Pada sebuah tepian danau, dekat Hutan Kebijaksanaan, tinggallah seekor itik. Sementara itu, berjalan beberapa langkah ke sebelah kanan, nampak sekawanan angsa tertawa-tawa dan berenang menimbulkan bunyi kecepuk air. Si Itik hanya memandang sekilas pada kawanan angsa tadi sebelum bergegas berjalan sambil menjinjing keranjang.
"Pagi, Bu Itik! Hendak ke mana sepagi ini?" seekor berang-berang muncul dari dalam air, menyapa Si Itik. Namun, Berang-berang sama sekali tidak melihat ke arah wajah Si Itik.
"Oh..Aku hendak berbelanja. Sebentar lagi musim dingin tiba. Jika tidak bersiap-siap dari sekarang, takutnya nanti, persedian makananku habis." Si Itik mencoba menjawab seramah mungkin, meskipun hatinya bergejolak ketika melihat kejijikan di wajah Berang-berang.
Usai basa-basi yang lain, Si Itik kembali melanjutkan perjalanannya. Wajahnya nampak murung saat melewati kawanan angsa.
"Teman-teman, lihat! Sang Putri hendak berbelanja sepertinya. Semuanya memberi hormat!" salah satu angsa yang memberi komando tadi, memperagakan cara hormat yang dimaksud. Berbalik arah hingga membelakangi Si Itik, kemudian dengan sekuat tenaga kaki dikayuh ke belakang. Serentak, angsa-angsa yang lain melakukan hal yang sama. Dan dalam sekejap, Si Itik telah basah kuyup oleh cipratan air danau. Keranjangnya terjatuh.
Kawanan angsa itu tertawa girang.
"Kalian sungguh jahat!" berlinangan air mata, Si Itik meraih keranjangnya dan berlari menjauh. Namun, Si Itik terpeleset dan terjatuh dengan bunyi gedebuk yang keras. Dari kejauhan, kawanan angsa semakin gembira. Mereka mengepak-ngepakkan sayapnya.
Si Itik berusaha untuk bangkit. Terpincang-pincang, dia mencari keranjangnya. Si Itik masih menangis. Ini bukan kali pertama dia diperlakukan semena-mena oleh kawanan angsa tadi. Tapi, selama dua tahun terakhir, semenjak dia terlihat berbeda dari angsa-angsa itu, hampir setiap hari mereka mengganggunya.
"Sampai kapankah penderitaanku ini akan berakhir?" Si Itik sejenak berhenti dan berdiri menatap permukaan air danau. Kilau matahari memantulkan dirinya di sana. Bahkan, dirinya sendiri pun takut saat melihat sosoknya yang dipantulkan air danau.
Segerombolan burung melintas di atas Si Itik.
"Eh, Putri buruk rupa sedang bercermin. Kayaknya dia butuh bedak. Ayo teman-teman, kita bantu dia."
Si Itik terlambat menghindar. Gerembolan burung itu dalam waktu bersamaan buang air besar di atas kepala Si Itik. Dan burung-burung itu pun terbang menjauh. Hanya tawa mereka yang masih sayup-sayup terdengar.
Dalam keadaan basah kuyup dan kepalanya dipenuhi kotoran burung, Si Itik memutuskan melewati Hutan Kebijaksanaan. Meskipun sedikit lebih jauh dan berisiko bertemu serigala, Si Itik nekat menyusuri jalan setapak yang ada di tengah Hutan Kebijaksanaan.
Baru berjalan beberapa langkah, Si Itik tanpa sadar telah terperangkap. Kakinya terjerat dengan tali yang khusus dipasang oleh para pemburu. Si Itik mencoba untuk tidak panik. Tanpa menimbulkan suara, dia melihat ke sekeliling dengan hati-hati.
Bernapas sedikit lega karena dia tidak melihat adanya serigala di sekitar itu, Si Itik sekuat tenaga berusaha melepaskan tali yang melilit kakinya. Namun, tepat ketika tali itu hampir lepas, seekor serigala nampak berjalan ke arahnya dengan lidah menjulur.
Si Itik terlihat gemetaran.
"Apa kabar, Bu Itik? Bu Itik nampak semakin gemuk, berarti Bu Itik sehat, ya!" Serigala seolah sengaja memamerkan gigi geliginya yang nampak berkilat.
"Tolong, wahai Pak serigala yang baik hati! Jangan Makan saya. Saya ini tidak gemuk. Malahan, saya ini sangat jelek. Saya takut, jika Pak Serigala yang baik hati memakan saya, perut Pak Serigala akan sakit."
Serigala tertawa dengan sangat keras mendengar permohonan Si Itik.
"Maafkan aku, Bu Itik. Sudah tiga hari ini, aku tidak makan apa-apa. Bukankah, ketika kita lapar, semuanya terasa enak? Lagi pula, taktik seperti tadi sudah pernah dilakukan oleh nenekmu. Ibuku selalu bercerita tentang nenekmu yang dulunya berhasil mengelabui kakekku."
Serigala kembali tertawa, bahkan lebih keras dari sebelumnya. Dan serigala pun melompat. Sesaat sebelum terkaman itu berhasil, bunyi tembakan seakan mengoyak pagi yang masih basah. Sang Serigala tergeletak setelah peluru para pemburu menembus tubuhnya.
"Untung kita datang tepat waktu. Jika tidak, buruan kita sudah dimakan oleh serigala itu. Oh lihat, apa yang berhasil kita tangkap! Seekor itik. Lumayan enak untuk digulai."
Dan berakhirlah penderitaan Si Itik. Para pemburu menangkapnya dan membawa Si Itik ke arah perkampungan. Setengah jam kemudian, samar-samar, tercium bau gulai itik. Hutan Kebijaksanaan dengan danau di pinggirnya hanya melihat kejadian tadi dalam diam.
Diceritakan oleh Rinal Sahputra (anggota FLP Aceh).
Sumber: http://blog.harian-aceh.com/
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...