Raja Jancur namanya. Ia raja adil dan bijaksana yang berkuasa di tanah Rejang. Rakyat Rejang menghormati dan mencintainya. Mereka hidup berkecukupan di bawah kepemimpinan Raja Jungur.
Raja Jungur dikaruniai seorang putri yang amat jelita parasnya. Putri Serindu namanya. Berita kecantikan Putri Serindu tersebar luas hingga ke negeri-negeri jauh. Para pangeran dan bangsawan merindukan dapat memperistri Putri Serindu. Lamaran mereka tertuju ke tanah Rejang. Namun, semua pinangan itu ditolak Putri Serindu. Penolakan itu sangat mengherankan Raja Jungur dan permaisuri. Padahal, mereka sangat menginginkan Putri Serindu segera menikah dan memberikan cucu kepada mereka. Raja Jungur dan permaisuri berharap cucu lelaki. Kelak, anak lelaki Putri Serindu itu akan mewariSi takhta Raja Jungur.
Permaisuri berusaha mengetahui penyebab Putri Serindu selalu menolak datangnya lamaran padanya.
Jawaban Putri Serindu mengejutkan permaisuri, “Ibunda, hamba hanya bersedia menikah dengan Raja Tidur.”
“Raja Tidur?”
“Benar, Ibunda,” jawab Putri Serindu. “Maafkan hamba, Ibunda. Bisa jadi pilihan hamba tidak membuat Ibunda dan Ayahanda Raja berkenan. Tetapi, hamba sungguh menginginkan seorang lelaki yang pintar tidur untuk menjadi suami hamba.”
Permaisuri bisa memaklumi keinginan putrinya. Ia lalu menjelaskan keinginan Putri Serindu itu pada Raja Jungur.
Raja Jungur juga terkejut dan keheranan. Keinginan putrinya itu sangat aneh. Namun, Raja Jungur berusaha memenuhinya. Raja Jungur lalu memerintahkan prajuritnya untuk mengadakan sayembara. Perintahnya, “Siapa saja lelaki yang paling lama tidurnya, ia akan kunobatkan menjadi Raja Tidur. Setelah kunobatkan, ia akan kunikahkan dengan Putri Serindu.”
Sayembara Raja Jungur segera disebarluaskan. Para prajurit mengumumkan sayembara Raja Jungur itu hingga ke pelosok-pelosok negeri. Didengar dan diketahui segenap rakyat tanah Rejang, termasuk diketahui Anak Lumang.
Anak Lumang seorang yatim piatu. Pemuda yang tampan wajahnya. Pekerjaannya sehari-hari adalah membuat bubu penangkap ikan. Ia cekatan dan terampil dalam bekerja. Ketika mendengar sayembara itu Anak Lumang berniat untuk mengikutinya. Namun, ia bingung meninggalkan pekerjaannya. Jika ia tidak membuat bubu, ia tidak mendapatkan uang. Berarti, ia tidak bisa membeli makanan. Tetapi, tawaran menjadi suami dari Putri Serindu sangat menggoda. Ia tidak ingin melepaskan kesempatan itu. Setelah memikirkan masak-masak, Anak Lumang akhirnya memutuskan untuk mengikuti sayembara Raja Jungur.
Sebelum mengikuti sayembara, Anak Lumang menyiapkan bambu, tali rotan, dan semua perlatan kerjanya. Ia akan tetap bekerja di tempat sayembara nanti. Bahkan, ia berniat membuat bubu yang terbesar dan terbaik yang bisa ia kerjakan. Ia seakan tidak menyadari jika sayembara itu diadakan untuk mencari Raja Tidur, mencari lelaki yang paling lama tidurnya.
Anak Lumang lalu menuju istana. Ia mengendong keranjangnya yang berisi peralatan dan juga bahan-bahan pekerjaannya. Setibanya di alun-alun istana, ia melihat banyak sekali lelaki peserta sayembara di tempat itu. Mereka membawa peralatan untuk tidur. Sebagian besar di antara mereka telah merebahkan tubuh dan memejamkan mata.
Anak Lumang duduk di antara para peserta sayembara lainnya. Namun, ia tidak segera tidur. Ia malah membuat bubu. Seperti biasanya, ia bekerja dengan tekun dan hati-hati. Ketika semua peserta sayembara lainnya telah tertidur, Anak Lumang masih sibuk dengan pekerjaannya. Menjelang tibanya waktu Subuh, Anak Lumang selesai membuat bubu. Besar dan sangat indah bubu buatannya. Anak Lumang puas melihat hasil kerjanya. Digantungkannya bubu buatannya itu. Ia tidak juga langsung tidur, meski ia telah sangat mengantuk. Ia bersihkan dahulu peralatan kerjanya dan menyimpannya di dalam keranjangnya. Sampah bekas pekerjaannya dibersihkannya pula. Anak Lumang tak lagi bisa menahan kantuknya. Ia lalu merebahkan tubuh dan tertidur tak lama kemudian.
Pagi datang. Putri Serindu dan Raja Jungur dengan iringan para menteri dan para prajurit tiba di tempat sayembara. Putri Serindu memeriksa peserta sayembara satu persatu. Langkahnya terhenti di dekat Anak Lumang yang sedang tertidur dengan nyenyak. Ia terpesona pada bubu buatan Anak Lumang. Ia tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala. Ia juga memeriksa keranjang milik Anak Lumang. Kembali ia tersenyum. Semua peralatan kerja Anak Lumang terlihat bersih dan terawat. Pandangan Putri Serindu tertuju pada Anak Lumang. Ia tahu, pemuda sederhana berwajah tampan itu telah bekerja keras sebelum tidur.
“Ayahanda Raja,” kata Putri Serindu, “hamba telah menemukan pemenang sayembara.”
Raja Jungur terkejut berbaur senang. Sejenak ia menatap Anak Lumang. Tanyanya, Apakah pemuda itu pemenang sayembara ini, Putriku?”
Putri Serindu mantap menganggukkan kepala.
Raja Jungur lalu meminta sayembara dihentikan. Semua peserta sayembara dibangunkan. Raja Jungur meminta putrinya untuk mengumumkan pemenang sayembara itu sendiri.
Di hadapan semua peserta sayembara, Putri Serindu berkata, “Tuan-tuan yang terhormat, saya telah menentukan pemenang sayembara ini.”
Para peserta sayembara saling terdiam. Masing-masing berharap diri mereka yang terpilih Putri Serindu.
Putri Serindu menentukan, pemenang sayembara adalah Anak Lumang. Lalu katanya, “Raja Tidur yang kucari sesungguhnya bukan pemuda yang suka tidur. Bukan pemuda yang hanya menghabiskan waktunya untuk tidur. Namun, pemuda yang rajin dan tekun bekerja. Pemuda yang pintar mengatur waktu tidurnya. Ia baru bisa tertidur jika waktunya tidur tiba. Itu dilakukannya setelah menyelesaikan pekerjaannya. Hasil pekerjaaannya juga berguna bagi orang lain.”
Anak Lumang senang dan berbahagia menjadi pemenang sayembara. Bertambah kebahagiaannya setelah Raja Jungur menikahkannya dengan Putri Serindu yang sangat jelita parasnya itu.
Pesta pernikahan antara Anak Lumang dan Putri Serindu dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam. Segenap rakyat diundang untuk menyaksikan perayaan pernikahan yang berlangsung sangat meriah itu.
Raja Jungur dan permaisuri senang, putri mereka telah menemukan jodohnya. Raja Jungur akan menyerahkan takhta pada anak lelaki Putri Serindu dan Anak Lumang yang terlahir kemudian.
SEORANG YANG PINTAR MEMANFAATKAN WAKTUNYA AKAN MENUAI KEBERHASILAN DI KEMUDIAN HARI.
Sumber: https://dongengceritaanak.com/category/cerita-rakyat/bengkulu/
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa,tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan harimau. Tapi bagi kami, hutan ini seperti halaman belakang rumah sendi...