Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Mitologi Papua Papua
Suanggi
- 16 Juni 2015 - direvisi ke 2 oleh Vande Leonardo pada 16 Juni 2015

Suanggi merupakan tokoh legenda yang sangat menakutkan di tanah Papua, dan menurut catatan menteri Hindia-Belanda W. R. van Hoëvell, disebut berasal dari Maluku. Konon, sosok ini sangat ditakuti karena bisa menyebabkan orang-orang yang menjadi korbannya menderita penyakit yang aneh hingga berujung pada kematian.

Di masyarakat Ternate, istilah Suanggi juga dipakai untuk penduduk desa yang diduga melakukan praktik kanibalisme. Tuduhan ini bahkan bisa berakibat fatal, karena mereka yang terbukti adalah Suanggi bisa dibunuh dan mayatnya akan dibuang ke laut.

Menurut cerita yang lain, Suanggi dikenal sebagai penyihir atau orang yang memiliki kemampuan ilmu hitam  biasanya disebut juga dukun. Sosok Suanggi pun dikabarkan sangat menakutkan, dengan mata yang merah dan memiliki gigi-gigi yang tajam. Bahkan, konon kabarnya sosok Suanggi kerap memakan daging manusia, dan dalam aksinya Suanggi tidak perlu hadir di tempat kejadian, karena bisa dilakukan dari jarak jauh. Mungkin mirip dengan legenda voodoo di Haiti.
 
Konon, Suanggi saat mengincar korbannya, dia akan terbang menggunakan pelepah daun dan menyelinap masuk ke rumah orang itu. Suanggi juga diketahui bisa berubah wujud menjadi binatang apa saja biasanya menjelma menjadi cicak, sehingga mudah memasuki tempat tinggal korbannya.
 
Namun, yang menakutkan bukan hanya wujud dari Suanggi, melainkan apa yang bisa dilakukannya terhadap orang-orang. Bagi yang tinggal di Papua — suku-suku asli di sana, Suanggi adalah manusia biasa dalam kehidupannya sehari-hari. Bahkan di beberapa kesaksian, Suanggi kerap muncul dalam paras yang sangat cantik atau tampan. Tetapi, karena memiliki ilmu yang dapat melukai dan membunuh orang dengan cara yang misterius, kadang-kadang Suanggi juga diminta untuk melakukan sesuatu yang jahat.
 
Ketika ada yang memintanya melakukan kejahatan, Suanggi biasanya membunuh korbannya dengan berkelompok  semacam pembunuh bayaran, walau kadang-kadang juga melakukannya dengan kemauan sendiri.
 
Biasanya, ada dua cara Suanggi dalam menghabisi nyawa korbannnya. Salah satunya, dengan jalan doti-doti. Doti-doti semacam ilmu hitam atau santet yang dikirim Suanggi kepada orang yang ingin dibunuhnya. Saat akan mengirimkan santet ini kepada seseorang, biasanya Suanggi akan membaca arah angin terlebih dahulu. Hal ini dilakukan agar doti-doti itu bisa sampai ke orang itu bersama angin, dan bukan sebaliknya  yang akan berbalik kepada Suanggi itu sendiri. Ketika mendapatkan angin itu, Suanggi akan menjentikkan benda-benda yang ingin dimasukkan ke tubuh korbannya dengan cara gaib. Biasanya, benda-benda santet yang dikirim adalah kayu­kayuan atau dedaunan. Ketika ilmu hitam itu sampai ke korbannya, tubuhnya akan dipenuhi benda-benda asing itu dan merusak tubuh mereka secara perlahan-lahan, hingga mereka meninggal.
 
Cara lain Suanggi dalam melakukan perbuatan jahatnya, adalah dengan membunuh korbannya secara langsung. Walaupun ilmu hitam masih berperan besar dalam hal ini. Ketika menerapkan cara ini, Suanggi akan mengintai korbannya terlebih dahulu agar perbuatannya tidak dilihat oleh orang lain. Ketika orang yang ingin dibunuhnya sedang sendirian, Suanggi akan melemparnya dengan batu kecil atau tanah yang sudah diberi mantra. Sehingga, orang itu langsung tidak sadarkan diri. Setelah itu, Suanggi akan memukul, menendang, atau membanting tubuh korbannya berkali-kali dalam keadaan tidak berpakaian. Hal ini dimaksudkan agar ketika ditemukan nanti, tidak ada bekas-bekas kekerasan yang ditemukan di baju korban. Biasanya, ketika korbannya merupakan ibu hamil, janin yang ada di rahimnya bisa sampai keluar, dan pada anak­-anak, lehernya cukup dipatahkan untuk membunuhnya.
 
Setelah membunuh korbannya, Suanggi akan menjilat luka-luka yang ada di tubuh korbannya dan secara ajaib tertutup dengan sendirinya. Suanggi juga akan memasukkan benda gaib berbentuk telur ke dalam mulut korbannya. Telur yang masuk ke dalam tubuh korban, konon akan berubah menjadi seekor kadal dan menghidupkan kembali mayatnya untuk sementara, sebelum akhirnya meninggal kembali sesuai dengan cara yang diinginkan Suanggi. Biasanya, orang yang menjadi korban Suanggi, akan meninggal kembali beberapa hari setelah itu dengan cara terjatuh, kecelakaan, dan lain-lain, yang tidak menimbulkan kecurigaan kepada Suanggi.
 
Namun, apabila korban Suanggi adalah seorang yang memiliki peranan penting di masyarakat Papua, Suanggi bisa membunuh orang itu hingga tiga kali di waktu yang berbeda. Setelah itu, Suanggi akan mengambil beberapa helai rambut orang itu untuk menjadi bukti kejahatannya kepada orang yang memerintahkan Suanggi.
 
Setelah korbannya dikuburkan, konon Suanggi akan datang ke kuburannya untuk mengambil telur yang ada dalam mayat korbannya dengan cara yang gaib. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa Suanggi akan mengambil kepala dari mayat korbannya. Bagi orang-­orang yang memercayai hal ini, apabila ada keluarga mereka yang meninggal, maka mereka akan menjaga kuburannya hingga beberapa hari lamanya agar Suanggi tidak datang menjalankan niatnya. Kabarnya, jika Suanggi berhasil melakukan itu, dia akan bernyanyi-nyanyi dan menari di depan rumah orang yang memerintahkan mereka untuk merayakannya.
 
Suanggi memang sangat menakutkan bagi orang-­orang yang mempercayai keberadaannya. Namun, sepertinya tidak ada cara tertentu untuk menangkal ilmu hitam dari Suanggi. Hanya ada mitos-mitos untuk mengetahui keberadaan Suanggi ketika berbaur bersama masyarakat.
 
Salah satu mitos itu mengatakan, bahwa ketika kamu mencium bau khas seperti binatang kus-kus di sekitarmu, sebaiknya kamu masuk ke rumah dan berlindung. Konon, bau kus-kus menandakan Suanggi berada tidak jauh darimu.
 
Mitos lainnya berbunyi, bila kamu bertemu dengan seseorang dan bulu kudukmu tiba-tiba berdiri, kemungkinan orang itu adalah Suanggi. Kabarnya, Suanggi juga memiliki ciri khas berupa tato di beberapa bagian tubuhnya. Tato itu biasanya menunjukkan berapa banyak korban yang sudah dibunuhnya. Semakin banyak korbannya, semakin penuh tato di tubuh Suanggi.
 
 
 
Memiliki ilmu hitam dan kesaktian yang cukup menakutkan, bukan berarti tidak memiliki kelemahan. Suanggi ketika berbaur dengan masyarakat, umumnya juga tidak menunjukkan jati diri mereka, karena mereka sebenarnya juga manusia biasa yang bisa dibunuh. Maka tidak jarang, perburuan Suanggi untuk dimusnahkan juga dilakukan oleh beberapa masyarakat.
 
Oleh karena itu, Suanggi juga memiliki pantangan — terutama setelah melakukan kejahatannya — agar tidak diketahui orang lain. Salah satunya ketika membangkitkan korban yang dibunuhnya, apabila saat itu pembunuhan dilakukan oleh dua orang atau lebih Suanggi, mereka pantang untuk bertemu dengan mayat hidup itu se cara bersamaan. Kalau tidak, maka korbannya akan mengenali mereka.
 
Selain itu, ketika mengambil rambut korbannya, Suanggi tidak boleh memberi rambut itu kepada orang yang menyuruhnya melakukan kejahatan, sebelum mayat korbannya dikuburkan. Apabila dilanggar dan orang yang menyuruhnya itu melayat ke pemakaman korban, maka korban akan langsung bangkit dan menunjuk orang itu.
 
Legenda Suanggi yang menyeramkan tidak hanya ada di tanah Papua. Di Maluku Utara misalnya, Suanggi juga dikenal merupakan sosok yang menyeramkan dan suka mengincar korban manusia.
 
Namun bagi orang Maluku, konon makhluk jahat itu berasal dari suatu tempat di sana yang sama dengan sebutannya, Suanggi. Suanggi juga biasa disebut Swangi di Maluku.
 
Menurut cerita, sosok Suanggi sang penyihir jahat pertama kali muncul di sebuah daerah bernama Suanggi, Maluku Utara. Oleh karena itu, nama tempat itu langsung melekat pada urban legend tersebut. Walau begitu, ada sebuah legenda lainnya yang menceritakan asal-usul Suanggi sehingga mengaburkan kebenaran legenda Suanggi di Maluku itu sendiri.
 
Suatu waktu, di akhir tahun 1999 hingga awal tahun 2000 — saat konflik di Maluku Utara sedang berlangsung — daerah Suanggi tak terhindar dari imbas konflik antar saudara yang sangat sengit dan sempat menjadi isu nasional. Namun di tengah-tengah konflik di Suanggi, sesosok gadis misterius lantas muncul di beberapa tempat tinggal masyarakat. Konon, kecantikan gadis ini dapat meluluhkan hati tiap pemuda di daerah tersebut.
 
Ketika akhirnya banyak pemuda seolah terbius dengan kecantikannya dan siap berhubungan dengan gadis cantik tersebut, gadis ini akan menyerang pemuda yang terjerat rayuannya dan melahap alat kelaminnya hingga tewas.
 
Segera gadis misterius tersebut menjadi urban legend di daerah itu, bahkan kabarnya sampai ke Tobelo — kota kecil di pulau Halmahera. Masyarakat lalu gempar dan ketakutan tiap mendengar kemunculan gadis cantik yang suka menggoda para lelaki di sana. Sejak itu, penampakan gadis misterius yang menakutkan itu dipanggil dengan Suanggi, sesuai dengan daerah asal pertama kali gadis itu terlihat.
 
Seiring waktu, tidak hanya di Suanggi dan Tobelo, tapi penampakan hantu tersebut juga diceritakan di berbagai daerah di Maluku Utara. Masyarakat, terutama anak-anak dilarang keluar rumah jika matahari sudah terbenam dan kegelapan sudah menyelimuti tiap sudut kota mereka.
 
Mengetahui betapa menyeramkannya cerita-cerita yang beredar mengenai gadis misterius pencabut nyawa, pastilah mengusik rasa ingin tahu dari mana asal gadis tersebut.
 
Kembali di sekitar akhir tahun 1999 atau awal tahun 2000, seorang gadis menghadapi akibat dari konflik antar saudara di daerah Tobelo. Sang gadis yang merupakan anak kepala de sa di Tobelo itu, ditangkap oleh sekumpulan pemuda selama kerusuhan berlangsung. Gadis malang itu kemudian diperkosa oleh pemuda-pemuda bejat itu. Setelah kehormatannya direnggut, gadis itu akhirnya dibunuh dan mayatnya dibuang di suatu tempat yang terpencil, sehingga tidak diketahui oleh orang lain.
 
Sejak itulah, arwah sang gadis kerap muncul di daerah Suanggi dan Tobelo. Entah mengapa, Suanggi menjadi tempat pertama kali hantu gadis ini muncul. Namun, yang pasti hantu tersebut menghantui pemuda­pemuda di sana dengan harapan dapat menuntut balas kepada pembunuhnya. Meneror pria ‘hidung belang’ yang suka tergoda dengan rayuan sang gadis.
 
Suatu waktu, seorang paranormal di daerah itu mengalami sebuah mimpi yang menunjukkan di mana keberadaan mayat dari sang gadis. Segera masyarakat setempat berbondong-bondong mencari lokasi menurut mimpi dari paranormal tersebut. Dan ternyata, mimpi sang paranormal berhasil membawa mereka ke sebuah tempat di mana tubuh kaku dari gadis itu bersemayam. Ketika mayatnya berhasil dibawa kembali ke rumahnya, ritual pemakaman yang layak pun diadakan dengan asa yang terselip di antara masyarakat setempat agar teror dari arwah gadis tersebut tidak berlanjut lagi menghantui mereka.
 
Pada Februari 2004 — entah sosok yang sama atau bukan — hantu seorang gadis muncul kembali di Tobelo. Kali ini sebagian orang yang melihat penamnakan qadis itu menyebutnya sebagai roh yang sangat jahat. Hantu gadis itu kabarnya sering menampakkan diri pada malam hari untuk menjerat korbannya.
 
Masih di tahun yang sama, semasa pemilihan umum diselenggarakan di sana, seorang petani mendengar tangisan seorang gadis yang berasal di dekat tanaman yang ada di kebunnya. Tangisan itu terdengar sangat jelas dan makin membesar. Mendengar tangisan itu, rasa penasarannya muncul. Dia akhirnya memutuskan untuk mengikuti asal suara tersebut. Namun, ketika hampir tiba di sebuah tempat di dekat situ, dia menghentikan langkahnya. Petani itu meyakini suara itu berasal dari makhluk jahat Suanggi yang berusaha menjeratnya. Tempat yang ditemuinya itu merupakan lokasi pembantaian pada kerusuhan di tahun 1999 hingga 2000.

 

Sumber:
http://cerita.info/hantu/legenda-urban/suanggi/
https://en.wikipedia.org/wiki/Suanggi

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu