Menurut Dennys Lombard, seorang antropolog Perancis, dalam bukunya berjudul Nusa Jawa: Silang Budaya, soto merupakan turunan dari masakan Cina yang bernama caudo. Sajian berkuah segar ini lahir di kampung Pecinan Semarang. Penggunaan mihun, suwiran daging ayam, dan bawang putih goreng, merupakan elemen-elemen yang dapat dijejaki dari tradisi kuliner Cina. Tidak heran bila di Makassar soto disebut coto, yang lafalnya lebih mendekati caudo.
Sekarang soto telah menjadi salah satu jenis comfort food populer yang dapat dijumpai di hampir seluruh pelosok Nusantara dengan versi dan namanya masing-masing. Kebanyakan soto memakai soun sebagai isian. Bila soun diganti mie, sajiannya disebut soto mie. Pada umumnya, soto memakai daging ayam atau daging sapi sebagai proteinnya. Tetapi, ada juga beberapa jenis soto yang memakai udang dan ikan.
Soto Ayam Lamongan mengacu pada jenis soto berkuah kuning bening (sekalipun ada juga versi yang memakai santan) dengan kaldu ayam kampung yang sangat gurih dan cukup pekat. Sebagai single meal, soto ayam ini disajikan dengan nasi yang ditempatkan di dasar mangkuk.
Bila diperlakukan sebagai hidangan pembuka, soto tidak disajikan dengan nasi, dan kuah kaldunya juga perlu sedikit dilunakkan agar tidak terlalu gurih dan berminyak. Spektrum rasanya yang luas merupakan cerminan langsung dari penggunaan bumbu-bumbu yang kaya, seperti: bawang merah/putih, kemiri, lengkuas, jahe, serai, dan lain-lain.
Keunikan penyajian soto ini adalah ayamnya yang digoreng utuh dan diiris tipis-tipis (bukan disuwir atau dipotong dadu dan dimasak dalam kuah), dilengkapi dengan soun, taoge rebus, dan rajangan kubis. Setelah dituangi kuah kaldu, ditambahkan beberapa iris tipis telur ayam rebus dan taburan bawang merah goreng dan rajangan seledri. Pelengkapnya adalah kecap manis, sambal bawang, dan koyak yang dibuat dari tumbukan bawang putih goreng dan kerupuk udang.
Soto Ayam Lamongan disajikan dengan kerupuk udang serta berbagai lauk goreng lainnya, seperti: tempe, tahu, perkedel. Soto Lamongan adalah salah satu jenis soto yang mampu menembus tapal batas provinsi dan populer di seluruh Nusantara.
Resep:
Bahan (7-8 porsi)
Bumbu Dihaluskan Bersama
Kremes
Pelengkap
Cara Membuat
Tempat membeli:
Soto Ayam Lamongan Cak Har
Jalan Arief Rachman Hakim, Keputih, Sukolilo, Kota SBY, Jawa Timur 60111
Tel. 0821-4059-3009
Sumber: Ikon Kuliner Tradisional Indonesia - Kementerian Pariwisata Indonesia
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...