Sekali peristiwa, hati Petrus Huwae tergerak untuk pergi memancing.Selain pekerjaannya sebagai petani, Petrus juga bekerja sebagai nelayan, dan Petrus Huwae ini mulai memancing dari Namakoly dengan menggunakan perahunya. Arus dan angin sepoi-sepoi membawa dia perlahan-lahan hanyut sampai di tanjung Nusaniwe, negeri Latuhalat. Sementara Petrus memancing, dia mendengar ada bunyi tipa dan totobuang (alat musik tradisional dari Maluku) yang dibawa oleh angin sepoi-sepoi dari darat ke laut. Petrus Huwae terus memancing dan bunyi tipa-totobuang selalu mempengaruhi hatinya. Akhinya hati Petrus rindu untuk mengikuti bunyi tipa-totobuang itu. Dan Petrus bersama dengan perahunya singgah di pelabuhan yang namanya Kota Bello. Petrus menarik perahunya kedarat dan Petrus mengikuti bunyi tipa-totobuang tadi. Setelah tiba dilokasi dimana bunyi tipa-totobuang itu berasal, Petrus melihat ramai sekali jijaro dan mongare(jijaro=pemudi dan mongare=pemuda). Sementara itu Petrus tetap tinggal dan terua menonton. Sambil menonton, hati petrus tertarik kepada seorang jijaro Latuhalat yang namanya Costansa Lekatompessy. Sama halnya ketika Costansa melihat Petrus, hatinya rindu untuk berpacaran dengan Petrus. Pada saat itu, Petrus dan Costansa berbicara secara empat mata. Costansa mengeluarkan isi hatinya kepada Petrus dan sebaliknya Petrus kepada Costansa. Dan sementara berbicara, mereka berdua menentukan suatu waktu untuk mereka bertemu. Dalam pertemuan yang kedua ini, mereka langsung menentukan hari pernikahan mereka dan tanggal untuk Petrus maso minta(meminang) costansa. Selesai dari pertemuaan mereka, Costansa mencurahkan isi hatinya kepada orang tuanya. Akan tetapi, orang tua Costansa tidak menginginkan hal itu. Maka orang tua Costansa pergi berunding dengan keluarga Soplantila dan keluarga Latumeten mengambil meor sagu(pelepah sagu) untuk membuat patung menyerupai Costansa. Dan diputuskan, bahwa yang membuat patung ini ialah keluarga Latumeten, dan yanf membuat patung ini berjalan ialah keluarga Soplantila, hanya saja patung ini tidak bisa berbicara. Sekarang tibalah saatnya orang tua dari Petrus Huwae maso minta(meminang) Costansa untuk dibawa pulang ke negeri Allang. Setelah keluarga Petrus tiba di negeri Latuhalat menggunakan perahu yang cukup besar, dan masuk dirumah Costansa, mereka bersalaman, dan disambut oleh keluarga Costansa dan mereka dipersilahkan duduk. Mereka diberi kesempatan untuk berbincang-bincang selama 5 menit. Setelah selesai 5 menit, acara adat mulai berjalan. Dan didalam acara adat itu mereka berbicara sesuai dengan kerinduan dari Petrus dan Costansa. Dan setelah selesai acara adat ini, mereka keluar dengan satu keputusan, Petrus dan Costansa harus dibawa pulang ke negeri Allang. Sesampai di negeri Allang, saudara-saudara dan keluarga dari Petrus Huwae sudah menunggu ditepi pantai. Patung yang menyerupai Costansa ini tidak diketahui oleh Petrus. Dari tadi patung meor sagu yang menyerupai costansa tidak berbicara. Lalu Petus kepada Costansa, "hai Costansa, sisir rambut deng bada biking ose bagus-bagus, sebab beta keluarga su tunggu ni". Petrus mengatakan itu kepada Costansa sebanyak 3 kali. Tetapi tingkah Costansa biasa-biasa saja. Disitulah Petrus marah dan manampar Costansa yang dalam hal ini patung meor sagu. Maka kepala patung itu patah dan jatuh disebuah kolam, dan kepala itu berubah menjadi buaya. Dan kolam itu disebut "tilau huwae", yang artinya kolam buaya. Pada saat itu juga, Costansa meninggal di Latuhalat. Dan ada seekor buaya berdiri di depan pintu rumah Costansa, seakan-akan buaya iti bertanya, " Costansa ada dimana?". Pada waktu kematian Costansa itu, negeri Latuhalat itu heboh atas kematian Costansa. Pemerintah negeri, sarini dan tua-tua adat di negeri Latuhalat melakukan rapat, dan mereka keluar dengan satu keputusan ialah dengan turun meminta ampun kepada negeri Allang. Sesuai hari dan tanggal yang ditentukan, mereka turun ke negeri Allang. Mereka disambut oleh pemerintah negeri, sarini dan tua-tua adat yang ada di negeri Allang. Dan dalam pertemuan tersebut, mereka keluar dengan satu keputusan. Keputusannya ialah selama orang Allang dan orang Latihalat masih hidup didunia ini, mereka tidak boleh kawin-mengawin(menikah) satu dengan yang lainnya. Kalau ada yang mencoba untuk kawin-mengawin, akibatnya mereka nantinya akan mati atau meninggal.
Hubungi call center resmi Pinjam Flexi (0857) 58337054 atau CS Pinjam Flexi (0831)69265049 dan melalui email cs@pinjamflexi.id. layanan customer service Pinjam Flexi dapat dihubungi Senin-Minggu pukul 08:00-23:00 WIB.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara