SABENI TENABANG
Seni Maen Pukulan Sabeni Tenabang adalah aliran silat tradisional asli Betawi yang berasal dari daerah Tanah Abang, Jakarta Pusat, Indonesia.
Aliran silat tradisional ini pertama kali dikembangkan oleh Sabeni bin Canam (pendiri aliran Sabeni) dan diturunkan kepada keturunannya yang salah satunya bernama M. Ali Sabeni, mantan tentara Angkatan Darat Indonesia yang pada hari tuanya lebih dikenal sebagai seorang seniman kesenian Sambrah Betawi.
Penyebaran silat tradisional aliran Sabeni ini memang pada awalnya sangat terbatas karena merupakan ilmu beladiri silat keluarga. Namun seiring perkembangan jaman dan tuntutan pelestarian budaya, silat tradisional asli Betawi ini akhirnya mulai diajarkan keluar, yang fokusnya pada tahap awal adalah untuk anak-anak muda warga daerah Tanah Abang.
Dalam perkembangannya kini silat tradisional asli Betawi ini diteruskan oleh generasi ketiga Sabeni yaitu anak dari M. Ali Sabeni yang bernama Zul Bachtiar Sabeni dan merupakan pewaris utama ilmu silat tradisional aliran Sabeni yang terus melestarikannya hingga kini.
Sumber: http://www.sabenitenabang.com/
Sejarah Pendekar Sabeni
Pada abad 19 dulu, ada seorang pendekar di Tenabang (sebutan Tanah Abang dalam logat Betawi) yang selalu membela rakyat kecil yang ditindas oleh penjajah, Pendekar Sabeni namanya. Pendekar Sabeni lahir sekitar tahun 1860 di Kebon Pala Tanah Abang dari orang tua bernama Canam dan Piyah.
Nama Sabeni mulai dikenal luas setelah Sabeni mampu mengalahkan salah satu jagoan di daerah Kemayoran yang dijuluki Macan Kemayoran ketika hendak melamar puteri si Macan Kemayoran tersebut untuk dijadikan isterinya.
Selain itu ada peristiwa lain dimana Sabeni berhasil mengalahkan dengan telak Jago Kuntau dari Cina di Princen Park (sekarang bernama Lokasari) yang sengaja didatangkan oleh penjajah Belanda bernama Tuan Danu yang tidak menyukai aktivitas Sabeni dalam melatih para pemuda Betawi bermain silat atau maen pukulan.
Oleh penjajah Belanda akhirnya Sabeni diangkat menjadi seorang Serehan (sebutan untuk kepala kampung) di Tenabang.
Bahkan dalam usianya yang tergolong lanjut (83 tahun) Sabeni juga masih sanggup mengalahkan jago-jago beladiri Jepang yang sengaja didatangkan oleh penjajah Jepang untuk bertarung melawannya.
Jepang yang ketika itu tengah berperang melawan Sekutu memerlukan para pemuda Indonesia untuk dijadikan Heiho (semacam tenaga sukarelawan untuk membantu para prajurit Jepang). Salah satu putra belia Sabeni yang bernama Sapi’ie juga diharuskan menjadi Heiho seperti halnya para pemuda lainnya. Dan ia pun ditempatkan di Surabaya.
Karena tidak tahan menghadapi perlakuan tentara Dai Nippon, Sapi’ie akhirnya melarikan diri dari Surabaya dan bersembunyi di rumah orangtuanya. Tentu saja pihak Kempetai (Polisi Rahasia Jepang) tidak tinggal diam dan terus mencari keberadaannya.
Karena Sapi’ie tidak juga tertangkap, sekitar tahun 1943 Kempetai akhirnya menahan Sabeni sebagai jaminan. Mengetahui Sabeni yang tersohor sebagai pendekar jago silat, Kempetai pun lantas ingin mengujinya. Komandan Kempetai mendatangkan beberapa ahli beladiri langsung dari Jepang dan menantang Sabeni untuk diadu dalam duel di Markas Kempetai di Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat.
Singkat cerita, Sabeni kemudian melawan satu per satu ahli beladiri Jepang itu dan berhasil mengalahkan mereka semua dengan menggunakan salah satu jurusnya yang terkenal yaitu jurus Kelabang Nyeberang. Tentara Jepang pun terkesima dengan kemampuan silat Sabeni dan tak lama setelah Pendekar Sabeni dan Sapi’ie dibebaskan, salah seorang komandan tentara Jepang tersebut datang ke rumah Sabeni untuk menawarkan Sabeni agar melatih tentara khusus mereka di Jepang. Namun karena usia Sabeni yang sudah terlalu tua untuk bepergian dan melatih ketika itu (83 tahun), maka dikirimlah murid kepercayaan Sabeni yang bernama Salim untuk berangkat ke Jepang. Sabeni pun kembali menjalani hari-harinya di tanah kelahirannya, Tanah Abang.
Pendekar Sabeni mengisi hari tuanya dengan melatih warga yang ingin belajar silat darinya. Ia mengajar maen pukulan ke hampir seluruh penjuru kota Jakarta hingga meninggal dunia dengan tenang dan didampingi oleh para murid dan anak-anaknya pada hari Jumat tanggal 15 Agustus 1945 atau tepatnya 2 hari sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dalam usia 85 tahun. Sabeni dimakamkan di Jalan Kubur Lama Tanah Abang yang kemudian atas upaya salah satu putranya yang bernama M. Ali Sabeni, oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta jalan tersebut diganti namanya menjadi Jalan Sabeni. Saat ini makam Pendekar Sabeni telah dipindahkan ke TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat yang lokasinya berdekatan dengan makam almarhum M.H.Thamrin salah seorang tokoh Nasional yang juga berasal dari DKI Jakarta.
Sumber: http://www.sabenitenabang.com/sejarah.htm
Seni Silat Sabeni:
Pada abad 19 dulu, ada pendekar Tenabang (sebutan Tanah Abang dalam logat Betawi, red) yang selalu membela rakyat kecil yang ditindas penjajah, Sabeni namanya. Ia lahir di Tanah Abang pada tahun 1860.
“Engkong itu jago banget silat. Tapi dia bukan tipe orang yang nyari masalah duluan, dia cenderung diem, ngamatin. Kalau ada rakyat yang dizalimi baru deh turun tangan. Mungkin itu yang bikin dia disegenin,” ujar Zul, cucu Sabeni dengan logat Betawi khasnya saat ditemui detikcom, di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (7/6/2013).
Zul Bachtiar atau yang biasa disapa Bang Zul, adalah cucu dari istri ketiga almarhum Sabeni. Sambil duduk santai Bang Zul menjelaskan kepada detikcom bahwa pada masa penjajahan, kakeknya adalah sosok yang memiliki pengaruh di Tanah Abang. Engkong Sabeni tak hanya disegani oleh kaum pribumi, tapi juga penjajah.
Pernah ketika itu sekitar tahun 1943, Sabeni ditantang oleh Jepang untuk membuktikan kemampuan silatnya. Jepang mendatangkan beberapa ahli bela diri langsung dari Jepang.
Awal mula cerita kenapa akhirnya Sabeni harus meladeni tantangan Jepang adalah saat Jepang akan menangkap anak Sabeni yang bernama Syafii. Diceritakan Syafii kabur saat masih menjadi anggota polisi. Jepang tak mau ambil pusing dengan memilih untuk menangkap Sabeni, ayah Syafii
"Dibawalah Sabeni ke suatu tempat di Lokasari (Jakarta Barat). Di situ kayak arena olahraga gitu," tutur Bang Zul.
Persyaratan tandingnya, jika Sabeni berhasil mengalahkan semua jagoan bela diri dari Jepang itu, maka Syafii tak akan ditangkap. Namun jika Sabeni kalah, maka ia dan anaknya akan menjadi tahanan Jepang. Sabeni meladeni tantangan Jepang kendati saat itu sudah berusia lanjut, 83 tahun.
Singkat cerita, Sabeni kemudian melawan satu persatu jagoan itu. Bang Zul tak menjelaskan pendekar bela diri dari Jepang dari aliran mana saja yang diadu dengan Sabeni, karena menurutnya pada saat itu belum ada nama yang pasti. Namun diperkirakan seperti karate dan judo.
"Terus Engkong berhasil dah tuh ngalahin semua jagoan-jagoan itu. Jepang pun kayak terkesima gitu. Nggak lama, pas Engkong sama Bang Syafii dibebasin, ada salah seorang komandan tentara Jepang datang ke rumah," ungkapnya.
Kedatangan komandan tentara itu ternyata untuk mengajukan tawaran kepada Sabeni untuk melatih tentara khusus Jepang. Namun karena Sabeni dinilai sudah terlalu tua untuk melatih, saat itu usianya sekitar 83 tahun, maka yang berangkat ke Jepang untuk melatih adalah murid kepercayaannya.
"Iya yang berangkat ke Jepang itu akhirnya Bang Salim, muridnya," kata Bang Zul.
Sabeni pun kembali menjalani hari-harinya di tanah kelahirannya, Tanah Abang. Ia mengisi kesibukan dengan melatih beberapa warga yang ingin belajar silat Sabeni
“Disangkanya pas ngelatih silat itu Engkong mau bikin pemberontakan ke penjajah. Penjajah langsung manggil Engkong buat diangkat jadi kepala kampung. Kejadiannya sekitar tahun 1943, pas awal-awal Jepang datang ke Indonesia. Alesannya biar kakek saya nggak ngelakuin gerakan-gerakan pemberontakan. Intinya biar bisa mereka kontrol,” jelas pria berusia 50-an itu.
Sabeni menerima menjadi kepala kampung agar tenang dalam mengajarkan silat dan tak melulu dicurigai Jepang. Sabeni mengajarkan silat hingga wafat pada 15 Agustus 1945 karena sakit.
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...
Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...
Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...