Ritual
Ritual
Sejarah Sumatera Utara Toba
Silahi Sabungan
- 5 Agustus 2018 - direvisi ke 4 oleh Ganisipayung pada 2 Juli 2024

Silahi Sabungan terdiri dari dua kata yang penuh arti, yaitu silahi yang berarti seorang lelaki dan sabungan yang berarti pendekar atau pemberani. Jadi, silahi sabungan adalah seorang lelaki yang berani.

Raja Silahi Sabungan merupakan anak ke-3 dari Anting Malela boru Pasaribu.

1.Raja Sibagot ni Pohan

2.Raja Sipaittua

3.Raja Silahi Sabungan

4.Siraja Oloan

5.Siraja Hutalima

 

Raja Silahi Sabungan diperhitungkan lahir pada tahun 1300-an di Lumban Gorat Balige dan meninggal tahun 1450 di Silalahi Nabolak. Raja Silahi Sabungan terkenal seorang Datu Bolon yang termansyur. Banyak berita - berita yang menakjubkan tentang Raja Silahi Sabungan dan keturunannya yang tertulis dalam buku Tarombo Siraja Batak maupun ceritanya yang terdapat pada keturunan Tuan Sorbani Banua maupun marga – marga lain, merupakan bunga rampai sejarah Raja Silahi Sabungan.

Raja Silahi Sabungan memiliki dua (2) orang istri, yaitu Pinggan Matio boru Padang Batanghari dan Siboru Nailing boru Nairasaon. Dari kedua isteri, Raja Silahi Sabungan memiliki delapan (ualu) anak dan satu putri. Negerinya, Huta Lahi atau saat ini di kenal dengan Silalahi Nabolak terbagi atas delapan wilayah, menurut jimlah anak-anaknya. Negeri Silalahi Nabolak kini menjadi sebuah Kecamatan dalam dalam otonomi Kabupaten Dairi, yaitu Kecamatan Silahisabungan. Pada atau Uhum yang dikenal oleh delapan anak-anak Raja Silahi Sabungan sampai keturunannya saat ini adalah Poda Sagu-sagu Marlangan (disingkat PSSM). Delapan anak-anak Raja Silahi Sabungan telah berkembang, sehingga kelompok marga keturunan delapan anak tersebut dikenal dengan Turpuk, maka keturunan Raja Silahi Sabungan dikenal juga dengan Ualu Turpuk. Di negeri Silalahi Nabolak, masing-masing puak keturunan delapan anak Raja Silahi Sabungan dikepalai oleh seorang Raja atau sering juga dikenal dengan sebutan Raja Turpuk. Dalam perkembangan keturunan Ualu Turpuk anak-anak Raja Silahi Sabungan, kini telah memakai marga : Sihaloho, Keloko, Situngkir, Sipangkar, Sipayung, Rumasondi, Rumasingap, Silalahi (Sinaloho, Sinabutar, Sinabang, Sinagiro), Dolok Saribu, Sinurat, Nadapdap, Naiborhu, Sidebang, Sidabutar, Sidabariba, Pintubatu, Sigiro, Tambun, Tambunan, Daulay, Sembiring (tertentu saja). Sebutan Delapan anak Raja Silahi Sabungan tersebut dalam Poda Sagu-sagu Merlangan.

Catatan : Mohon maaf, mungkin tidak semua kelompok marga yang mengaku keturunan Raja Silahi Sabungan setuju dengan runtut tarombo diatas. Yang dirunut diatas adalah keputusan Raja-raja Turpuk di Silalahi Nabolak bersama para Perwakilan Daerah dalam Munas, sebelumnya akhirnya diresmikan pada Thaun 1981, bersamaan dengan peresmian Tugu Makam Raja Silahi Sabungan di Silalahi Nabolak, yang dirintis sejak 1967 (14 tahun sebelum akhirnya diresmikan).

Keturunan Raja Silahi Sabungan dari Istrinya Pinggan Matio boru Padang Batanghari, 7 Putra 1 Putri: 

  1. Loho Raja
  2. Tungkir Raja
  3. Sondi Raja
  4. Butar Raja
  5. Deang Namora (Boru)
  6. Dabariba Raja
  7. Debang Raja
  8. Batu Raja

Keturunan Raja Silahi Sabungan dari Istrinya Nailing boru Nairasaon, 

        9. Tambun Raja

OSKMITB2018

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Cara Aktivasi BNIdirect bisnis
Alat Musik Alat Musik
Bali

Layanan Halo BNI tersedia selama 24 jam penuh setiap hari dan dapat diakses melalui WhatsApp ( 081252934601 ) info lebih lanjut.Layanan Halo BNI tersedia selama 24 jam penuh setiap hari dan dapat diakses melalui WhatsApp ( 081252934601 ) info lebih lanjut.

avatar
Bungacentika baru
Gambar Entri
PELARIAN MAJAPAHIT DI PACITAN
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT II (Keling Daha Kediri)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT I (Brawijaya V - Trowulan)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker