Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Tengah Banyumas
Sejarah Desa Pasir Wetan
- 13 Juli 2018

Kerajaan Pasir Luhur / Kadipaten Pasir Luhur dinyatakan sebagai kerajaan Galuh yang merdeka karena tidak dibawah kekuasaan kerajaan lain baik Sunda (Pajajaran) maupun Majapahit. Pasir luhur dan Pajajaran terdapat hubungan kekerabatan, Pasir Luhur berada di posisi lebih tua dibandingkan dengan Pajajaran. Sejarah mengenai Babad Pasir Luhur dan Silsilanya ada 21 Versi Babad Pasir yang masih bertahan namun banyak teks Babad Pasir Luhur yang hilang, rusak atau tidak lolos seleksi alam karena tidak terpelihara dengan baik, tidak mendapat tanggapan pembaca, dan tidak disalin ulang. Pelacakan kembali terhadap teks-teks Babad Pasir Luhur dari berbagai scriptoria akan menambah khasanah karya-karya historiografi tradisional dari masyarakat Banyumas.

Versi Tembang

Versi Kedua adalah Versi Hardjana (1985) yang diterbitkan oleh Balai Pustaka Dan versi-versi lainnya.

Versi Gancaran atau Prosa meliputi empat Versi, yaitu (1)  Versi Kedhungrandhu, dengan judul Babad Pasir Luhur, (2) Versi Wigno A dengan judul Babad Pasir (Raden Kamandaka), (3) Versi Wigno B dengan judul Lajang Raden Kamandaka ija Lutung Kasarung, dan (4) Versi Kartosoedirdjo dengan judul Babad Noesa Tembini.

 Nama Banyak Catra yang sangat dikenal para pembaca Teks Babad Pasir juga dikenal dalam masyarakat sunda dan disebut sebagai salah satu pantun terpenting dalam Teks Sunda  Kuna Sanghyang Siksa Kanda Ing Karesian yang berasal dari tahun 1518 Masehi , yaitu Langgalarang, Banyak Catra, Siliwangi, dan Haturwangi.

Kemudian Raden Kamandaka menikah dengan Dewi Cipta Rasa dan dinobatkan sebagai Adipati Pasir Luhur menggantikan Ayah Mertuanya Adipati Kandha Daha. Silsilah yang ditulis oleh M. Siradj  dan juga R. Soemarko Adhisaputro yang disalin oleh R. Budi Sasongko sebagai berikut :

Dewi Cipta Rasa ( Putri Bungsu)

Raden Banyak Catra ( Raden Kamandaka)

Raden Banyak Wirata

Raden Banyak Roma

Raden Banyak Kesumba

Raden Banyak Belanak / Patih Purwakencana (Pangeran Senopati Mangkubumi I)

Raden Banyak Geleh / Patih Wirakencana (Pangeran Senopati Mangkubumi II)

 Pasir Bathang

Pasir Astana

 

Pangeran Senopati Mangkubumi II / Patih Wirakencana ( 1525 – 1549)

Pangeran Perlangon (1549 – 1581)

Pangeran Langkap ( Zaman Pajang & Mataram, Pasir Astana, 1581 – 1601)

Entol Purwakesuma (Panembahan Kaloran)(1601 – 1648)

Wiranaya (1601) Demang I

Nyi Permade (Istri Kiai Ng. Singapatra) di Kartanegra

Entol Purwadita (1648 – 1705)

Wiratruna Demang II

Kiai Ng. Mertapura diKertanegara

Entol Purwanangga (1705 – 1782)

Nayatruna Demang II

Kiai Ng. Singanegara di Kertanegara

Kiai Purwadiwangsa (Maryan I ) (1782-1825)

Nyai Maryam (Kiai Husen) (1821-1831)

Nayadita

Kiai Ng. Singawijaya di Kertanegara

Kiai Purwadipa (Maryan II) (1825-1840)

Nyai Nurhakim (1831-1850)

Bangsarudin

R. Ng. Muh Tahjudin

Kiai Khusen (Maryan III) (1840-1881)

M. Nurahman I (1850-1871) Mertua Kiai Noer Chakim (1818-1891)

Ahmad Anom

Sutawirya (1821-1840)

M. Wahidun(Ranayuda I) (1881-1912)

M. Wirasari (Nurahman II)

(1871-?)

Yudadikrama

Sutadikrama I (1840-1877)

M. Markus (Ranayuda II) (1912-1927)

M. Nurahman III

Danudimeja

Sutadikrama II (Chamilin) (1877-1898)

R. Soepardiman Yoedosaputro Blengur (1927-1945)

M. Mulyadimeja (Nurahman IV) (?-1919)

Danu Supraja

Sutadikrama III (M. Sudana) (1898-1901)

 

M. Lindu Abdullah (Nurahman V) (1919-1950) Kepala Desa I (1950-1963)

Soedardja

R. Abdullah (1901-1945)

 

Wangidin  Kepala Desa II (1963-1989)

Oemar (1935-1945)

 

 

Sutarman Kepala Desa III (1990-1995)

 

 

 

Sukamto Kepala Desa IV (1998-2006)

 

 

 

Chadjirin Kepala Desa V (2007 – 2013)

 

 

 

Hj. Endriyani Kepala Desa VI (2013 – sekarang)

 

 

PASIR KULON

PASIR WETAN

PASIR KIDUL

PASIR LOR

Pasir Wetan

1. Nyai Maryam (Demang Wanita)

2. Nyai Nurhakim (Demang Wanita)

3. Demang Nurahman I

Demang Nurahman I mempunyai anak sebagai berikut : (1) Kiai Demang Wirasari (Nurahman II) (2) Nyai Surya Muhammad (3) K. Tjandradipa (Penatus Dawuhan Wetan) (4) Mas Ajeng Sarwati (Istri Bupati Padang) (4) Mas Ajeng Demang (dimakam)

Demang Nurahman II dikenal juga dengan nama Demang Wirasari adalah anak dari Demang Nurahman I atau Cucu Kiai Nurhakim I. Demang Nurahman II dilahirkan dari Ibu yang berasal dari Gumelem. Mempunyai anak sebagai berikut : (1) Ibu Penatus Grendeng, (2) Kiai Demang Nurahman III (3) Mas Kramawidjaja (4) Mas Udadrana (5) Mas Kramajuda (6) Mas Madahir (7) Mas Reksa (Ciamis) (8) Mas Ajeng Djajawirana (9) tidak dikenal namanya hanya keturunannya yang terdeteksi yaitu yang menurunkan Bu Sawinem (Bu Sanpeki)

Demang Nurahman III adalah anak dari Demang Nurahman II mempunyai anak sebagai berikut : (1) Bu Lurah Karangwangkal (2) Bu Madikram (Ibu Pengulu Sepuh)/Ibu Kramajuda) (3) Bu Tjitraleksana (Bu Lurah Karangtalun Kidul - Purwajati) (4) Demang Mulyadimedja (5) Pak Nurjasemita (Bau Kebocoran) (6) Bu Lurah Karangsalam (7) Bu Hajjah Nurjareja (8) Bu Nurjasidin (9) Bu Lurah Klahang (Sokaraja) (10) Pak Dipawikarta (Demang Wakil) (11) Bu Nurjasentika (12) Pak Martasentika (13) Pak Ratiman Martotaruno (Mantri Alas Djawa Wetan) (14) Pak Atmaredja (Kebocoran) (15) Pak Sanwireja (16) Pak Nurjawikarta (Ahli Batik) (17) Pak Reksa (Bau Gendon Djogreg) (18) Bu Hajjah Dulsalam (Pasir Kulon) (19) Bu Lurah Dawuhan Kulon (20) Bu Murjawidjaja (21) Pak Bugel (Carik Karangtengah – Sokaraja) (22) Pak Kartun Tawireja (Pesawahan) (23) Bu Saminem (Bau Muntang Baturaden) (24) Pak Wirjadimedja (Tjarik/Lurah Karangpule – Karangsalam) (25) Pak Guteng (26)  Bu Samijem (Carik Kedunglemah) (27) Pak Partosumarto (Wafat 3-9-1977)

Demang Muljadimedja  mempunyai keturunan 19 dari 6 Istri yaitu :

b. Ibu Wasem : M. Lindu, M. Dullah, M. Hamid, Bu Lirin, Bu Prihati, M Sugara, M. Sidik

d. Ibu Dijem : M Ayat (Subroto), M. Sum

f. Ibu Saiwen : M. Tapsir, Bu Sariti, Bu Truti, Bu Roliyah

Anak-anak Demang Nurahman V meliputi : (1) Raden Nganten Supartinah (2) Raden Supraptomo (3) Raden Sugiyarto. Demang Lindu termasuk demang yang dicintai rakyatnya, oleh penduduk disebut Suci Rahayu dan mempunyai kekuatan Supranatural. Yang berkat sentuhan jari tengahnya bisa menyembuhkan orang sakit. Demang Lindu adalah Demang terakhir Pasir Wetan (1919 – 1950) setelah Perdikan dihapus oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan Undang-Undang No. 13/1946, namun Demang Nurahman V (Lindu) dipilih oleh rakyatnya untuk menjabat Lurah atau Kepala Desa Pasir Wetan (1950-1963).

Wangidin adalah Kepala Desa kedua setelah Lindu Abdurrahman dan Kepala Desa pertama Pasir Wetan yang bukan dari keturunan Demang Nurahman (rakyat biasa). Dan terhitung cukup lama menjadi Kepala Desa Pasir Wetan yaitu 26 tahun.

H. Soetarman HS menjadi Kepala Desa Pasir Wetan hanya berlangsung 5 tahun yaitu 1990-1995 kemudian mengundurkan diri. Karena kekosongan Kepala Desa maka diangkatlah Chadjirin ( Kadus) menjadi Penjabat Sementara Kepala Desa sampai dengan Pemilihan Kepala Desa yang Baru.

H. Sukamto menjadi Kepala Desa Pasir Wetan selama 8 Tahun. Ia adalah adik dari H. Harnoto seorang Tokoh di Pasir Wetan yang sukses dalam mengembangkan industri di Pasir wetan dan juga tokoh dalam keagaman khususnya organisasi Nahdlatul Ulama.

Chadjirin menjadi kepala Desa selama 6 tahun, ia adalah putra dari seorang Ibu anak Perempuan dari Pak Suwarno. Pak Suwarno putra dari Ibu Pengulu Sepuh Madikram. Ibu Madikram Putri dari  Demang Nurahman III. Berarti Chadjirin masih Canggah dari Demang Nurahman III. Dan terhitung tiga kali menjadi Pejabat Sementara Kepala Desa Pasir Wetan yaitu periode 1989-1990, 1995-1997, dan 2006-2007.

Hj. Endriyani menjadi kepala Desa Pasir Wetan dari tahun 2013 hingga sekarang. Dilahirkan di Kediri pada 14 September 1961 dari Ayah Bp. Kodrat Soepeno dan Ibu Sumiati. 

Sumber: http://pasirwetan.karanglewaskec.banyumaskab.go.id/news/16293/sejarah-desa-pasir-wetan#.W0gifNIzbIU

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu