Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Barat Jawa Barat
Si Leungli
- 3 Mei 2018

Nyai Bungsu Rarang hidup sebatang kara. Kedua orangtuanya sudah tiada. Dia tinggal di rumah warisan yang kecil dan sudah rusak. Atapnya banyak yang bocor. Dindingnya yang terbuat dari anyaman bambu sudah bolong-bolong. Nyai Bungsu Rarang mempunyai dua orang kakak. Kedua kakaknya hidup berkecukupan. Rumah mereka besar. Mereka mempunyai sawah, kebun, dan kolam. Tapi mereka tidak pernah merasa kasihan kepada adik mereka. Kalaupun mereka memanggil Nyai Bungsu Rarang, bukan untuk memberi makanan atau pakaian, melainkan meminta untuk melakukan pekerjaan rumah. Upahnya pun seringkali tidak pantas. Suatu hari Nyai Bungsu Rarang mencari ikan di sawah. Dia mendapat seekor anak ikan mas. Anak ikan mas itu berwarna kuning keemasan. Entah mengapa, Nyai Bungsu Rarang tidak berani memasak anak ikan itu. Dia merasa kasihan. Akhirnya, anak ikan itu dimasukan ke kolam. Anak ikan mas itu sangat gembira. Dia berenang ke sana kemari. Sejak mempunyai anak ikan mas itu, Nyai Bungsu Rarang semakin giat bekerja. Bila kakak-kakaknya menyuruh bekerja, upahnya selalu dibawa pulang. Sepiring nasi itu dibagi dua. Nyai Bungsu Rarang bergembira bisa makan bersama sahabatnya. Anak ikan mas itu diberi nama Si Leungli. Bila Nyai Bungsu Rarang memberi makan, dia akan bersenandung, Leungli... Leungli... cepat datang Ini ada nasi matang Meski tidak satu rantang Tapi cukup bikin kenyang Karena dibuat dengan rasa sayang Seperti yang mengerti, Si Leungli keluar dari persembunyiannya. Dia berenang ke sana kemari, melompat-lompat. Begitu Nyai Bungsu Rarang menaburkan nasi, Si Leungli menyambutnya dengan salto. Nyai Bungsu Rarang tertawa melihatnya. Setiap hari Si Leungli dikasih makan dan diajak bercanda. Tidak terasa badannya semakin besar memanjang. Sirip dan ekornya panjang-panjang. Warna kuning keemasannya semakin terang, seperti bercahaya. Indah sekali. Kegembiraan Nyai Bungsu Rarang membuat kedua kakaknya curiga. Sekali waktu, mereka  mengikuti Nyai Bungsu Rarang. "Sepertinya ikan itu yang membuat si Bungsu Rarang selalu gembira," kata kakak pertamanya. "Mestinya ikan itu kita ambil, Kak," kata kakak keduanya. Besoknya, Nyai Bungsu Rarang disuruh berbelanja ke kampung tetangga. Saat Nyai Bungsu Rarang pergi, kedua kakaknya menangkap Si Leungli. Mereka menggoreng dan memakan ikan itu. Setelah tinggal kepala dan durinya, ikan itu disimpan untuk diberikan kepada Nyai Bungsu Rarang. Nyai Bungsu Rarang terkejut ketika dikasih upah nasi timbel dan ikan goreng yang tinggal kepala dan durinya. Hatinya bergetar. Entah mengapa, dia merasa sangat bersedih. Sambil berlari pulang airmatanya meleleh tak tertahan. Ketika sampai di kolam belakang rumahnya, dia langsung bersenandung memanggil sahabatnya. Tapi Si Leungli tidak juga muncul. Nyai Bungsu Rarang sekarang yakin Si Leungli sudah tidak ada. Dia pun meratap dengan suara sedih. "Duh... Leungli... Hatiku sakit sekali Aku sedih engkau mati Tapi engkau selalu hidup di hati Setelah itu, Nyai Bungsu Rarang mengubur kepala dan duri Si Leungli di halaman belakang. Suatu hari Nyai Bungsu Rarang melihat ada sebatang pohon tumbuh di atas kuburan Si Leungli. Pohon kecil itu disiram oleh Nyi Bungsu Rarang. Maksudnya biar pohon itu merindangi kuburan Si Leungli. Setiap hari pohon itu bertambah tinggi dan lebat. Akhirnya, pohon itu berbuah. Anehnya, buah-buah itu berwarna kuning keemasan. Sambil bernyanyi, Nyi Bungsu Rarang membersihkan kuburan Si Leungli. Leungli... Leungli... pujaan hati Tenanglah engkau di bumi Engkau dan aku alamnya beda Tapi kita sama-sama cinta Selesai bernyanyi, buah-buahan itu berjatuhan. Nyai Bungsu Rarang memungutinya. Dia heran karena buah-buahan itu berat seperti logam. Dia membawa buah-buah emas itu ke kota untuk diperiksa di toko perhiasan. Ternyata itu adalah emas murni yang harganya sangat mahal. Nyai Bungsu Rarang akhirnya menjadi kaya. Dia senang membantu tetangga, orang miskin, dan siapapun yang perlu dibantu. Kedua kakaknya mendengar kabar kekayaan adik mereka. Mereka datang berkunjung dan menanyakan asal kekayaan adiknya. Tanpa curiga Nyai Bungsu Rarang menceritakannya. "Adikku Sayang, karena kedua kakakmu ini sangat rindu kepadamu, izinkanlah kami menginap," kata kakak pertamanya. Malamnya, ketika Nyai Bungsu Rarang sudah terlelap, kedua kakaknya itu menyelinap ke kuburan Si Leungli. Mereka membawa wadah yang besar untuk buah emas. Lalu mereka menyanyi. Selesai mereka menyanyi, banyak buah berjatuhan. Namun, bukan buah emas seperti biasanya. Buah yang berjatuhan seperti dilemparkan itu adalah buah-buah berduri. Kedua kakak Nyai Bungsu Rarang menjerit-jerit. Buah-buahan berduri itu melukai kepala, dahi, leher, dan punggung mereka. Luka-luka itu terasa perih. Mereka pulang tanpa pamit karena malu dengan kelakuan mereka.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Jipeng
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
DKI Jakarta

Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng. Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng. Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng.

avatar
Xxxxxx
Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba Pagar Jabu - Sahan - Pohung
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
Ilmu Tamba Tu
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker