Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Sejarah Leluhur Sumatera Utara Tapanuli
Si Raja Lontung

Pada suatu hari, di tengah Hutan Uludarat, Sumatera Utara, seorang wanita bernama Siborupareme sedang dalam penantian akan kelahiran atau kematian bayi yang sedang dikandungnya. Kehamilan Siborupareme ini merupakan kehamilan terlarang dalam adat orang Batak. Ia dihamili oleh Sariburaja, kakak laki-lakinya sendiri. Hal tersebut merupakan pelanggaran yang teramat serius dan berat. Hukuman yang harus diberikan terhadaap pelanggaran tersebut adalah hukuman mati bag mereka berdua. Namun, karena dalam kondisi hamil, Siborupareme tidak boleh dibunuh. Itulah sebabnya ia dibuang ke Hutan Uludarat (sekarang daerah Sabulan, Sumatera Utara) dengan maksud supaya ia mati kelaparan atau dimakan harimau. Hutan tersebut memang dikenal sebagai markas hewan buas, terutama harimau. 

Ketika sedang menantikan anaknya, Siborupareme ini didatangi seorang harimau yang pincang (kerap disebut dengan nama Harimau Babiat/Babiat Siltepang oleh masyarakat lokal). Harimau tersebut mengaum dan meraung sambil mengangakan mulutnya di depan Siborupareme, seolah siap menerkam dan memangsa Suborupareme. Ia pun ketakutan, seakan pasrah menunggu ajal kematiannya dan janinnya karena tidak bisa berbuat apa-apa. Namun harimau tersebut tak kunjung menerkam Siborupareme. Harimau tersebut tetap mengaum dan meraung di depan Siborupareme. Di depan Siborupareme, harimau tersebut mengangakan mulutnya dengan lebar dan menggerakan kakinya ke arah mulutnya. Dibayangi rasa takut, Siborupareme mengamati dan mencoba memahami gerak-gerik harimau tersebut. 

Akhirnya, Siborupareme pun paham akan gerak-gerik dan maksud harimau tersebut. Harimau tersebut tidaklah bermaksud jahat, melainkan meminta pertolongan kepada Siborupareme karena sebuah tulang tertancap di kerongkongan harimau tersebut. Rasa takut Siborupareme pun hilang. Dengan sangat berhati-hati, Siborupareme pun mencabut serpihan tulang yang tertacap di kerongkongan harimau itu dan berhasil. Sejak itu, Siborupareme dan harimau menjalin persahabatan yang baik. Mereka saling tolong menolong, bahkan berjanji bahwa keturunan mereka tidak boleh saling menganggu apalagi saling membunuh.

Hari demi hari, dan bulan demi bulan dilewati Siborupareme bersama harimau tersebut. Tibalah harinya untuk Siborupareme melahirkan kandungan yang ia pertahankan sehidup dan semati bersamanya. Dengan kondisi yang serba darurat, pada akhirnya Siborupareme berhasil melahirkan seorang putera. Ia diberi nama Si Raja Lontung. Sebagai balas budi, harimau itu juga turut membesarkan Si Raja Lontung. Harimau itu mengurus makanan Siborupareme dan anaknya, serta melatih Si Raja Lontung hingga beranjak dewasa. Si Raja Lontung pun menjadi terkenal dalam silsilah keluarga Batak, khususnya keluarga Op. Tuan Situmorang. 

Sampai saat ini, masih banyak keturunan Si Raja Lontung yang percaya bahwa mereka tidak akan diganggu oleh Harimau Sumatera bila menyerukan bahwa mereka keturunan Si Raja Lontung. Ini merupakan salah satu kepercayaan adat lokal setempat.

 

Pesan moral yang bisa diambil dari cerita ini ialah :

1. Jika kita mau hidup berdampingan dengan alam, niscaya alam itu akan memberikan manfaat juga kepada kita. Tugas kita sebagai manusia ialah memelihara dan mengusahakan alam ini.

2. Apa yang kita lakukan sebelumnya atau sekarang, akan kita tabur dikemudian hari. Segala yang kita kehendaki supaya orang berbuat demikian kepada kita, perbuatlah demikian juga kepada sekitar kita. Lakukan yang baik maka kita akan mendapat yang baik.

#OSKMITB2018

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker