Zaman dahulu kala saat situasi belum kondusif, Wilayah Rongkong sering diserang dari luar akibat perebutan besi, sehingga wilayah adat Rongkong dijaga ketat dari segala penjuru. Suatu ketika Tomakaka kanandede berpikir keras bgmn cara agar benteng pertahanan ttp kokoh, selanjutnya beliau bersemedi yg kemudian mendapat ilham bahwa salah satu strategi yg harus dilakukan adalah mengadakan hiburan kesenian yg bisa membuat para panglima perang beserta masyarakat tetap terjaga, tdk tertidur atau terlena agar tdk gampang diserang musuh dari luar. Atas petunjuk itu kemudian Tomakaka kanandede pada saat itu memanggil seluruh pemangku adat dan perangkat adat di wilayah Rongkong untuk ma'bua kalebu (Musyawarah Adat) menyampaikan strategi-strategi perang yg akan dilakukan, termasuk ide ttg bagaimana agar panglima perang bersama masyarakat slalu terjaga dan tdk tertidur untuk ttp mempertahankan wilayah Rongkong dari berbagai serangan. Dari situlah kemudian para pemangku adat sepakat untuk Majjaga yg bermakna menjaga atau terjaga yg kemudian diimplementasikan dalam beberapa bentuk gerakan yg dinamakan tari jaga yg bertujuan untuk menghibur dan mengobarkan semangat juang para panglima perang beserta masyarakat Rongkong dalam mempertahankan wilayah Rongkong dari serangan musuh.
Tarian Jaga itulah yg kemudian dikembangkan dan dilakukan secara turun temurun oleh para leluhur Rongkong. Dan selanjutnya setelah situasi telah terkendali, Majjaga ditampilkan hanya pada acara2 tertentu yang disakralkan seperti acara Ma'bua atau pesta adat. Dalam rangkaian tari jaga ada syair-syair Pa'tendeng sesuai maksud dari kegiatan yang dilaksanakan. Ma'tendeng tersebut berisi syair-syair yg diyakini sebagai Do'a yang dipanjatkan kepada Tuhan untuk mendapat berkah dan kemuliaan.
Berikut salah satu contoh syair untuk pesta adat Tammuan Allo Umpasunjun Jujungan (Pengukuhan Tomakaka). Untendeng Tomakaka yg dikukuhkan, seperti ini sedikit contoh syairnya:
Launtendengkan
Lamba' Lajuk
Ussurakan Jawi-Jawi
Untendeng Barane' Rombe
Mempala'kan langngan puang
Anna tontong kanurunan
Ullembangan tau buda
Umbose Lindo Tidandan
Upu'mo tendeng Rarre'ki
Passurakan Bulawanki
Dipalimbong Inde Tondok
Dipatasik Ri Pa'lewo
Bahasa: Sastra Asli Tae Rongkong
Sumber :
Hj. Wajallangi (Tomakaka Limbong) Rongkong
cara hapus akun/data (#KrediOne) secara permanen kamu bisa hubungi pelanggan layanan resmi via WA di (+62.821-7553-746 atau 0898.4440.241). Jelaskan alasan permintaan penghapusan data atau akunnya lalu siapkan identitas diri seperti (KTP) untuk proses verifikasi dan ikuti instruksi petugas customer service untuk menyelesaikan laporan Anda.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...