Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Aceh Aceh Barat Daya
Sepenggal kisah Alue Sungai Pinang
- 18 Juli 2018

Inilah kisah dari Aceh bagian Barat Daya, tepatnya di Alue Sungai Pinang. Disini penulis ingin menceritakan sedikit dari kisah asal-muasal nama kampung alue sungai pinang tersebut. Kisah ini saya dapatkan dari hasil wawancara dengan warga kampung Alue Sungai Pinang, Abdya. Beliau adalah pewaris sejarah legenda asal-usul kampungnya sendiri. Beginilah kisahnya…
Jauh menyelam waktu ke belakang, hiduplah seorang pria alim yang bernama teungku Malem Diwa. Beliau hidup di sebuah desa yang indah dan permai di kaki pegunungan Barat Daya. Beliau terkenal dengan kealimannya. Sudah menjadi kelaziman di daerah barat-selatan kebanyakan binatang tunduk dan patuh pada orang-orang alim. Begitu juga dengan Malem Diwa. Beliau memiliki kupu-kupu, rayap, elang, dan tupai berbulu kuning.
Malem Diwa mempunyai seorang istri. Istrinya adalah salah satu dari 7 putri kayangan, Putroe Bungsu namanya. Putroe Bungsu hidup di kayangan sedangkan Malem Diwa tetap di bumi.
Pada suatu waktu, Malem Diwa merasakan kerinduan yang sangat mendalam akan istrinya. Akan tetapi Malem Diwa tidak mempunyai kendaraan menuju kayangan. Malem Diwa terus memikirkan cara untuk menuju kayangan.
Di kampung yang sama hidup pula seorang putri yang bernama Putroe Aloeh. Pada masa itu hanya Putroe Aloeh saja yang memeliki kuda terbang. Putroe Aloeh hidup sendiri di sebuah rumah daerah pucoek krueng (hulu sungai) kampung tersebut. Rumahnya berdekatan dengan sebuah alue (alur sebuah sungai kecil diantara pegunungan) yang di sampingnya tumbuh sebatang pohon pinang yang sangat tinggi. Batang pinang tersebut adalah miliknya Putroe Aloeh. Suatu keanehan yang terjadi pada pohon pinang tersebut. Batang pinang itu memiliki satu tangkai yang hanya berjuntai tiga buah pinang saja. Tiga pinang tersebut terdiri atas emas, perak, dan intan. Kisahnya, pohon pinang itu tak seorangpun yang dapat mengambil buahnya. karena Pohon pinang tersebut di jaga oleh ular, kala, dan binatang berbisa lainnya.
Malem Diwa mendengar bahwa Putroe Aloeh mempunyai kuda terbang. Berjalanlah Malem Diwa menuju rumah Putroe Aloeh berniat untuk meminta kuda terbang tersebut. Setalah Malem Diwa mengutarakan maksudnya, Putroe Aloeh berkata, “ Jika kamu sanggup mengambilkan aku 3 buah pinang itu, maka kamu boleh menikahiku dan mengambil kuda terbangku,”katanya. Pada saat itu pulalah Malem Diwa menyanggupi persyaratan Putroe Aloeh. “ Baiklah, tapi selama saya mengerjakan tugas itu, kamu tidak boleh melihatku,” jawab Malem Diwa menyanggupinya.
Di saat Malem Diwa melaksanakan persyaratan itu, dia menyuruh kupu-kupu untuk mengalihkan perhatian Putroe Aloeh supaya tidak melihatnya ketika bekerja. Malem Diwa meminta rayap membuatkannya sebuah kursi untuk tempat duduknya. Kemudian ia menyuruh elang untuk mengangkat kursi yang ia duduki itu setinggi pertengahan batang pinang saja. Ia menyuruh tupainya untuk mengambilkan 3 buah pinang itu. sesampai di atas, tupai tersebut berkelahi dengan binatang penjaga pohon pinang itu. Tupai Malem Diwa terluka parah dan jatuh ke pangkuan tuannya. Malem Diwa kemudian mengobati tupainya dengan air kapur sirih sehingga bulu lehernya berubah menjadi warna merah. “ Katakan pada mereka bahwa engkau adalah utusan ku,” perintah Malem Diwa. “ Dan aku melakukan ini atas suruhan Putroe Aloeh,” tambahnya. Tupai Malem Diwa terus melompat mendekati pucuk pinang dan mengatakan amanah Malem Diwa kepada binatang-binatang penjaga pohon pinang itu. Akhirnya tupai Malem Diwa berhasil mendapatkan 3 buah pinang itu dan menyerahkan kepada tuannya.
Melihat Malem Diwa berhasil melaksanakan tugasnya, Putroe Aloeh dengan ikhlas menikah dan memberi kuda tebangnya kepada Malem Diwa. Setelah Malem Diwa menikahi Putroe Aloeh dan memperoleh kuda terbang, beliaupun terbang menuju kayangan untuk bertemu dengan istri pertamanya Putroe Bungsu. Malem Diwa tinggal bersama Putroe Bungsu di kayangan, sedangkan Putroe Aloeh tetap tinggal di bumi.
Setelah pohon pinang Putroe Aloeh kehilangan buahnya, tak lama kemudian pohon pinang yang sangat tinggi itu akhirnya tumbang. Batangnya membujur mengikuti aliran sungai Alue yang berujung di sebuah kuala Puloe Kayee. Inilah akhir dari kisah asal-usul Alue Sungai Pinang yang saya dapati.
Juga di kisahkan pada tahun 1980-an, di kuala Puloe Kayee terjadi suatu keanehan. Tiap ketika cuaca hujan panas, selalu terlihat bayang-bayang daun pinang berwarna kuning disekitaran kuala tersebut. Hal ini merupakan bukti dari sejarah Alue Sungai Pinang, Aceh Barat Daya.
Sumber:
• Masri (warga kampung Alue Sungai Pinang)
• Muslima (pewaris kisah kampung Alue Sungai Pinang dari neneknya, Almh. Safiyah)

 

Sumber: https://isminurfalinafaqad.wordpress.com/2012/06/25/sepenggal-kisah-alue-sungai-pinang-aceh-barat-daya-abdya/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Panduan Memahami Asal Usul Gresik:
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rambu Solo':
Ritual Ritual
Sulawesi Selatan

Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...

avatar
Kianasarayu