Berbagai khasiat dari tumbuh-tumbuhan, bahkan akar-akaran itu telah lama dibuktikan dan dipakai oleh orang pedalaman Kalimantan secara turun-temurun. Di Kalimantan memang kaya akan hasil hutan. Tidak hanya kayu yang bisa dimanfaatkan untuk bangunan perumahan, tetapi juga tumbuh-tumbuhannya yang berkhasiat dan bisa menjadi obat tradisional yang ampuh untuk mengobati bermacam-macam penyakit. Namun yang sangat disayangkan adalah bahwa tidak banyak potensi alam yang menguntungkan itu dipatenkan oleh orang kita, malahan salah satu andalan obat-obatan tradisional itu yaitu Akar Pasak Bumi lebih dulu diteliti oleh orang Amerika dan telah dipatenkan oleh mereka. Tentunya ini adalah suatu kerugian buat kita.
Selain akar Pasak Bumi yang mempunyai khasiat untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan mengobati sakit pinggang serta badan lesu, satu lagi ramuan tradisional Kalimantan yang terkenal dan bahkan telah dipasarkan di beberapa wilayah Kalimantan, khususnya Martapura Kalimantan Selatan. Obat tradisional itu bernama Saluang Belum. Saluang Belum mempunyai khasiat untuk meningkatkan gairah dan kekuatan laki-laki. Akar Saluang Belum ini pun cukup terkenal dan bahkan juga merupakan hasil alam kedua yang laris dan terkenal di pasaran setelah Pasak Bumi.
Ada istilah bahasa Banjar yang sering digunakan oleh penjual di banjar untuk menarik minat pembeli Seluang Belum. Katanya: “Akar Seluang Belum, satu lobang rasanya masih belum.” Maksudnya adalah karena ampuhnya khasiat akar Seluang Belum, tidak cukup satu istri untuk melayani gairah orang yang telah mengkonsumsi ramuan ini. Ada lagi istilah yang sering digunakan penjual, yaitu: Apabila ingin disayang istri, minumlah ramuan ini. Tapi, itu adalah istilah yang digunakan untuk menarik minat pembeli. Terlepas dari semua itu, yang jelas memang Akar Seluang Belum telah dibuktikan melalui beberapa penelitian.
Prof. DR. H. Ciptadi, Ketua Lembaga Penelitian Universitas Palangkaraya (Unpar) Kalteng mengatakan, “Setelah dilakukan penelitian dengan seksama, ternyata terdapat senyawa di dalam tumbuhan Seluang Belum yang mampu meningkatan vitalitas laki-laki. Pemanfaatan obat tradisional ini didapat hanya dengan merebus segelas air rendaman akar Seluang Belum ke dalam air panas dan airnya diminumkan cukup satu gelas sehari. Tidak boleh meminumnya secara berlebihan karena bila berlebihan bisa membahayakan kesehatan pula.” Tutur dosen senior Unpar yang juga lulus Magister (S2) Biokimia Institut Teknologi Bandung tahun 1991 ini.
Adapun khasiat dari akar Saluang Belum yang telah diyakini masyarakat selama bertahun-tahun lamanya dan menurut banyak penelitian :
-Mengobati lemah syahwat dan loyo diatas ranjang
-Memperpanjang durasi saat bercinta
-Terbuat dari tumbuhan alami 100% tanpa menggunakan zat kimia apapun
-Diproses dengan cara tradisional untuk menjaga kualitas hasilnya
-Aman digunakan, tanpa efek samping
Cara Pakai :
1. Ambil satu potong Saluang Belum, lalu bersihkan Saluang Belum dengan tisu / lap bersih (jangan menggunakan air)
2. Rebus dengan satu gelas air panas selama 3 - 4 menit
3. Setelah direbus, didinginkan terlebih dahulu, kemudian diminum, bila terlalu pahit, bisa dicampur dengan madu
Catatan :
Setelah dipakai, diangin-anginkan sampai kering lalu disimpan (setelah dipakai jangan dibersihkan dengan air)
Setiap potong Saluang Belum dapat direbus berkali-kali sampai terasa rasa pahit di air hampir habis / tidak terasa
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara