Pepe' - Pepeka Ri Makka Pepe' berarti api, Rimakka adalah tanah suci Mekkah, tarian ini mengingatkan kita pada Nabi Ibrahim yang dibakar oleh kaum Quraiz. Karena iman dan keyakinannya kepada sang khaliq turunlah Do'a Qulna yaa naaru kuunii bardan wasalaaman alaa ibraahiim laa haula walaa kuwwataa illaa billaah.....kumfayakum. Para penari terinspirasi dan menuang dalam sebuah bentuk tari yakni tari pepe'-pepeka rimakka. Dengan penuh keyakinan dan Do'a para penari membakar sarung, tangan mereka tanpa merasa kepanasan, tarian ini adanya dikampung Paropo kecamatan panakkukang kota Makassar, sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang tahun 1942. Tarian ini berdasarkan adat kebiaasan dan sebagai Icon Budaya dikampung Paropo yang bersifat tradisional dan dimainkan pada saat menyambut pesta panen dalam acara Attontong Bulang (bulan purnama) dan Maudu' Lompoa (peringatan Maulid Nabiyyullah Muhammad SAW). Karena perkembangan zaman, modernisasi dan kurangnya perhatian pemerintah setempat, tarian ini jarang dimainkan dan bahkan hampir punah, faktor utama dikarenakan minimnya alat musik yang digunakan dan rusak serta tidak adanya bantuan dana dari pemerintah setempat. Terinspirasi dari adat tradisi yang membudaya ini para remaja membentuk sebuah sanggar kesenian tradisional Ganrangbulo dengan nama SANGGAR REMAJA PAROPO generasi ke enam yang terbentuk pada bulan Januari tahun 1992 dimana terdiri dari tari pepe'-pepeka rimakka, tari si'ru (sendok/piring), ganrangbulo, dan teater kondo buleng (burung bangao), orkes torioilo (lagu-lagu daerah). Adapun dana awal yang dikumpulkan dari tiap anggota itu sendiri yang bernilai Rp 1000 setiap hari dari 15 personil untuk pembelian alat dan kostum kecapi, rebana, gendang dan viol. Adapun lagu dari tari pepe'-pepeka rimakka dikutip dari kitab Lontara Bilang yang tersirat maksud dan tujuannya. Inilah Bunyi lagu Pepe-peka ri Makka: Laailaaha illallaah jaba', ejaba' elele surullah, Berangtatayya la elemahaya, berang sallang sitembagada' (backing vocal) Pepe'-pepeka rimakka lanterayya rimadina ayya Allah parombasai natakabbere' dunia Balla' lompoa rimakka safanayya rimadina ayya Allah nirinring kitta' nibelo-belo satinja Iyapa kumakkaddokang juku' battupa rimakka ayya Allah bate bantunna halefayya rimadina Balla'lompoa maromba natassiara' bonena ayya Allah palewasai padongko' rikuntu tojeng Inai balla' irate santinggi bawa karaeng ayya Allah balla' awalle passiringang malaeka' Malaeka' padanggangna awalle passombala'na ayya Allah Nabbi Muhamma' Mangguncirangi gulinna Salloma' ilalang jabba' rikurungang bassi kalling ayya Alla sungkeang tomma' timunganna mate'nea Kusungkeangjako sallang timunganna mate'nea ayya Allah alleang tonga bayao riappa' tanru' Kualleaangjako sallang bayao riappa' tanru' ayya Allah alleang tonga' longkonna kayu matea Kualleangjako sallang longkonna kayu matea ayya Allah alleang tonga' unti ti'no' nampaddoke' Kualleangjako sallang unti ti'no' nampaddoke' ayya Allah alleang tonga' rappo didi nampattobo Kualleangjako sallang rappo didi nampattobo ayya Allah alleang tonga' je'ne' risunna langi' Kualleangjako sallang je'ne' risunna langi' ayya Allah alleang tonga' je'ne'na bungung butayya Kualleangjako sallang je'ne'na bungung butayya ayya Allah alleang tonga' cera'na kaluarayya Kualleangjako sallang cera'na kaluarayya ayya Allah alleang tonga' atinna sama-samayya Kualleangjako sallang atinna sama-samayya ayya Allah alleang tonga' ana'lolo jappa-jappa Kualleangjako sallang ana'lolo jappa-jappa ayya Allah alleang tonga' katingalo sele' berang Kualleangjako sallang katingalo sele' berang ayya Allah alleang tonga' otere' tena cappa'na Bunga-bunganna Fatima attimbo lalang masigi' ayya Allah nasukki' Nabbi nakayao Malaeka' Punna ma'lamungko junnu' satinjayya pa'lamungi ayya Allah tallasakintu riruayya pa'rasangang Kere junnu' kere sada' kere nikana satinja ayya Allah kere nikana mannangkasi batang kale Iya junnu' iya sada' iya nikana satinja ayya Allah iya nikana mannangkasi batang kale Punna teako assambayang assulukko pantarang langi' ayya Allah nampakobboya karaeng maraenganna Keremi mange nabboya karaeng maraenganna ayya Allah kase'remami karaeng nipajjului Punna dodong agamayya bara jama' pabballena ayya Allah kabarasanji pakkapena sumanga'na Lebba'mi kusanda ati kujalani rahasia ayya Allah ati majarre' rahasia lebba' konci...................................... Arti dan makna yang tersirat dibalik lagu: Api ditanah suci Mekkah, lentera ditanah madinah, ya Allah kobarkanlah hingga seluruh dunia bertakbir Rumah besar ditanah suci mekkah, safana ditanah medinah, ya Allah berdinding kitab dihiasi kesucian Saya mau makan kalau ikannya dari tanah suci Mekkah, ya Allah hasil dari pancingan seorang halifah dari tanah madinah. Rumah besar bersinar, terhambur isinya ya Allah tegakkanlah dan letakkanlah dijalan yang benar Siapakah rumah diatas setinggi dengan gunung Bawa Karaeng, ya Allah rumah para Wali, bilik para Malaikat Malaikat yang memperdagangkan, Wali berlayar menyiarkan dan Nabi Muhammadlah yang menampakkan dirinya Sudah lama saya dalam kerangkeng, kurungan dari besi ya Allah bukakanlah pitu rahmatmu Saya bukakan kamu nanti pintu rahmat, ya Allah ambilkan juga saya telur yang ada pada empat tanduk Saya ambilkan kamu nanti telur yang ada pada empat tanduk, ya Allah ambilkan juga saya pohon mati yang tumbuh Saya ambilkan kamu nanti pohon mati yang tumbuh, ya Allah ambilkan juga saya pisang matang/masak yang masih jantung Saya ambilkan kamu nanti pisang matang/masak yang masih jantung, ya Allah ambilkan juga saya buah yang ranum tapi masih berbunga/putik Saya ambilkan kamu nanti buah ranum tapi masih putik, ya Allah ambilkan juga saya air yang tak pernah kering Saya ambilkan kamu nanti air yang tidak pernah kering, ya Allah ambilkan juga saya air sumur yang kering airnya Saya ambilkan kamu nanti air sumur yang kering airnya, ya Allah ambilkan juga saya darahnya seekor semut Saya ambilkan kamu nanti darahnya seekor semut, ya Allah ambilkan juga saya hatinya seekor laron Saya ambilkan kamu nanti hatinya seekor laron, ya Allah ambilkan juga saya anak bayi yang bias berjalan Saya ambilkan kamu nanti anak bayi yang bisa berjalan, ya Allah ambilkan juga saya seekor lalat yang membawa parang Saya ambilkan kamu nanti seekor lalat yang membawa parang, ya Allah ambilkan juga saya tali yang tidak ada ujungnya Bunga-bunganya Siti Fatima tumbuh dalam masjid, ya Allah dipetik Nabi dikayomi Malaikat Jika kamu menanam junub, kesucianlah yang kamu Tanami ya Allah tumbuhlah pada dua alam Yang mana junub yang mana taharah, mana yang dikatakan mensucikan, ya Allah mana yang dikatakan membersihkan tubuh Itulah junub Itulah taharah, itulah yang dikatakan mensucikan, ya Allah itulah yang dikatakan membersihkan tubuh Kalau kamu tidak mau sholat keluarlah dari langit, ya Allah terus kau cari tuhan selain Allah Dimana kamu akan cari tuhan selain Allah, ya Allah hanya satu tuhan yang maha esa Jika islam lemas maka sholat berjamaahlah obatnya, ya Allah barzanjilah lambaikan semangatnya Sudah aku jengkal memakai hati kujalankan rahasia, ya Allah hati yang kuat/kokoh, rahasia yang sudah terkunci.
Sumber: https://www.katailmu.com/2010/10/lagu-keramat-pepe-pepeka-ri-makkah.html?m=1
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...
Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...
Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...