Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Aceh Aceh
Si Alamsyah
- 20 Mei 2018

Di sebuah kerajaan di tanah Alas , pada zaman dahulu. Sang Raja memerintah dengan sifat adil dan bijaksana. Rakyat pun hidup dalam kedamaian, keamanan, serta kesejahteraan. Dang raja mempunyai seorang penasihat, Tande Wakil Namanya. Apapun juga yang disebutkan Tande Wakil Sang Raja akan menurutinya.

Dalam kehidupannya, Sang Raja belum juga dikaruniai seorang anak pun meski telah lama berumah tangga. Kenyataan itu membuatnya kerap bersedih hati. Begitu pula dengan Sang Permaisuri. Keduanya tak putus putus nya berdoa dan memohon agar dikaruniai anak. Hingga suatu hari Sang raja bermimpi. Dalam impiannya itu seorang kakek datang kepadanya dan memberitahunya, hendaklah Sang Permaisuri meminum ramuan yang dibuat oleh seorang tabib yang tinggal di sebuah hutan di ujung wilayah kerajaan.

Keesokan paginya Sang Raja lantas memerintahkan para prajurit untuk mencari keberadaan si tabib dan mengajak nya untuk datang ke istana kerajaan. Tak berapa lama kemudian tabib yang dimaksud telah datang ke istana kerajaan. Si tabib segera membuatkan ramuan setelah Sang Raja memintanya. Benar pesan si kakek dalam impian Sang Raja , tak berapa lama setelag meminum ramuan buatan si tabib, Permaisuri pun mengandung. Sembilan bulan kemudian Permaisuri melahirkan seorang bayi laki- laki . Sang Raja member nama Alamsyah untuk anak lelakinya itu.

Begitu gembiranya hati Sang Raja dan Permaisuri setelah dikaruniai seorang anak. Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama . Belum juga genap sebulan usia Alamsyah , Tande Wakil menghadap Sang Raja dan menjelaskan perihal impiannya. Kata Tande Wakil, “Hamba bermimpi, bahwa kelahiran putra Paduka itu adalah petaka sekaligus bencana besar bagi segenap rakyat! Putra Paduka itu hendaklah dibuang ke hutan agar bencana itu tidak mewujud dalam kenyataan.”

“Apakah tidak ada cara lain selain membuang putraku itu ke hutan agar bencana itu tidak mewujud?” tanya Sang Raja.

“Ampun yang mulia,” kata tande wakil.

“Menurut impian hamba, satu-satunya cara untuk mencegah datangnya bencana dan petaka yang akan melanda negeri kita ini hanyalah dengan membuang putra paduka ke hutan.”

Sang raja pun menurut. Betapa pun ia sangat mencintai anak lelakinya itu, namun jika kehadirannya akan membawa petaka dan bencana bagi segenap rakyat yang dipimpinnya, ia pun berketetapan hati untuk membuang Alamsyah ke hutan.

Alamsyah yang masih bayi itu lantas dibuang ke hutan . Seekor kera sakti merawat Alamsyah. Dalam asuhan si kera sakti , Alamsyah pun tumbuh besar. Beberapa tahun kemudian Alamsyah telah berubah menjadi seorang pemuda. Wajahnya sangat tampan.Tubuhnya kuat dan kekar. Si kera sakti mengajarinya sopan santun dan tata krama hingga Alamsyah tumbuh menjadi pemuda yang baik hati dan mengenal sopan santun.

Pada suatu hari Alamsyah keluar hutan. Di pinggir hutan ia berjumpa dengan seorang kakek. Setelah saling bertegur sapa, sang kakek akhirnya mengetahui siapa sesungguhnya Alamsyah. Si kakek lantas mengajak Alamsyah untuk kembali ke istana kerajaan.

“Ayahanda Paduka telah wafat,” kata si kakek dalam perjalanannya menuju kerajaan. ” Kini yang memerintah kerajaan adalah Paman Paduka. Sangat jauh pemerintahannya dibandingkan Ayahanda Paduka. Paman Paduka itu memerintah dengannn sangat kejam dan sewenang-wenang. Sangat mudah dia menjatuhi hukuman, bahkan terhadap orang yang sesungguhnya tidak bersalah. Beberapa dijatuhi hukuman mati karena berani menentang kehendak Raja. Rakyat hidup dalam kecemasan dan ketakutan. Raja sama sekali tidak memperhatikan kesejahteraan rakyat dan kejahatanpun tumbuh subur layaknya jamur di musim penghujan.

Alamsyah sangat sedih mendengar cerita si kakek. “Lantas bagaimana nasib ibu?” Tanyanya.

“Ibu paduka masih hidup dan tinggal di sebuah gubug di luar istana. Setiap hari ibu paduka dipaksa untuk bekerja keras layaknya seorang pembantu. Seringkali ibu paduka tidak diberi makan karena dianggap pekerjaannya tidak bagus. Bahkan, makanan untuknya pun kadang makanan yang sudah basi.”

Alamsyah kian merasa sedih. Dia berniat kuat menemui pamannya dan meminta pamannya tidak sewenang-wenang dalam memerintah dan tidak berlaku aniaya terhadap ibunya.

Alamsyahpun tiba di istana kerajaan. Pamannya sangat tidak suka mendapati kedatangannya. Dia khawatir, Alamsyah akan meminta tahta yang menjadi haknya. Raja lantas memperlakukan Alamsyah dengan buruk. Alamsyah dipaksa untuk bekerja keras, melebihi kerja yang dilakukan pembantu. Jika Alamsyah tidak bekerja, dia tidak akan diberi makan. Alamsyah juga dilarang bertemu ibunya. Para perajurit diberi kewenangan oleh raja untuk memukul Alamsyah, jika Alamsyah dianggap tidak baik dalam bekerja. Alamsyah terpaksa menerima perlakuan buruk terhadapnya itu, karena tidak memiliki kemampuan untuk melawan.

Sang Raja telah berulangkali berusaha untuk mencelakai Alamsyah. Secara diam-diam dia memerintahkan orang-orang kepercayaanya untuk membunuh Alamsyah. Namun, usahanya selalu mengalami kegagalan.

Suatu hari sang Raja memerintahkan seorang kepercayaanya yang bernama Penghulu Mude untuk membunuh Alamsyah. Penghulu Mude lantas mengajak Alamsyah untuk membeli kerbau. Ditengah perjalanan, Alamsyah didorongnya hingga jatuh ke jurang. Penghulu mude kemudian kembali ke istana untuk menghadap sang raja. Dia melaporkan bahwa Alamsyah telah mati jatuh ke Jurang.

Alamsyah terjatuh ke jurang yang dalam. Namun, dia selamat karena ditolong oleh jin baik yang bernama Siah Ketambe. Alamsyah sama sekali tidak terluka dan bahkan sedikitpun kulitnya tidak lecet.

Siah Ketambe menjelaskan, bahwa jatuhnya Alamsyah ke jurang itu karena siasat pamannya. ”Pamanmu menghendaki engkau mati, sehingga dia menyuruh Penghulu Made mendorongmu ke jurang ini.”

Alamsyah sependapat dengan penjelasan Siah Ketambe. Berulang-ulang dia telah merasakan berbagai usaha pamannya untuk mencelakakan dirinya.

Siah Ketambe mengharapkan agar Alamsyah memiliki ilmu beladiri yang cukup untuk bisa menjaga diri serta menolong orang-orang yang membutuhkan. Akhirnya Alamsyah belajar ilmu beladiri dan kesaktiaan dari Siah Ketambe. Karena Alamsyah orang yang cerdas dan tekun, dalam waktu singkat dia telah menguasai ilmu beladiri dan berbagai kesaktian yang diajarkan oleh Siah Ketembe.

Siah Ketambe memberikan pesan kepada Alamsyah. ”Gunakan ilmu dan kesaktianmu itu baik-baik. Sebisa mungkin hindarkanlah perkelahian. Namun, jika engkau dalam keadaan terdesak atau mendapati dirimu dalam keadaan bahaya, barulah engkau boleh menggunakan ilmumu itu untuk membela diri.”

Setelah merasa ilmu beladiri dan kesaktian Alamsyah sudah cukup, Siah Ketambe mengijinkan Alamsyah untuk kembali ke kerajaan. Kedatangan Alamsyah sangat mengejutkan Raja dan Penghulu Mude. Setibanya di istana Alamsyah langsung diserang oleh Penghulu Mude dibantu oleh para perajurit. Namun karena kesaktian Alamsyah sangat tinggi, dengan mudah Alamsyah dapat mengalahkan mereka semua.

Sang Raja begitu terperanjat mendapati kemampuan keponakannya itu begitu luar biasa. Dia pun merasa tidak akan mampu menghadapi Alamsyah, terlebih lagi para perajurit dan pejabat kerajaan yang sebelumnya menjadi kaki tanganya, sekarang berbalik menduku Alamsyah, karena mengetahui bahwa Alamsyahlah yang berhak menjadi Raja.

Sang Raja akhirnya menemui Alamsyah. ”Alamsyah keponakanku. Maafkan pamanmu yang telah khilaf ini. Ampuni aku. Dengan ini kuserahkan kembali tahta yang memang seharusnya engkau duduki. Sekali lagi, maafkan pamanmu dan jangan engkau sakiti pamanmu yang tleh renta ini.” Alamsyah memaafkan kesalahan pamannya. Dia juga memaafkan kesalahan Penghulu Mude dan seluruh perajurit yang pernah menyakitinya selama mereka berjanji tidak akan mengulangi kesalahan mereka.

Setelah penyerahan kekuasaan itu, Alamsyah dinobatkan menjadi raja baru. Alamsyah segera menjemput ibunya dan mendudukannya disampinya dengan penuh penghormatan. Seluruh rakyat sangat bergembira dengan penobatan Alamsyah sebagai Raja, apalagi Alamsyah memerintah dengan adil dan bijaksana. Alamsyah menegakan hukum dengan adil sehingga tingkat kejahatan menurun drastis. Rakyat hidup makmur dan sejahtera.

Pesan Moral

Orang yang baik akan mendapatkan kebaikannya dan orang yang jahat atas perilakunya juga akan mendapatkan buah kejahatannya. Hak seseorang akan kembali kepadanya meski harus melalui usaha keras dan perjuangan yang panjang.

 

Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2016/02/si-alamsyah-nad/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu