Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
cerita rakyat Sumatera Selatan Sumsel
Siti Fatimah dan Tan Boen An
- 5 Januari 2019

Siti Fatimah adalah putri kesayangan Raja Sriwijaga. Parasnya cantik jelita, dan sikapnya ramah pada semua orang. Tak heron, banyak pemuda yang menaruh hati dan ingin menjadikannya istri. Namun semua lamaran itu ditolak oleh Raja Sriwijaya. Raja ingin Siti Fatimah diperistri oleh saudagar kaya raya atau putra mahkota kerajaan lain yang juga kaya.

Tan Boen An menemui Raja Sriwijaga. Ia hendak meminta izin pada Raja untuk berdagang di wilayah itu. Raja Sriwijaya dengan senang hati mengizinkannya. Dalam hati, Raja berkata, "Alangkah giatnya pemuda ini. Meskipun putra mahkota, ia tetap bekerja keras." Raja berkhayal, akankah ia mendapatkan menantu seperti Tan Boen An?Suatu hari, seorang putra mahkota dari negeri China datang ke Kerajaan Sriwijaga. Ia datang dengan menaiki kapal yang sangat besar. Kapal itu memuat barang-barang yang akan dijual ke Kerajaan Sriwijaga. Putra mahkota itu bernama Tan Boen An. Wajahnga tampan, tubuhnya tegap dan kulitnya kuning kecokelatan. Tan Boen An memulai usahanya dan sangat sukses. Karena bangak mendapat keuntungan, ia berniat untuk membagi sedikit keuntungannya pada Raja Sriwijaga. "Selamat pagi Baginda, soya menghadap untuk memberikan sedikit keuntungan hasil dagang saya pada Baginda," kata Tan Boen An. Raja menerima pembagian keuntungan itu dengan senang.

Ketika mereka sedang berbincang-bincang, masuklah Siti Fatimah ke ruangan itu. Tan Boen An terkesiap, "Cantik sekali wanita ini," bisiknya dalam hati. Dalam sekejap, ia sudah jatuh cinta pada Siti Fatimah.

Siti Fatimah merasa kikuk karena dipandangi terus oleh pria asing itu. Namun dalam hati ia sangat senang, karena ia juga jatuh cinta pada pandangan pertama. Raja mengenalkan Siti Fatimah pada Tan Boen An. Saat bersalaman, keduanya merasa tak terpisahkan lagi.

Beberapa bulan kemudian, Tan Boen An memberanikan diri untuk melamar Siti Fatimah. "Jika Baginda mengizinkan, saya bermaksud untuk mempersunting Siti Fatimah," kata Tan Boen An. Raja berpikir sejenak, "Hmm.... aku memang menyukaimu, dan aku tahu kalau anakku juga mencintaimu. Tapi aku ingin mengetahui keseriusanmu. Jadi, aku akan mengajukan syarat," jawab Raja.

Raja meminta Tan Boen An untuk menyediakan sembilan guci berisi emas. "Itulah mas kawin yang aku minta darimu, aku yakin sembilan guci emas bukanlah hal yang berat bagimu," kata raja.

Tan Boen An menyetujui permintaan tersebut. Karena itu, ia menulis surat pada orangtuanya dan menyuruh seorang utusan untuk pulang ke negeri China. "Ayah, Ibu, Ananda akan menikahi putri Kerajaan Sriwijaya. Mohon doa restu dari Ayah dan Ibu. Sebagai mas kawin, Ananda membutuhkan sembilan guci emas. Ananda berharap Ayah mengirimkannya," demikian bunyi suratnya.

Namun, tanpa sepengetahuan Tan Boen An, orangtuanya menutupi emas-emas itu dengan aneka sayuran dan buah-buahan. Untuk berjaga-jaga, kalau ada perompak yang menyerang kapal, emas-emas itu tak akan ditemukan. Sayang mereka lupa memberitahukan hal itu pada Tan Boen An dalam surat.Selang beberapa waktu, utusan itu kembali dengan membawa surat balasan dari orangtua Tan Boen An. Rupanya mereka merestui rencana pernikahan tersebut dan bersedia memberikan sembilan guci emas sebagai mas kawin. Tan Boen An sangat senang. Ia mengajak Siti Fatimah dan Raja Sriwijaya menaiki kapalnya yang berlabuh di Sungai Musi. Ia ingin menunjukkan sembilan guci emas itu pada calon istri dan mertuanya. "Lihat Siti Fatimah, guci-guci ini berisi emas," kata Tan Boen An bangga. Ia membuka salah satu guci. Tapi apa gang terjadi? Bau busuk dan menyengat tercium dari guci itu. Ketika Tan Boen An melihat ke dalam guci itu, ia hanya melihat tomat dan sawi gang sudah busuk.

Tan Boen An sangat malu. Ia membuang guci itu ke sungai. Kemudian ia membuka guci-guci gang lain, tapi semuanga sama. Ia hanga menemukan sayur dan buah yang telah busuk. Tan Boen An mulai marah, ia melempar guci-guci itu ke Sungai Musi. Tinggal satu guci yang tersisa, Tan Boen An menendang guci itu keras-keras sambil berteriak, "Ayah, Ibu, mengapa mempermalukan Ananda seperti ini?"

Pgarrr.... guci itu pecah berkeping-keping terkena tendangannga. Se- mua orang gang ada di atas kapal terkejut. Di antara sagur dan buah busuk, terlihat emas! Tan Boen An tak kalah terkejut.

Ia segera menyadari kalau semua guci gang ia lemparkan ke sungai tadi berisi emas. Tanpa pikir panjang, ia segera terjun dan berenang mengusuri Sungai Musi. Sekuat tenaga ia mencari guci-gucinga gang telah hangut itu.

Ia terus berenang jauh meninggalkan kapal sampai tubuhnga tak terlihat lagi.

Siti Fatimah cemas menunggunya. Ia berdiri di tepi kapal dan berharap Tan Boen An akan muncul. Namun yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba. Siti Fatimah pun memutuskan untuk menyusul Tan Boen An. Ia berpamitan pada ayahnya "Ayah, aku harus menemukan kekasihku. Jika aku tak kembali, carilah tumpukan tanah di sekitar sungai ini. Jika Ayah menemukannya, itulah kuburanku."

Setelah berkata demikian, ia menceburkan diri ke sungai ditemani dayangnya yang setia. Raja Sriwijaya menangisi kepergian putrinya. Lama ia menunggu, tapi Putri dan Tan Boen An tak pernah kembali.Tiba-tiba, Raja teringat pada pesan putrinya. Dan benar saja, di tepi Sungai Musi terdapat gundukan tanah. Raja Sriwijaya sangat sedih, itu berarti Siti Fatimah telah meninggal. Gundukan itu makin lama makin membesar, dan penduduk sekitar menamainya Pulau Kemaro.

 

https://dongengceritarakyat.com/cerita-rakyat-dari-sumatera-selatan/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu