Jika anda menyusuri kampung-kampung di Surabaya, sesungguhnya kota ini awalanya berdiri karena kumpulan dongeng-dongeng. Cerita rakyat yang ditularkan melalui tradisi lisan ini kelak menjadi penanda banyak tempat yang terangkai menjadi sebuah kota.
Saya menemukan sebuah batu ceper yang menyembul diantara bangunan baru kawasan Puskesmas Banyuurip sekitar delapan tahun lalu. Saya mendapatkan informasi keberadaan batu ini dari sebuah tulisan kumpulan kisah cerita rakyat Surabaya yang ditelusuri sejumlah budayawan Surabaya antara 1980-1983.
Batu serupa lingga dan yoni itu nyatanya memiliki kisah yang panjang tentang kawasan Banyuurip dan daerah Simo. Kisah yang kelak paling tersohor dalam epos cerita ludruk, “Batu ini ditemukan Joko Jumput yang kemudian dihadiahkan ke ibunya, Mbok Rondo Praban Kinco untuk dipakai membuat jamu. Jamu buatan Mbok Rondo ini diyakini tambah mujarab karena batu ini,” terang Supardi, seorang warga kelahiran Banyurip yang menulari cerita ini dari kakek buyutnya.
Namun sejak tiga tahun terakhir, Supardi harus rela minggir ke Sidoarjo karena rumahnya tergusur bangunan toko. Tetapi hampir sebulan sekali dirinya selalu mampir ‘menjenguk’ batu yang konon keramat ini, Dari fakta sebuah batu, saya mencoba menelusuri ihwal nama Banyuurip. Cerita Supardi hanya menjadi pembanding dari banyak cerita tentang asal-mula Banyurip yang saya jahit menjadi catatan ini. Tidak ada kisah tertulis yang menerangkan daerah ini.
Kisah ini konon diawali dari persaingan cinta antara Pangeran Situbondo, putra Adipati Cakraningrat dari Sampang dengan Pangeran Joko Truno putra Adipati Kediri. Keduanya berlomba merebut Raden Ayu Probowati, putri Adipati Surabaya.
Probowati mengajukan syarat berupa kesanggupan sang calon untuk mbabat alas (membuka hutan. Red). Syarat yang jamak dilakukan pada setiap sejarah awal kekuasaan tradisional, Pengeran Situbondo digambarkan adalah seorang kesatria yang kakinya cacat namun kemampuannya pilih tanding. Joko Truno yang merasa kalah sakti dengen Situbondo, meminta bantuan Joko Jumput, seorang anak penjual jamu dari kampung Praban.
Joko Jumput inilah yang kelak menjadi lelaki ketiga dalam persaingan Situbondo dan Truno. Yang paling kental adalah cerita Raden Situbondo pembuka hutan kawasan Kupang. Daerah ini ditemukan banyak kulit kerang alias kupang yang menggunung yang dijuluki Kerajaan Kupang, nama ini belakangan disederhanakan menjadi Kupang Kerajan.Sejarah kampung Simo tidak lepas dari legenda Banyuurip. Lokasinya dua kampung ini yang bertetangga, menjadikan cerita legenda ini akan mengalir.
Namun Saya perlu mengingatkan kembali kisah legenda Banyuurip yang terpenggal kemarin. untuk kemudian menuju barat di Simo, Kembali cerita perjalanan Raden Situbondo yang pembuka hutan kawasan Kupang. suatu saat daerah ini ditemukan banyak kulit kerang alias kupang yang menggunung yang dijuluki Kerajaan Kupang, nama ini belakangan disederhanakan menjadi Kupang Kerajan.
Suatu saat, Situbondo bertemu Joko Jumput dalam sebuah pengembaraan di kawasan ini. Terjadilah perkelahian yang melelahkan diantara keduanya. Situbondo kemudian dapat dikalahkan. Raden yang bernama asli Pengeran Aryo Gajah Situbondo itu ditemukan sekarat dan mencapai sebuah daerah bernama Kedung Gempol.
Karena bisikan gaib, Raden Situbondo meminum air kali yang mengalir ke kedung alias waduk daerah ini. Situbondo akhirnya tidak jadi meninggal dan kelak kawasan ini dinamakan Banyuurip atau air kehidupan, Inilah kisah rakyat terpopuler diantara puluhan cerita rakyat yang besar di Surabaya. “Di lokasi batu inilah konon tempat Kedung Gempol itu berada. Batu ini menjadi punden Banyuurip dan lambang kemakmuran,” terang hadi Suroto, warga Banyuurip wetan di lahan puskesmas banyuurip.
Kisah Raden Situbondo masih berlanjut dengan menyusuri sungai Banyurip menuju barat. Ketika dirinya mulai berjalan kira-kira tiga kilometer dari Kedung Gempol, Situbondo bertemu singa jadi-jadian dari jenis jin bernama trung. Singa itu kemudian berhasil dihalau. Situbondo memesankan warga agar kelak kawasan ini dinamakan Simo Katrungan alias singa dari jin trung.
Perjalanan menuju barat, semakin tidak aman, dia menemukan banyak singa. Namun belakangan singa tersebut justru kaget bertemu Situbondo. Ulah singa yang lari terbirit-birit itu disaksikan banyak warga setempat. Mereka menjuluki daerah yang singanya lari terbirit-birit itu dengan nama Simo Kwagean. Karena di dalam bahas Jawa lawas dua kata itru artinya Singa lari terbirit-birit.
Tidak jelas akhirnya, Raden Kusuma Ning Ayu Probowati, menikah dengan siapa, agaknya fantasi penduduk setempat membuat cerita versinya sendiri sendiri. Yang disepekati adalah upacara sederhana sambil membuka hutan terakhir di tanah paling selatan Surabaya yang bernama Wonokromo alias hutan perkawinan. Kekuatan kisah singa pengganggu Situbondo ini sempat dihadirkan oleh warga simo di era 1990-an dengan membangun patung singa di setiap mulut gang.
Sumber: https://cakranusantara.wordpress.com/2012/10/31/sejarah-kampung-banyuurip/
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...
Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun ide jualan. Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu...
Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...
Sumber daya air merupakan sebuah unsur esensial dalam mendukung keberlangsungan kehidupan di bumi. Ketersediaan air dengan kualitas baik dan jumlah yang cukup menjadi faktor utama keseimbangan ekosistem serta kesejahteraan manusia. Namun, pada era modern saat ini, dunia menghadapi krisis air yang semakin mengkhawatirkan (Sari et al., 2024). Berkurangnya ketersediaan air disebabkan oleh berbagai faktor global seperti pemanasan, degradasi lingkungan, dan pertumbuhan penduduk yang pesat. Kondisi tersebut menuntut adanya langkah-langkah strategis dalam pengelolaan air dengan memperhatikan berbagai faktor yang tidak hanya teknis, tetapi juga memperhatikan sosial dan budaya masyarakat. Salah satu langkah yang relevan adalah konservasi air berbasis kearifan lokal. Langkah strategis ini memprioritaskan nilai-nilai budaya masyarakat sebagai dasar dalam menjaga sumber daya air. Salah satu wilayah yang mengimplementasikan konservasi berbasis kearifan lokal yaitu Goa Ngerong di kecamatan Rengel,...
Kelahiran seorang anak yang dinantikan tentu membuat seorang ibu serta keluarga menjadi bahagia karena dapat bertemu dengan buah hatinya, terutama bagi ibu (melahirkan anak pertama). Tetapi tidak sedikit pula ibu yang mengalami stress yang bersamaan dengan rasa bahagia itu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tentang makna dari pra-kelahiran seseorang dalam adat Nias khusunya di Nias Barat, Kecamatan Lahomi Desa Tigaserangkai, dan menjelaskan tentang proses kelahiran anak mulai dari memberikan nama famanoro ono khora sibaya. Metode pelaksanaan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode observasi dan metode wawancara dengan pendekatan deskriptif. pendekatan deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan fakta sosial dan memberikan keterangan yang jelas mengenai Pra-Kelahiran dalam adat Nias. Adapun hasil dalam pembahasan ini adalah pra-kelahiran, pada waktu melahirkan anak,Pemberian Nama (Famatorõ Tõi), acara famangõrõ ono khõ zibaya (Mengantar anak ke rumah paman),...