Si Kabayan Ngala Roay
Si Kabayan adalah salah satu tokoh dalam cerita Sunda yang sangat terkenal. Tokoh Si Kabayan terkenal dengan tingkahnya yang lucu, polos, namun juga cerdas dan punya banyak akal. Si Kabayan awalnya hanya merupakan tokoh dalam cerita-cerita rakyat Sunda yang disampaikan dari mulut ke mulut. Namun, karena banyak orang yang menggemari tokoh Si Kabayan ini, maka beberapa cerita-cerita Si Kabayan ada yang dibuat dalam bentuk film.
Di dalam cerita Si Kabayan, ada beberapa tokoh yang sering-sering disebut atau dimunculkan, antara lain Nyi Iteung dan kedua mertua Si Kabayan. Nyi Iteung adalah dambaan hati Si Kabayan yang kemudian menjadi istrinya. Kebanyakan cerita Si Kabayan mengisahkan tentang keseharian Si Kabayan bersama istri dan kedua mertuanya.
Beberapa cerita Si Kabayan yang terkenal adalah Si Kabayan Ngala Tutut dan Si Kabayan Ngala Nangka. Cerita Si Kabayan yang dijadikan film salah satunya adalah Si Kabayan Jadi Miliuner. Tapi, artikel ini akan membahas lebih dalam tentang cerita Si Kabaya Ngala Roay. Sebagai informasi, cerita ini sudah diceritakan ulang oleh penulis dalam Bahasa Indonesia. Berikut ini ceritanya, dan selamat membaca :)
Suatu malam, Si Kabayan diajak memetik kacang oleh mertuanya. Esok paginya, Si Kabayan dan mertuanya pergi ke hutan, agak jauh dari rumahnya. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang berbicara sedikitpun, Si Kabayan juga masih mengantuk (Si Kabayan punya kebiasaan untuk tidur hingga siang hari, dan hari itu ia malah dibangunkan pagi-pagi).
Sesampainya di hutan, mertuanya sangat rajin memetik kacang sedangkan Si Kabayan malah bermalas-malasan sambal melamun. Sepertinya Si Kabayan agak kesal dengan mertuanya. Si Kabayan melihat sekitar, dan ia melihat karung wadah kacang. Kemudian, ia mendapat ide.
Si Kabayan membujuk mertuanya, “Bapa mertua! Saya mau ke belakang, sakit perut. Takutnya agak lama, tungguin ya! Awas kalo ditinggalin!”
“Iya! Jangan lama-lama.”
“Gimana nanti saja, kan sakit datangnya tiba-tiba.”
Selagi berbicara, mertuanya tidak melihat ke arah Si Kabayan, malah asik memetik kacang. Si Kabayan masuk ke karung wadah kacang. Badannya disembunyikan diantara kacang sampai tidak terlihat.
Saat mertuanya memasukkan kacang ke karung, karungnya sudah penuh, jadi karungnya diikat. “Duh, berat pisan.” kata bapa mertuanya, lalu ia duduk menunggu Si Kabayan. Si Kabayan ditunggu-tunggu tapi tidak kembali-kembali, hari juga sudah mulai gelap. “Kenapa Si Kabayan tidak balik-balik?” mertuanya berbicara sendiri. “Ga salah lagi sepertinya dia langsung pulang karena sakit. Dasar Si Kabayan. Seharusnya kan izin dulu ke orang tua kalau mau pulang.” Pelan-pelan karungnya dipanggul. “Aduh berat pisan, terlalu dipadatkan sampe keras seperti ini.” kata mertuanya.
Sesampainya di rumah, karungnya diletakkan di dapur. Lalu karungnya dibuka oleh ibu mertua sambil berbicara “Aduh, banyak ya kacangnya.” Kata bapa mertua, “Ih, itu belum diambil semua, baru juga setengahnya, keburu penuh karungnya. Eh, itu Si Kabayan gimana sakitnya?”
“Sakit? Tidak tahu saya. Kan tadi ke hutan sama bapa”
“Iya tadi pagi, tapi pulang duluan, sakit perut.”
“Ah dasar. Ini bantu buka karungnya, berat pisan.”
Saat karungnya dibuka, keluar kacangnya karena terlalu penuh. Lalu tiba-tiba Si Kabayan keluar dari karungnya. Ibu mertuanya berteriak karena kaget. Bapa mertuanya juga kaget. Si Kabayan berbicara, “He, he, he, capek” sambil senyum-senyum.
“Eh Si Kabayan!” kata ibu mertua.
“Capek bu. Terus enak dipanggul bapa mertua”
“Ada-ada aja kelakuan ke orang tua!” kata ibu mertua. Sedangkan bapa mertua masuk ke rumah, kesal sama Si Kabayan.
“Besok metik kacangnya sampe beres sama Bapa, Kabayan! Yang bener, jangan seperti itu ke orang tua, pamali dan durhaka” kata ibu mertua.
“Iya, tidak akan bu.” jawab Si Kabayan.
Esok harinya Si Kabayan dan bapa mertuanya pergi ke hutan lagi. Sesampainya di hutan, pada rajin memetik kacang. Si Kabayan rajin juga metik kacang, sepertinya teringat akan pepatah ibu mertuanya. Melihat Si Kabayan asik bekerja, bapa mertuanya masuk ke dalam karung wadah karung kacang seperti Si Kabayan kemarin. Si Kabaya terus memetik kacang sampai karungnya sangat penuh, lalu karungnya diikat.
“Eh, bapa mertua kok tidak ada, kemana ya? Tidak salah lagi, saya ditinggal, masih kesal karena kejadian kemaren sepertinya. Ah, saya juga mau pulang saja. Karungnya digelindingkan saja, tidak kuat kalau dipanggul.” sambil berbicara, Si Kabayan menggulingkan karungnya.
“Kabayan! Kabayan!” terdengar suara dari dalam karung, “Ini bapa mertua! Jangan digulingkan!”
Si Kabayan berhenti, lalu berbicara “Ah, kacang, kacang!”, lalu digulingkan lagi karungnya.
“Kabayan! Ini bapa, bukan kacang!” Si Kabayan tidak peduli dan karungnya tetap digulingkan olehnya.
Sampai di dapur, karungnya dilemparkan. “Tah ibu mertua, kacang sekarung!” kata Si Kabayan sambil berjalan pergi. Saat dibuka isinya, keluar bapa mertua sambil kesakitan. Badannya sakit semua karena digulingkan dari hutan ke rumah dengan jarak yang lumayan jauh. Sampai 2 hari bapa mertua tidak bisa bangun.
Nah, begitu ceritanya. Amanat yang bisa diambil dari cerita Si Kabayan Ngala Roay adalah sebagai manusia janganlah malas-malasan bekerja, apalagi membantu orang tua. Amanat lainnya yang ada dalam cerita ini adalah jangan balas dendam terhadap orang lain, dan jangan durhaka terhadap orang tua.
Sekian dan Terima Kasih :)
#OSKMITB2018
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...