Di sebuah kampung di daerah Kalimantan Tengah, hiduplah sepasang suami-istri bersama tiga orang anaknya yang masih berumur belasan tahun. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sang Suami mencari ikan di sungai. Dalam mencari ikan, Sang Ayah biasanya dibantu oleh anak sulungnya yang bernama Bideng, yang kedua bernama Sonwi, dan si bungsu Kenzo.
Pada suatu hari, sang Ayah sakit, sehingga untuk mencari ikan Bideng harus berangkat sendiri ke sungai. Sesampainya di sungai, Bideng segera memasang jaringnya. Setelah itu, ia duduk di tepi sungai sambil menunggu ikan-ikan terperangkap jaringnya. Setelah beberapa lama menunggu, ia turun ke sungai untuk memeriksa jaringnya. Usai diperiksa, ternyata jaringnya masih tetap kosong. Bideng memasang kembali jaringnya dan kemudian duduk di tepi sungai sambil bersiul-siul. Kali ini, ia membiarkan jaringnya terpasang agak lama dengan harapan bisa memperoleh ikan yang banyak. Namun, Bideng benar-benar sial hari itu, di jaringnya tak seekor ikan pun yang terperangkap.
“Aneh, kenapa tak seekor ikan pun yang terperangkap ? Jangan-jangan jaring ini robek,” pikirnya.
Setelah diteliti secara seksama, tak satu pun lubang yang ia temukan. Oleh karena kesal dan kecewa, akhirnya Bideng memutuskan untuk berhenti memancing dan ingin beristirahat sejenak di bawah sebuah pohon beringin yang berada di tepi sungai. Tengah asyik menikmati sejuknya hawa dingin di bawah pohon itu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah benda kecil berwarna merah menimpa dirinya. Ketika menengadahkan wajahnya ke atas pohon, ia melihat buah beringin yang sangat lebat. Ada yang berwarna kuning dan ada pula yang merah. Saat akan mengalihkan pandangannya, tiba-tiba ranting-ranting pohon itu bergerak-gerak.
“Hai, ada apa di balik ranting itu?” gumamnya.
Setelah diamati dengan seksama, ia melihat beraneka ragam burung seperti baliang, tingang, punai dan murai sedang makan buah beringin. Melihat kawanan burung itu, rasa sedih dan kecewanya sedikit terobati dan berniat untuk menangkapnya. Pohon beringin itu cukup tinggi. Namun hal itu tidak membuat Bideng mengurungkan niatnya untuk menangkap burung-burung tersebut. Ketika akan naik ke atas pohon, tiba-tiba ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
(Baca juga: Cerita Rakyat Kalimantan Tengah – Kisah Uder Mancing)
“Ah, tidak mungkin aku bisa menangkap kawanan burung itu dengan tangan kosong. Tapi, dengan apa aku bisa menangkap mereka?” tanya Bideng dalam hati bingung.
Setelah berpikir sejenak, Bideng langsung teringat pada jaring ikannya.
“Ahah, kalau begitu, jaring ini akan kugunakan sebagai perangkap untuk menangkap kawanan burung itu,” gumamnya.
Dengan penuh semangat, Bideng pun segera memanjat pohon itu sambil membawa jaring ikannya. Melihat kedatangan Bideng, kawanan burung yang sedang berpesta makan itu merasa terusik dan langsung beterbangan meninggalkan pohon. Sementara Bideng terus saja naik tinggi ke atas pohon dan segera memasang jaringnya mengintari ranting-ranting yang berbuah lebat. Ia mengingkatkan tali jaringnya pada batang bohon beringin dengan kuat. Setelah yakin benar bahwa jaring yang telah dipasangnya sudah kuat, ia pun segera turun dari pohon dan segera menuju ke perahunya yang sedang ditambatkan di tepi sungai. Bideng bermaksud pulang ke rumahnya dan membiarkan jaringnya di atas pohon itu. Ia mengayuh perahunya sambil bersiul-siul membayangkan burung-burung itu terperangkap di dalam jaringnya.
Setelah dua hari, ia pergi memeriksa jaring perangkapnya. Dengan penuh harapan, ia mengayuh perahunya dengan cepat ke arah tepi sungai tempat pohon beringin itu berada. Sesampainya di bawah pohon beringin, ia pun menambatkan perahunya pada sebuah batang kayu dan segera melompat ke darat. Dari bawah pohon beringin itu, ia melihat jaring perangkapnya sedang bergerak-gerak.
Setelah diamati, ternyata banyak sekali burung yang terperangkap di dalam jaringnya. Tanpa menunggu lama, ia pun langsung naik ke atas pohon. Sesampainya di atas, ia berdecak kagum melihat beraneka burung yang bulunya berwarna-warni, berukuran besar mapun kecil menggelepar-gelepar di dalam jaringnya.
“Waaah, indah sekali warna bulu burung-burung ini,” ucapnya.
Usai mengungkapkan rasa kagumnya, tiba-tiba Bideng dihinggapi rasa bingung.
“Mau diapakan burung sebanyak ini?” gumam Bideng.
Pada mulanya, Bideng berniat untuk membunuh kawanan burung itu. Tapi karena sayang pada burung-burung tersebut, akhirnya ia mengurungkan niatnya.
Setelah itu, ia kembali berpikir bahwa seandainya burung-burung itu dibawa pulang, ia akan kesulitan membawanya. Akhirnya, ia memutuskan untuk memeliharanya. Ia kemudian memotong-motong tali panjang yang dibawanya dari rumah, lalu mengikat kaki burung-burung tersebut satu per satu dan mengikatkannya pada pinggangnya.
Setelah sekeliling pinggangnya penuh, ia mengikatkannya pada anggota badannya yang lain. Sementara mengikat burung yang lain, beberapa burung yang sudah terikat mulai mengepak-ngepakkan sayapnya hendak terbang. Ketika sedang mengikat burung yang terakhir, tiba-tiba Bideng merasa tubuhnya menjadi ringan. Makin lama makin ringan. Tubuhnya kian mengambang dan terus meninggi. Ia baru sadar bahwa dirinya diterbangkan burung ketika tubuhnya sedang melayang-layang di udara. Kawanan burung tersebut terbang menuju ke arah kampung tempat tinggal Bideng.
Betapa senang dan gembiranya hati Bideng. Ia tertawa bangga diterbangkan oleh kawanan burung tersebut.
“Kalian baik sekali, burung! Aku tidak perlu lagi mengeluarkan tenaga untuk mengayuh perahuku pulang ke rumah,” kata Bideng kepada burung-burung itu.
Semakin lama, Bideng bersama kawanan burung itu terbang semakin tinggi. Bideng sangat gembira bisa melihat pemandangan baru. Ia bisa melihat danau dan sungai yang terbentang dan berliku-liku. Tidak jauh dari depannya, Bideng melihat kampung tempat tinggalnya.
“Hai, itu kampungku!” seru Bideng.
Saat berada di atas perkampungan, Bideng kembali berteriak,
“Itu rumahku!”
Dalam hati, Bideng berkata bahwa pasti ayah, ibu, dan adik-adiknya akan senang melihat dirinya terbang bersama burung-burung itu. Ketika kawanan burung itu terbang mendekat ke atas rumahnya, Bideng melihat adik-adiknya sedang bermain-main di halaman rumah.
“Adik! Aku Terbang!” teriak Bideng menarik perhatian adik-adiknya.
Melihat kakaknya terbang bersama kawanan burung itu, salah seorang adiknya berteriak,
“Kak Bideng! Aku ikut terbang!”
“Tidak usah adikku! Kakak sudah mau turun!” teriak Bideng.
Bideng kemudian menyuruh kawanan burung itu agar menurunkannya di halaman rumah. Namun kawanan burung itu tetap membawanya terbang berputar-putar di atas rumah-rumah penduduk. Bideng pun mulai panik dan takut kalau-kalau kawanan burung itu membawanya terbang ke mana-mana.
“Tolong… Tolong…! Tolong aku, Ibu!” teriak Bideng ketakutan.
Ibunya yang mendengar terikannya itu segera keluar dari rumah. Alangkah terkejutnya saat ia melihat Bideng diterbangkan burung dan berteriak meminta tolong.
“Ibu… Tolong aku!” Bideng kembali berteriak.
“Bideng! Lepaskan ikatan burung itu satu-satu!” teriak Ibunya.
Bideng pun menuruti saran ibunya. Ia segera melepaskan ikatan burung itu dari pinggangnya satu per satu. Setelah melepaskan ikatan beberapa ekor burung, ia pun mulai terbang merendah. Melihat hal itu, hati Bideng mulai lega. Kemudian ia melepaskan lagi ikatan beberapa ekor burung yang terikat pada anggota badannya. Akhirnya, Bideng beserta beberapa burung yang masih tersisa jatuh di halaman rumahnya. Meskipun dirinya selamat, tapi jantung Bideng masih berdetak kencang karena panik. Adik-adiknya pun segera menghampirinya.
“Hore… Hore… Kak Bideng selamat!” teriak adik-adiknya dengan riang gembira.
Tak berapa lama, ibunya pun datang dan mendekatinya.
“Bideng… Bideng…! Kamu ini aneh-aneh saja kelakuanmu. Untuk apa burung-burung itu kamu ikatkan di tubuhmu. Untungnya kamu tidak dibawa pergi jauh oleh burung-burung itu. Makanya, kalau mau bertindak dipikir dulu akibatnya!” ujar ibunya.
Bideng hanya diam sambil menunduk, karena merasa ia memang bersalah dan telah bertindak ceroboh.
“Maafkan Bideng, Bu! Bideng sangat menyesal dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi,’ kata Bideng.
Setelah itu, Bideng minta minum karena merasa haus sekali setelah dilanda kepanikan. Usai minum, Bideng meminta izin kepada ibunya untuk memanggang beberapa ekor burung hasil tangkapannya yang masih tersisa. Kemudian, ia segera menyembelih dan membersihkan burung-burung itu, sedangkan ketiga adiknya sibuk menyiapkan perapian. Setelah bersih dan perapian siap, Bideng dibantu adiknya segera memanggang burung-burung itu. Beberapa saat kemudian, terciumlah aroma sedap yang membangkitkan selera makan.
Burung panggang pun siap untuk disantap. Bideng bersama adik-adiknya segera menggelar lampit. Keluarga Bideng duduk melingkar. Mereka sudah tidak sabar lagi ingin menikmati lezatnya burung panggang. Sang Ibu pun segera menghidangkan burung pangang itu bersama sambal terong asam dan nasi hangat. Mereka makan dengan lahap sekali. Meski demikian, tidak serta merta lauk lezat itu langsung habis. Burung panggang itu masih banyak yang tersisa, sehingga selama tiga hari Bideng bersama keluarganya masih makan lauk yang sama, yakni burung panggang.
Sumber:
https://www.reinha.com/2018/10/cerita-rakyat-kalimantan-tengah-kisah-si-bideng/
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara