Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Kalimantan Tengah Kalimantan Tengah
Si Nalau dan Puteri Burung Punai
- 27 Desember 2018

Si Nalau belum mempunyai istri. Lalu ia mencari akal dan belajar membuat tuak. Pada suatu ketika dibuatnya tuak se-belanga. Ketika tuaknya sudah jadi, tiap hari delapan ekor burung punai hinggap di tempatnya, datang minum tuak itu. Sambil minum, burung-burung itu menyanyi, suaranya demikian :
"Kayu sariak rinsaw, kayu yang rimbun sekali.
Mari minum tuak Nalau, supaya kita menjadi puteri."
Itulah lagu yang dinyanyikan ke delapan ekor burung punai tersebut.

Nalau berpikir: "Bagaimana caranya agar burung punai itu dapat kutangkap?" Satu hari telah lewat, dua hari telah berlalu, bahkan kini sudah menjelang hari yang kedelapan. "Tunggulah", katanya. "Burung-burung itu pasti dapat ku tangkap".

Akhirnya pada hari yang ke delapan, ketika burung-burung itu sedang asyik menyanyi dan berkicau demikian, taap, ditangkap si Nalau seekor. Burung yang lainnya habis terbang semua. Tiba-tiba  burung yang digenggamnya itu menjelma menjadi seorang puteri yang sangat cantik.

Puteri itu kemudian dijadikannya istrinya. Dari perkawinan itu mereka berdua dikaruniai seorang anak. Anak itu makin hari makin besar pertumbuhannya.

Suatu ketika, berkatalah ibu kepada keduanya; "Hari ini saya hendak ke ladang. Engkau dan ayahmu tinggallah baik-baik di rumah."

"Ya, baiklah." kata anaknya.

Sepeninggal ibu pergi, si anak menangis terus-menerus. Tak tahu sebabnya dan ayahnya pun tak mampu mendiamkannya. Ayahnya kebingungan, apakah gerangan sebabnya maka anak ini menangis saja, dan tidak bisa di diamkan.

"Diam, nak, diam" kata ayahnya. "Cobalah dengar, ayah menyanyikan sebuah lagu, nyanyian ibumu  dahulu!"

"Bagaimanakah lagu itu?" tanya anaknya

Beginilah ayah lagukan: "Kayu sariak rinsaw, kayu yang rimbun sekali. Mari minum tuak Nalau, agar supaya menjadi puteri"

Mendengar lagu tadi, anaknya terus diam, tidak menangis lagi. "Nyanyi lagi ayah" pinta anaknya. Mereka berdua terus malagukan nyanyian itu bersama-sama (Sang ayah lupa akan janjinya bahwa lagu itu tak boleh dinyanyikan sebab kalau dinyanyikan lagi, ibunya akan berubah menjadi burung kembali).

Akhirnya ibunya pulang dari ladang, ia tahu semua apa yang telah terjadi. Ia sangat sedih dan kecewa, menyesal terhadap perbuatan mereka. "Beginilah jadinya, sebab engkau sekalian tidak mencintai aku" Karena putus asa, ia pun diam tak berkata sepatahpun.

Setelah itu iapun membersihkan dirinya mandi di sungai menggantikan pakaiannya, lalu memasak serta menyiapkan makan. Selanjutnya ditutupinya segala lubang dinding, lubang lantai, pendeknya semua lubang-lubang di rumahnya dengan tikar, maklumlah rumah pada waktu berlantai bambu dan berdinding kulit kayu saja. Kemudian istrinya duduk di lantai. Ia tahu nasib yang bakal menimpa dirinya dan kepada suaminya juga hal itu telah disampaikannya. Karena itu si Nalau meneliti semua penjuru di rumahnya, kalau-kalau masih ada lubang yang belum ditutupi.

Sesuai permintaan anaknya, istrinya tanpa cerewat lagi lalu menyanyikan pantun itu, katanya; "Kayu sariak  rinsaw, kayu yang rimbun sekali, marilah minum tuak Nalau, agar supaya menjadi puteri."

Begitu mengakhiri pantun nyanyian tersebut, tumbuhlah bulu punai dikakinya. Kemudian dinyanyikannya lagi, tumbuhlah pula bulu itu sampai kelututnya. Demikianlah diulanginya berkali-kali lagu itu, sampai pinggang, leher dan bahkan keseluruh tubuhnya ditumbuhi bulu.

"Nah", katanya "Selamat berpisah" "Tinggallah engkau berdua anakmu baik-baik, aku akan pergi!"

Selesai berkata demikian ia pun berubah menjadi burung punai kembali, lalu terbang melalui celah-celah dinding rumahnya dan sampai sekarang tak diketahui kemana perginya.

Si Nalau bagaikan orang gila berusaha menutupi semua celah-celah dinding tetapi usahanya sia-sia. Sedih hatinya bukan kepalang mengenangkan istrinya. Kini ia tetap tinggal di rumah itu memelihara anak puteri".

 

 

sumber:

  1. Alkisah Rakyat (http://alkisahrakyat.blogspot.com/2015/11/cerita-si-nalau-dan-puteri-burung-punai.html)

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu