Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Riau Riau
Si Lancang Yang Lupa Diri
- 28 Desember 2018

Di sebuah desa bernama Kampar, hidup seorang ibu dan anaknya yang bernama Lancang. Mereka hidup disebuah gubuk tua. Kehidupan mereka sangat miskin. Karenanya, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka harus bekerja sebagai buruh tani.

Suatu hari, Lancang berpikir untuk pergi dari desanya agar bisa menjadi kaya. "Aku tidak ingin hidup miskin. Aku ingin jadi orang kaya. Tapi, bagaimana mungkin aku bisa maju jika aku tetap tinggal di desa ini?"

Untuk melaksanakan niatnya, Lancang memohon izin kepada ibu dan guru mengajinya untuk pergi ke kota mengadu nasib. "Ibu, izinkan aku pergi ke kota untuk mengadu nasib. Siapa tahu di kota nanti aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan dapat membahagiakan ibu," ucap Lancang.

Betapa berat hati sang ibu melepaskan anak semata wayangnya. Sebenarnya ia tidak mau melepas sang buah hati yang sangat dicintainya. Tapi, niat Lancang sudah bulat sehingga sang ibu merelakan anaknya pergi. Ia pun akan tetap setia menantikan anaknya kembali.

"Anakku, ibu hanya dapat berpesan, jika kau telah sukses di kota, jangan lupakan ibu. Kalu pun nanti kau tidak berhasil di kota, kembalilah pulang karena ibu selalu menantimu di sini," kata sang ibu sambil berlinang air mata. Lancang kemudian mencium lutut sang ibu. Dengan berbekal restu sang ibu dan sebungkus kue lumping dadak kegemarannya, pergilah Lancang ke kota.

Hari demi hari ia lalui dengan bekerja keras. Karena keuletannya, setelah beberapa tahun, usaha Lancang membuahkan hasil. Ia pun menjadi orang kaya. Dengan kekayaannya, Lancang bisa membeli apa saja yang diinginkan. Bahkan, menurut kabar yang berembus, Lancang mempunyai 7 (tujuh) orang istri. Semua istrinya cantik-cantik dan anak saudagar kaya. Harta dan kekayaan yang dimiliki membuatnya lupa akan sang ibu di Desa Kampar. Ia telah berubah menjadi manusia yang sombong dan serakah.

Suatu hari, Lancang hendak berlayar ke Andalas dengan membawa ketujuh istrinya. Segala sesuatu telah dipersiapkan dengan baik oleh anak buahnya. Perbekalan mewah seperti kain sutra, emas, dan perak dibawanya. Semua itu digelarnya di atas kapalnya yang besar.

Setelah sekian hari berlayar, sampailah ia di Desa Kampar. Lancang pun menghentikan kapalnya dan merapat di dermaga. Alat-alat musik yang dibawanya kemudian dimainkan dengan suara riuh rendah. Hal ini dilakukan untuk menarik perhatian para penduduk Kampar.

Benar saja, para penduduk Kampar berkumpul dan mengagumi kemewahan kapal milik Lancang. Berita kedatangannya terdengar juga oleh sang ibu. Ia pun segera berlari menuju pantai. Betapa takjubnya sang ibu melihat sebuah kapal besar dan mewah berada di hadapannya.

"Anakku Lancang, ini ibu! Di mana kamu?" teriak sang ibu yang berlari ke atas geladak kapal. Namun, ketika sampai di atas geladak, ia dihadang oleh beberapa anak buah kapal.

"Maaf, Ibu tidak dapat masuk ke kapal ini," tegas para anak buah kapal.

"Aku ingin bertemu dengan anakku. Aku sangat merindukannya," pinta sang ibu dengan penuh harap.
Sayangnya, bukannya izin untuk bertemu anaknya yang ia dapatkan, melainkan tertawaan para anak buah kapal. Mereka tidak mempercayai bahwa ibu yang berpakaian lusuh dan compang - camping itu adalah ibu Lancang. Sang ibu tetap memaksa ingin memasuki kapal sehingga keributan tidak dapat dihindari.

Mendengar suara gaduh di luar kapalnya, Lancang dan tujuh istrinya menghampiri. "Ada keributan apa ini?" tanya Lancang.

Melihat anak yang dicintainya keluar, sang ibu pun berkata, "Lancang anakku, ini ibu."

"Aku tidak memiliki ibu sepertimu," teriak Lancang sambil menyuruh anak buah kapalnya untuk mengusir sang ibu dari atas geladak. Lancang merasa sangat malu dengan keadaan ibunya yang sangat lusuh. Ia tidak ingin orang lain mengetahui asal-usulnya yang dahulu hanyalah seorang buruh tani yang miskin.

Mendengar ucapan anaknya, hati sang ibu  pun sangat hancur. Ia pun lari ke gubuknya. Setelah itu, dikeluarkanlah benda pusaka yang sudah lama disimpannya, sebuah lesung (penumbuk padi) dan nyiru (anyaman bambu untuk menampi beras). Sambil memutarkan-mutar lesung dan mengibas-ngibaskan nyirunya sang ibu berdoa, "Ya Tuhanku, hukumlah anak durhaka itu!".

Setelah sang ibu memanjatkan doa, tiba-tiba datanglah badai dan angin topan. Kapal milik Lancang pun terempas ke karang dan hancur lebur. Semua barang-barang yang terdapat di dalam kapal terlempar dan jatuh berkeping-keping. Kain sutranya melayang dan jatuh di suatu tempat yang kemudian menjadi sebuah daerah bernama "Lipat Angin".

Daerah itu kini terletak di daerah Kampar Kiri. Alat musik gongnya pun terlempar dan menjadi sebuah sungai bernama “Ougong”. Sungai ini berada di daerah Kampar Kanan. Tembikarnya terlempar dan menjadi sebuah desa bernama "Pasubillah". Tiang bendera kapal milik Lancang pun terempas sangat jauh hingga ke danau yang kemudian bernama "Danau si Lancang".

Pesan  Moral :
Kisah ini mengingatkan kita agar tidak melupakan jasa orang tua terutama ibu. Jika kelak kita menjadi orang yang sukses, janganlah sekali-kali melupakan ibu yang sudah susah payah membesarkan kita.

 

 

sumber:

  1. Alkisah Rakyat (http://alkisahrakyat.blogspot.com/2016/07/si-lancang-yang-lupa-diri.html)

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
PELARIAN MAJAPAHIT DI PACITAN
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT II (Keling Daha Kediri)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT I (Brawijaya V - Trowulan)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker