Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat DKI Jakarta DKI Jakarta
Si Hamzah (Mula Jadinya Kampung Rawabangke)
- 27 Desember 2018

Bapak Hamzah bertempat tinggal di Rawamangun bersama istri dan anaknya seorang laki-laki yang bernama Hamzah. Disebutnya bapak Hamzah lantaran nama anaknya Hamzah. Pada suatu hari Bapak Hamzah bersama istri dan si Hamzah pergi berjalan-jalan ke Jatinegara. Di situ si Hamzah melihat seorang wanita yang sangat cantik sedang berbelanja di Mester. Tak henti-hentinya si Hamzah memandangnya. Rasanya segalanya serba menarik di hati si Hamzah. Kalau ibunya mengajaknya pulang, mungkin dia masih terus melamun saja. Sampai di rumah hati si Hamzah tak bisa tenang, sebab selalu terbayang-bayang akan wajah si wanita cantik di pasar semalam.

Maka setelah itu secara diam-diam dia sering pergi sendirian ke Mester hanya ingin ketemu saja dengan wanita tersebut. Cerita punya cerita akhirnya si Hamzah bisa kenal juga sama wanita yang selalu diimpikan dan tahulan dia sekarang akan namanya, yaitu si Sanimah. Sanimah adalah anak dari Raden Ranggawira seorang saudagar yang kaya lagi pula sangat disegani di daerah Mester. Anak satu-satunya adalah si Sanimah. Maka sudah barang tentu dia sangat sayang kepadanya. Dan menurut kabar si Sanimah sudah dijodohkan dengan saudagar muda masih kemenakannya sendiri.

Setelah si Hamzah merasa sudah benar-benar bulat pendiriannya mau mengambil istri Sanimah, maka dia menemua bapaknya minta agar supaya dilamarkan itu si Sanimah anaknya Raden Ranggawira. Mendengar permintaan anaknya itu Bapak Hamzah menjadi sedih hatinya, sebab bukan sewajarnya kalau dia mau melamar si Sanimah. Dia hanya orang kecil, sedangkan Raden Ranggawira selain dia sangat berpengaruh, dia juga sangat disegani di daerahnya. Tetapi karema desakkan anaknya yang terus menerus akhirnya dia pergi juga ke rumah Raden Ranggawira untuk melamar anaknya yaitu si Sanimah.

Sampai di rumah Raden Ranggawira terus saja dia menceritakan maksudnya. Mendengar permintaan si Bapak Hamzah itu, bukan main herannya Raden Ranggawira. Dia pikir jangan-jangan Bapak Hamzah ini kurang waras. Selain anaknya sudah dijodoin sama keponakannya sendiri, dia tahu bahwa keluarga Hamzah bukannya orang baik-baik. Tapi Raden Ranggawira mempunyai cara yang halus untuk menolaknya. Raden Ranggawira mengatakan bahwa boleh saja dia melamarnya, dan mau juga dia menerimanya sebagai menantu, asal si Hamzah bisa memenuhi kekurangannya. Untuk lamarannya nanti minta:
Buah kelapa komplit, maksudnya diikut sertakan pula pohonnya, batangnya, daunnya sampai bunga dan lain sebagainya.
Kain yang panjangnya mulai dari Jatinegara sampai dengan Bogor.
Uang mulai dari 7 peser, 7 sen, 7 gobang, 7 ketip, 7 talen, dan seterusnya sampai dengan 7 ribu.
Mendengar syarat-syarat yang diajukan oleh Raden Ranggawira, pak Hamzah kaget jadinya. Tapi hal itu disembunyikannya. Berat rasanya untuk memenuhi permintaan itu. Lama juga dia berpikir, mau menangis dia rasanya. Tapi untuk mengatakan tidak bisa secara terus terang, dia malu. Maka segala syarat-syarat itu disanggupinya begitu saja. Lalu pak Hamzah permisi pulang. Sampai di rumah hati pak Hamzah menjadi gelisah, karena memikirkan syarat-syarat yang diminta oleh Raden Ranggawira tadi. Mau dibatalkan itu lamaran, takut anaknya ngambeg. Mau diterusin, dia dapat uang dari mana untuk membeli barang-barang permintaan itu. Lagi pula permintaan Raden Ranggawira sangat aneh-aneh. Pikir punya pikir maka akhirnya dia ingat sama keponakannya yang namanya Duraham. Duraham lalu dipanggilnya. Diceritain semua persoalannya. Duraham mendengar itu semua, kasihan juga sama uwaknya. Lalu dia ingat punya teman yang namanya si Durachim. Durachim temennya itu tinggal di kota Mangga 2. Durachim itu sudah pernah ikut sama saudagar Arab yang terkenal kaya tapi kikirnya bukan main. Saudagar Arab itu bernama Tuan Salim yang tinggal di Krukut, Kota. Waktu itu si Durachim jadi kusir Tuan Salim.

Bapak Hamzah bersama si Duraham pergi ke tempat Durahim. Cerita punya cerita, akhirnya sampai ke tujuannya yaitu mau pinjam uang. Durahim bilang sama bapak Hamzah bahwa kalau caranya mau pinjam uang sama Tuan Salim nggak bakalan dapet. Kecuali harus ada jaminan, juga bunganya keliwat tinggi. Memang orang Arab Krukut terkenal pelitnya. Maka berunding punya berunding akhirnya disepakatin mau ngrampok saja. Begitulah seterusnya mereka bertiga pada ngrampok di saudagar Salim. Dasar si Durahim pernah jadi sopirnya jadi dia tahu dimana tempat-tempatnya barang-barang Tuan Salim. Setelah selesai merampok, maka hasil rampokannya itu dibagi tiga. Pikiran Bapak Hamzah agak tenang karena bakal bisa menuruti keinginan anaknya.

Dari hasil rampokannya itu, oleh Bapak Hamzah dibeliin kain putih semeter, bibit kelapa, tak lupa dia mencari uang peseran 7 buah dan uang ribuan 7 buah. Semuanya itu akan diserahkan kepada Raden Ranggawira. Setelah persiapan diperkirakan sudah lengkap, maka Bapak Hamzah berangkat ke rumah Raden Ranggawira untuk menyerahkan kekudangan yang diinginkan. Sampai di tempat Raden Ranggawira, kain putih, bibit kelapa, uang 7 peser dan 7 ribu diserahkan kepada Raden Ranggawira. Bukan main herannya Raden Ranggawira melihat itu semua. Tidak sesuai dengan apa yang diminta. Dengan tenang bapak Hamzah mengajak Raden Ranggawira keluar. Di depan rumah sudah tersedia kereta dimana kusirnya si Durahim. Raden Ranggawira liajaknya naik. Bapak Hamzah membawa kain putih tersebut, dibentangkan dahulu, lalu kereta itu dari Jatinegara berangkat menuju Bogor. Maka menurut bapak Hamzah kain yang dimintanya panjangnya dari Jatinegara sampai Bogor sudah terpenuhi. Untuk permintaan kelapa komplit, oleh Bapak Hamzah diserahkan bibit kelapa, dengan komentar bahwa nanti kalau sudah ditanam dan menjadi besar akan menghasilkan kelapa, bunga dan lain-lainnya seperti apa yang diminta oleh Raden Ranggawira. Untuk permintaan yang terakhir, maka diserahkannya uang 7 peser terus menyebutkan uang lainnya yang diminta, yaitu tujuh sen, tujuh gobang, tujuh ketib dan seterusnya sampai yang terakhir tujuh ribu diserahkannya uang tujuh ribu rupiah. Dengan demikian permintaan berupa uang sudah terpenuhi.

Setelah merasa sudah memenuhi semua permintaan Raden Ranggawira, maka Bapak Hamzah lalu ini si Sanimah dikawinkan dengan anaknya si Hamzah. Hatta, saudagar Salim kerampokan, melapor kepada polisi. Polisi mencari itu perampok. Ketiga perampok yaitu Pak Hamzah, Duraham, dan Durahim dapat ditangkap. Karena pak Hamzah terkenal orang jahat, maka dia melawan juga sama polisi. Karena dilawan lalu polisi melepaskan tembakan. Kena di dada pak Hamzah dan tidak berapa lama Pak Hamzah meninggal. Kemudian polisi menghadapi teman Pak Hamzah yaitu Duraham dan Durahim, keduanya melawan juga. Akhirnya kedua kena tembak dan tewas. Ketiganya dibuang saja mayatnya disitu. Mulai saat itu tempat tersebut dinamakan  Rawabangke. Karena di tempat itu banyak bangke atau mayat. Di tempat itu sering terjadi perkelahian, dan pasti ada yang mati. Juga dipakai tempat membuang mayat.

 

 

Sumber : Cerita Rakyat Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu