama dengan bunga-bunga dan kupu-kupu yang hinggap di bunganya.

Tiba-tiba Putri Ndori terkejut. Tanpa mengucapkan salam, seorang laki-laki berwajah domba masuk begitu saja ke halaman gubuknya. Lalu dengan lancang, laki-laki berwajah domba itu memetik, dan menghirup aroma sekuntum bunga milik Putri Ndori. Tentu saja Putri Ndori tak suka dengan perbuatan laki-laki itu.

“Siapakah Tuan ini? Darimana Tuan berasal?” tanya Putri Ndori sambil menyembunyikan wajahnya di balik rambutnya yang panjang dan hitam.

Laki-laki asing itu tak menjawab pertanyaan Putri Ndori. Ia malah tersenyum, menahan geli melihat ulah Putri Ndori yang menurutnya lucu. Laki-laki itu malah memuji kecantikan Putri Ndori, dan rajin merawat bunga.

“Saya ingin melamar, Putri! Bersediakah Putri menjadi istri saya?” tanya laki-laki berwajah domba itu.

Putri Ndori sangat terkaget. Ia tak percaya pada yang didengarnya. Ini tak mungkin. Yang benar saja. Masa aku mau diperistri oleh lelaki berwajah domba, ucap Putri Ndori dalam hati.

“Maaf, saya tidak bersedia,” tentu saja Putri Ndori menolak lamaran laki-laki berwajah domba itu.

Laki-laki berwajah domba itu terus merayu Putri Ndori. Namun Putri Ndori tetap menolaknya. Akhirnya, laki-laki berwajah domba itu menjadi marah.

“Demi leluhur, aku bersumpah, akan membuat negeri putri ini kering kerontang!” ucap laki-laki berwajah domba itu sebelum meninggalkan Putri Ndori.

Putri Ndori terkejut. Badannya gemetaran, karena cemas dan ketakutan. Putri Ndori takut ucapan laki-laki berwajah domba itu menjadi kenyataan.

***

Waktu terus bergulir. Benar saja. Negeri Putri Ndori yang semula melimpah air, perlahan menyusut, lalu mengering dan tandus. Air telaga yang berada di sebelah gubuk pun ikut kering. Padahal air telaga itu yang biasa Putri Ndori pakai untuk menyiram bunga-bungany yang kini sudah kering kerontang. Para penduduk gelisah. Mereka saling mengeluh dan melaporkan kepada Putri Ndori, selaku putri dari Due Parafu.

“Bagaimana ini, Putri? Bagaimana kita bisa bertahan hidup kalau kita terus-terusan dilanda kekeringan? Kita tidak memiliki air. Bahkan untuk sekadar mencuci muka, kita tak punya,” keluh salah satu penduduk.

Putri Ndori merasa prihatin. Ia sedih melihat dan mendengar keluh kesah penduduk. Putri Ndori merasa berdosa. Gara-gara ia yang menolak lamaran laki-laki asing berwajah domba itu, penduduk harus ikut-ikutan merasakan akibat dari sumpah itu.

Malamnya Putri Ndori tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan cara, bagaimana mengakhiri kekeringan di negerinya. Apa yang harus aku lakukan, ya? tanya Putri Ndori dalam hati.

Keesokan hari, Putri Ndori mengumpulkan penduduk. Ia memerintahkan penduduk untuk bergotong royong menggali sumur. Awalnya para penduduk tidak mau. Mereka menganggap ide Putri Ndori itu mustahil.

“Yang benar saja? masa ada sumber air di tengah kekeringan seperti ini?” ucap seorang penduduk.

“Tolong percaya padaku,” ujar Putri Ndori meyakinkan.

Akhirnya, warga pun mau menggalikan sumur itu. Putri Ndori juga memanggil ibu-ibu memanjatkan doa-doa untuk kelancaran proses penggalian sumur di bawah pohon Ara.

Ajaib. Begitu selesai digali, sumur itu mengeluarkan air yang jernih dan deras. Penduduk bersorak riang dan terharu. Anak-anak bertelanjang dada juga ikutan bersorak. Mereka menyoraki nama Putri Ndori. Warga pun sepakat memberi nama untuk sumur itu, Temba Ndori[1], sesuai nama Putri Ndori, yang kemudian menjadi sumber air buat mereka satu-satunya.

***

Pagi itu, Putri Ndori duduk menganyam tikar di balai bambu depan gubuknya. Tiba-tiba seorang wanita muda datang dengan terburu-buru. Ia memanggil Putri Ndori dengan terengah-engah.

“Ada apa?” tanya Putri Ndori heran.

“Saya mendapat kabar , kalau aki-laki yang Putri tolak lamarannya dulu, nanti sore akan menikah dengan putri dari Parafu Doro Langgiri,” cerita wanita muda itu.

Putri Ndori tak percaya. Ia malah menertawakan Putri Parafu Doro Langgiri yang menurutnya tidak pandai memilih suami. Tapi karena penasaran, sore harinya Putri Ndori diam-diam menghadiri pesta pernikahan itu. Ia memakai tudung tembe nggoli[2]. Dari kabar yang tersebar, rencananya pesta pernikahan itu digelar selama seminggu itu.

Sesampainya di sana, Putri Ndori sangat terkejut. Ia sangat tak percaya. Benarkah lelaki yang bersanding di pelaminan adalah laki-laki berwajah domba yang datang melamarnya dulu. Tapi sekarang laki-laki berwajah domba itu sangat tampan, berwibawa, dan sangat serasi dengan pengantin wanita. Ternyata, lelaki yang dulu menyamar dengan wajah domba itu adalah putra dari Parafu La Kedo, penguasa di puncak La Kedo.

Putri sangat sedih dan kecewa. Ia pulang sambil menangis tersedu-sedu. kemudian tiba-tiba Putri Ndori membisu, lalu lenyap atau menjelma entah jadi apa. Maka, di bukit tempat Putri Ndori membisu itu, orang-orang menamakannya Doro Mpongi[3].

[1] Temba Ndori: Sumur si Putri Ndori

[2] Tembe Nggoli: Sarung tenun khas Bima, NTB

[3] Doro Mpongi: Bukit Bisu



 

Sumber: http://indonesianfolktales.com/id/book/legenda-temba-ndori/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...

avatar
Gulamerah