Serat adalah karya sastra dari jawa yang berisi tentang ajaran-ajaran dari leluhur untuk sebuah kebaikan. Banyak sekali serat dalam budaya jawa, salah satu diantaranya adalah Serat Tripama. Serat tripama muncul pertama kali pada zaman Mangkunegaran, yaitu diciptakan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV (KGPAA Mangkunegara IV) dalam bentuk Tembang Macapat Dhandanggula sebanyak tujuh pada (bait), di Surakarta. Serat tripama ini diterbitkan pertama kali dalam kumpulan ciptaan Mangkunegara IV, jilid III (tahun 1927).
Ketujuh bait Serat Tripama mengisahkan tiga tokoh wayang yang memiliki keteladanan. Bait pertama dan kedua mengisahkan keteladanan Patih Suwanda (Bambang Sumantri), Patih dari Raja Harjunasasrabahu dari negara Maespati pada era sebelum kisah Ramayana. Bait ketiga dan keempat mengisahkan keteladanan Kumbakarna, adik dari Prabu Dasamuka raja Ngalengkadiraja (Alengka) pada era kisah Ramayana. Bait kelima dan keenam mengisahkan Suryaputra (Adipati Karna), anak pertama Dewi Kunti, yang juga merupakan kakak tertua dari Pandawa, berlatar pada kisah Mahabharata. Serta bait terakhir atau bait ketujuh berisi kesimpulan dari keenam bait sebelumnya.
Berikut ini ketujuh bait Serat Tripama.
Yogyanira kang para prajurit
Lamun bisa sira anulada
Duk ing nguni caritane
Andelira Sang Prabu
Sasrabahu ing Maespati
Aran patih Suwanda
Lalabuhanipun
Kang ginelung triprakara
Guna kaya purune kang den antepi
Nuhoni trah utama.
Lire lalabuhan triprakawis
Guna bisa saniskareng karya
Binudi dadya unggule
Kaya sayektinipun
Duk bantu prang Manggada nagri
Amboyong putri dhomas
Katur ratunipun
Purune sampun tetela
Aprang tanding lan ditya Ngalengka nagri
Suwanda mati ngrana.
Wonten malih tuladan prayogi
Satriya gung nagri ing Ngalengka,
Sang Kumbakarna arane,
Tur iku warna diyu
Suprandene nggayuh utami
Duk wiwit prang Ngalengka
Dennya darbe atur
Mring raka amrih raharja
Dasamuka tan keguh ing atur yekti
Dene mengsah wanara.
Kumbakarna kinen mangsah jurit
Mring kang raka sira tan lenggana
Nglungguhi kasatriyane
Ing tekad datan purun
Amung cipta labuh nagari
Lan noleh yayah rena
Nyang leluhuripun
Wus mukti aneng Ngalengka mangke
Arsa rinusak ing bala kapi
Punagi mati ngrana.
Wonten malih kinarya palupi
Suryaputra narpati Ngawangga
Lan Pandawa tur kadange
Len yayah tunggil ibu
Suwita mring Sri Kurupati
Aneng nagri Ngastina
Kinarya gul-agul
Manggala golonganing prang
Bratayuda ingadegken senopati
Ngalaga ing Kurawa.
Den mungsuhken kadange pribadi
Aprang tanding lan Sang Dananjaya
Sri Karna suka manahe
Dene nggenira pikantuk
Marga denya arsa males sih
Ira Sang Duryudana
Marmanta kalangkung
Denya ngetok kasudiran
Aprang rame Karna mati jinemparing
Sumbaga wiratama.
Katri mangka sudarsaneng Jawi
Pantes lamun sagung pra prawira
Amirata sakadare
Ing lelabuhanipun
Awya kongsi buang palupi
Manawa tibeng nista
Ing estinipun
Senadyan tekading budya
Tan prabeda budi panduming dumadi
Marsudi ing kotaman.
Kesimpulannya dari ketujuh bait tersebut adalah ketiga tokoh wayang tersebut memiliki latar belakang yang berbeda dan dari zaman yang berbeda memiliki keteladanan yang berbeda pula. Secara keseluruhan, Patih Suwanda dikenal dengan kautaman triprakaranya, "Guna, Kaya dan Purun", yaitu kepandaian dan ketrampilan, kecukupan, serta keberaniannya. Sedangkan Kumbakarna mengedepankan "Bela negara" serta berani menyampaikan kebenaran dan mengatakan yang salah itu adalah salah. Adapun Adipati Karna dikagumi karena kesetiaan dan komitmennya,"Setya mring sedya", berani mengorbankan segala-galanya demi mempertahankan loyalitas dan komitmen sebagai tanda balas budi walaupun ia sadar sepenuhnya bahwa yang ia bela adalah pihak yang salah. Sri Mangkunegara IV berpesan supaya kita dapat meneladani apa yang telah dilakukan ketiganya semampu kita.
Diambil dan disunting dari :
http://iwanmuljono.blogspot.com/p/serat-tripama.html
Rincian artikel bersumber dari Dian Puspita, S.Pd (Guru Bahasa Jawa di SMA N 1 Magelang)
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...