Silakupang merupakan pertunjukkan seni yang mengolaborasikan beberapa kesenian khas pesisir Utara Pulau Jawa. Silakupang terdiri atas kesenian sintren, lais, kuntulan, dan kuda kepang.
Sintren dan lais adalah kesenian yang menceritakan kisah cinta antara Sulasih dan Raden Sulandana. Karena perbedaan status sosial, Ayah Sulandana tidak merestui hubungan keduanya. Sulandana kemudian memilih untuk bertapa. Sementara itu, Sulasih menjadi seorang penari. Walau demikian, mereka berdua tetap sering bertemu di alam gaib lantaran Ibu Sulandana sengaja memanggil roh bidadari untuk merasuki Sulasih dan memanggil Sulandana yang sedang bertapa untuk menghampirinya.
Kuntulan adalah kesenian islami yang berasal dari Kabupaten Pemalang. Gerakan-gerakan dalam tari kuntulan didasarkan pada jurus-jurus silat yang sudah dimodifikasi agar semakin artistik dan akrobatik. Kuntulan diiringi dengan musik rebana, bedug, dan juga diiringi bacaan salawat Nabi.
Kuda kepang adalah tari tradisional Jawa yang menggunakan ebeg sebagai properti utamanya. Kuda kepang atau jaran ebeg dibuat dari anyaman bambu yang dihias menyerupai seekor kuda. Dalam tarian ini, pasukan kuda berlari dan melompat menirukan gaya kuda.
Pertunjukkan silakupang dimainkan oleh laki-laki dan perempuan. Laki-laki berperan sebagi penari lais, kuntulan, dan kuda kepang, sedangkan perempuan berperan sebagai penari sintren dan pembawa lagu.
Selain itu, ada syarat menjadi seorang penari sintren, yaitu perempuan yang masih perawan. Menurut cerita masyarakat, roh bidadari tidak akan bisa memasuki raga penari yang sudah tidak perawan.
Keempat kesenian di atas dikolaborasikan menjadi satu kesatuan cerita yang memiliki alur menarik. Alur dimulai dengan iring-iringan kuda kepang yang memasuki pentas dengan sangar, lagu pemanggil roh dimainkan, salah satu penari kuda lalu menjelma menjadi Sulandana dan mengajak penari sintren yang sudah terisi roh bidadari berjoget bersama. Pertunjukkan diakhiri dengan tari kuntulan yang mampu mengusir roh bidadari tersebut dari tubuh penari sintren.
Seni pertunjukkan yang berasal dari Pemalang (Jawa Tengah) ini mengandung nilai-nilai romantis, gagah, lincah, dan religius.
#OSKMITB2018
- Berikut merupakan dokumentasi penulis ketika memainkan pertunjukkan silakupang (juara Harapan 1) dalam Lomba Pentas Seni dan Budaya LCC 4 Pilar Kebangsaan MPR RI 2017 di tingkat nasional
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...