Sumur Sri Tanjung adalah salah satu situs yang ada di kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Sumur ini terletak di jalan Sidopekso 10, Kelurahan Temenggungan, Kecamatan Banyuwangi Kota.
Sumur Sri Tanjung ini berdekatan dengan masjid agung, makam Bupati, dan taman Sri Tanjung, tepatnya di gang sebelah timur pendopo yakni di dalam rumah warga. Sumur Sri Tanjung ini ditemukan pada masa Raden Tumenggung Notodiningrat (1912-1920). Sumur ini awalnya hanya semata-mata percobaan warga untuk membuat sumur di rumahnya. Tiba-tiba saat menggali sumur di belakang rumah Bapak Darusman, bau wangi (harum) keluar dari dalam sumur itu. Dan dipercaya bau wangi itu adalah bau Sri Tanjung yang ditenggelamkan oleh Sidopekso ke sungai yang terletak di bawah rumah Bapak Darusman.
Sri tanjung dan Sidopekso merupakan legenda turun-temurun yang merupakan kisah asmara dan kesetiaan yang merupakan cikal bakal Banyuwangi. Konon menurut warga setempat, air sumur kadang bisa berubah warna dan aromanya. Kadang berbau wangi atau kadangpun berbau anyir / amis. Jika aroma air sumur berubah menjadi wangi, maka itu akan menjadi suatu pertanda baik yang akan menimpa suatu daerah ataupun bangsa ini. Namun jika aroma air sumur berubah menjadi anyir/amis, maka itu akan menjadi suatu pertanda buruk yang akan menimpa suatu daerah ataupun bangsa ini. Misalnya kenyataan yang pernah terjadi di tahun 1965- an, sumur ini pernah berbau wangi. Dan ternyata di tahun inilah Gerakan 30 September oleh PKI (G 30 S/ PKI) terjadi.
Sumur Sri Tanjung ini berbentuk persegi panjang dengan panjang sekitar 1,4 meter dan lebar 0,8 meter, serta dalam yang tak lebih dari 7 meter. Lebar sumur tersebut sama dengan lebar gang yang para pengunjung lewati saat mencapai sumur Sri Tanjung ini karena sumur ini jadi satu dengan rumah pemilik sumur ini.
Ki Darusman selaku juru kunci mengaku baru percaya akan kehebatan sumur Sri Tanjung, setelah pada tahun 1982 ada rombongan dari kraton Solo dan Klaten yang datang ke Bnyuwangi hanya khusus untuk berziarah ke sumur Sri Tanjung.
Para sesepuh kraton mengatakan bahwa sumur Sri Tanjung adalah salah satu sumur tiban tertua di tanah Jawa, yang merupakan satu-satunya peninggalan sejarah.
Sejak itulah Ki Darusman mau merawat sumur Sri Tanjung, walau para sesepuh dan nenek moyangnya sudah lebih dulu merawat dan sumur Sri Tanjung.
Legenda putri Sri Tanjung ini, hingga kini memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat Osing Banyuwangi, bahkan bagi masyarakat diluar Banyuwangi juga mempercayai kekuatan putri Sri Tanjung itu. Sumur Sri Tanjung dinyakini masih menyimpan beberapa misteri dan kekuatan gaib.
Sumur Sri Tanjung diyakini oleh sebagian masyarakat memiliki beberapa kasiat ampuh. Air sumur ini dipercaya dapat mengabulkan doa ataupun hajat. Bahkan ada yang mempercayai bahwa air sumur dapat membuat awet muda. Dan ada juga yang menganggap, jika meminum dan mandi menggunakan air sumur ini maka akan mendapat berkah.
Menurut juru kunci sumur Sri Tanjung Ki Darusman, para peziarah yang datang biasa terlebih dahulu diilhami atau didatangi oleh seorang putri yang cantik bernama Sri Tanjung.
Kebanyakan para peziarah datang pada hari Selasa Kliwon, Selasa Legi, Jum'at Kliwon dan Jum'at Legi. Namun menurut warga setempat, air sumur ini seringkali berbau harum pada saat hari Kamis Malam atau Malam Jum'at di hari itulah Sang Putri Sri Tanjung menampakkan dirinya.
Jika para peziarah ingin berinteraksi dengan Putri Sri Tanjung dengan didampingi Ki Darusman selaku juru kunci, maka para peziarah harus membawa kembang telon atau bunga pasar berwarna tiga macam untuk persembahan kepada Sang Putri Sri Tanjung.
Setelah persembahan kembang telon di tempatkan dipinggir sumur, maka juru kunci Ki Darusman akan memanggil Putri Sri Tanjung dengan menyalakan dupa wangi untuk mendapatkan doa restu.
Usai mendapatkan doa restu, para penziarah baru diperkenankan meminta dan bermunajat kepada Allah SWT dengan melalui sumur Sri Tanjung.
Setelah melakukan ritual do`a maka satu persatu peziarah diminta cuci muka dengan air sumur kemudian meminumnya.
Sri Tanjung merupakan suatu legenda menceritakan bagaimana seorang putri yang sangat cantik jelita dan setia kepada sang suami yakni Sidopekso, difitnah oleh seorang raja yang bernama Sulokromo. Kesetiaan Sri Tanjung kepada Sidopekso ini juga merupakan legenda terbentuknya nama Banyuwangi.
Konon, dahulu kala wilayah ujung timur Pulau Jawa yang alamnya begitu indah ini dipimpin oleh seorang raja yang bernama Prabu Sulahkromo. Dalam menjalankan pemerintahannya ia dibantu oleh seorang Patih yang gagah berani, arif, tampan bernama Patih Sidopekso. Istri Patih Sidopekso yang bernama Sri Tanjung sangatlah elok parasnya, halus budi bahasanya sehingga membuat sang Raja tergila- gila padanya. Agar tercapai hasrat sang raja untuk membujuk dan merayu Sri Tanjung maka muncullah akal liciknya dengan memerintah Patih Sidopekso untuk menjalankan tugas yang tidak mungkin bisa dicapai oleh manusia biasa dan kira-kira membutuhkan waktu yang cukup lama. Maka dengan tegas dan gagah berani, tanpa curiga, sang Patih berangkat untuk menjalankan titah Sang Raja.
Sepeninggal Sang Patih Sidopekso, sikap tak senonoh Prabu Sulahkromo dengan merayu dan memfitnah Sri Tanjung dengan segala tipu daya dilakukanya. Namun cinta Sang Raja tidak kesampaian dan Sri Tanjung tetap teguh pendiriannya, sebagai istri yang selalu berdoa untuk suaminya. Api panas membara hati Sang Raja ketika cintanya ditolak oleh Sri Tanjung.
Ketika Patih Sidopekso kembali dari misi tugasnya, ia langsung menghadap Sang Raja. Akal busuk Sang Raja muncul, memfitnah Patih Sidopekso dengan menyampaikan bahwa sepeninggal Sang Patih pada saat menjalankan titah raja meninggalkan istana, Sri Tanjung mendatangi dan merayu serta bertindak serong dengan Sang Raja.
Tanpa berfikir panjang, Patih Sidopekso langsung menemui Sri Tanjung dengan penuh kemarahan dan tuduhan yang tidak beralasan. Pengakuan Sri Tanjung yang lugu dan jujur membuat hati Patih Sidopekso semakin panas menahan amarah. Namun Sidopekso mengelaknya dan berniat membunuh Sritanjung. Sritanjung di bawa olehnya ke pinggir sungai. Dengan rasa menyesal, Sritanjung mencoba menceritakan hal yang sebenarnya terjadi dan menolak tuduhan suaminya. Namun mendengar kata-kata istrinya, amarah Sidopekso semakin berkobar.
Untuk mencoba membuktikan rasa setianya pada suaminya,Sritanjung meminta agar Sidopekso membunuhnya. Permintaan terakhirnya adalah agarjasadnya di hanyutkan ke sungai yang keruh. Dia berpesan apabila air sungai tersebut berbau amis, maka benar bahwa dia telah melakukan kesalahanAkhirya, Sidopekso langsung menancapkan kerisnya ke dada Sritanjung, seketika itu Sritanjung meninggal. Lalu mayat Sritanjung segera di tenggelamkan ke sungai. Setelah beberapa saat Sidopekso sangat kaget, air yang tadinya keruh berubah menjadi bening seperti kaca. Selain itu air tersebut menyebarkan bau harum.
Merasakan itu Sidopekso sangat menyesal dengan apa yang telah di perbuatnya pada Sritanjung. Dia marah-marah pada dirinya sendiri sambil berteriak-teriak layaknya orang gila. Dia berjalan sempoyongan dan akhirnya tercebur ke pinggir sungai. Tanpa terasa Sidopekso mengucapkan Banyuwangi...... Banyuwangi...... Banyuwangi......... Hingga akhirnya orang-orang menamai daerahnya BANYUWANGI.
Sumber: http://jurirakyat.blogspot.com/2013/07/legenda-sumur-sri-tanjung-cerita-rakyat.html?m=1
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...